BELAJAR TOLERANSI DARI KEHIDUPAN SANTRI

Risma Dwi Fani*

0
467
MENYIMAK: Diskusi bersama santri putra dan putri Pesantren Cadangpinggan Kab, Indramayu.

Gemerlap cahaya obor menghiasi serangkaian acara peringatan hari santri, yang jatuh pada tanggal 22 Oktober kemarin. Tidak melupakan sejarah perjuangan para santri di masa perjuangan merebut kemerdekaan menjadi motivasi tersendiri dalam menyebarkan pesan damai kepada seluruh masyarakat. Pemandangan yang beragam membuat mata dimanjakan oleh senyum ceria penerus bangsa dengan mental religiusnya. Hitam dan putih sebagai seragam yang digunakan dalam pawai obor sebagai penggambaran hati yang selalu terbolak-balik.

Memahami Sejarah Dari Ulama-Santri

Tahun 2015 lalu tepatnya tanggal 22 Oktober Presiden Joko Widodo menetapkan hari santri sebagai apresiasi perjuangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Diantaranya ialah Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Ahmad Dahlan, dan lainnya yang memiliki andil besar perjuangan kemerdekaan. Memperkuat semangat kebangsaan, mempertebal rasa cinta Tanah Air, dan memperkuat tali silaturahim sebagai tujuan penetapan hari santri di masjid Istiqlal tahun lalu. Semangat tersebut juga sebagai upaya menyatukan keberagaman agar menjadi Indonesia yang satu.

Sejarah pula mengungkapkan besarnya peran ulama dan santri untuk mendapatkan kemerdekaan. Penetapan hari santri tersebut juga merujuk pada keluarnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang memantik terjadinya peristiwa heroik 10 November 1945. Resolusi Jihad ialah seruan ulama santri yang mewajibkan muslim Indonesia untuk membela tanah air dan mempertahankan NKRI. Pokoknya, NKRI harga mati!!.

Indonesia Bhineka, dan tidak melupakan sejarah para pendahulu yang telah merebut merdeka dari tangan penjajah. Para santri di masa itu bekerja sama dengan pendeta dan tokoh agama lain dengan tujuan satu yaitu merdeka. Tidak ada alasan bagi mereka untuk saling berkemelut hanya karena beda kepercayaan. Berawal dari sejarah dan belajar dari sejarah memuat perkataan Soekarno yang mengobarkan api semangat “JASMERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Upaya mengenalkan sejarah bangsa Indonesia pun menjadi salah satu kajian dalam program Sekolah Cinta Perdamaian (SETAMAN) yang di motori oleh fasilitator muda sebagai agen penyebar Cinta Damai di setiap bagian masyarakat. Pembagian wilayah dalam menyebarkan pesan damai pun merupakan upaya terbaik agar pesan damai tidak stagnan di satu wilayah. Indramayu khususnya, dalam pelaksanaan SETAMAN angkatan 1,2, dan 3 dilaksanakan di Pondok Pesantren, hal ini sebagai upaya penyebaran pertama melihat santri memiliki andil besar jika hidup di masyarakat.

Siapa Itu Santri?

Pengalaman organisasi santri di pondok pesantren, memberi pengaruh besar dalam pemahaman identitas sebagai makhluk yang berbeda. Dalam satu kamar saja terdapat lebih dari puluhan karakter dalam diri satu orang, sedangkan hidup sepuluh orang dalam satu kamar tersebut. Dapat diperkirakan sekitar berapa karakter yang terdapat dalam ruangan bernama kamar. Belum lagi, dalam satu pesantren yang terdapat ratusan bahkan ribuan santri yang tinggal.

Definisi santri menurut Dr. Zamakhsyari Dhofier, mengutip A.H. Johns, mengungkapkan bahwa kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci. Clifort Geertz juga mengungkapkan pengertian bahwa kata santri berasal dari bahasa sansekerta ‘shastri’ berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, sehingga dalam pemaknaan bahasa modern terbagi dua pengertian yaitu arti sempit dan arti luas. Arti sempit santri ialah pelajar yang menempuh pelajaran di sekolah agama, biasa disebut pesantren, sedangkan dalam arti luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam secara sungguh-sungguh.

Tradisi  pesanntren bukan berasal dari system pendidikan Islam di Makkah, melainkan dari Hindu dengan melihat sistem pendidikan agama, guru tidak dibayar tapi diberi penghormatan yang sangat besar, ungkap Soeganda Poerbakawatja. Selain itu Nurkholis Madjid meyakini bahwa kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa Sansekerta Jawa), yang berarti orang yang mengikuti guru.

Oleh karena itu, santri ialah seorang yang mampu hidup dilingkungan heterogen dengan pengajaran guru dalam mempelajari ilmu agama dan penguatan individu menerapkan Iman, Islam dan Ihsan. Metode pembelajaran dilakukan dengan berbagai cara, santri diharapkan mampu bersaing tidak hanya dengan teman seperjuangannya melainkan ketika telah dilepas dan hidup di masyarakat luas.

Santri Indramayu Belajar Toleransi di SETAMAN

“Pembelajaran yang menyenangkan, berbeda dengan ngaji kitab di pondok  biasanya”, ungkap salah satu peserta di SETAMAN Kab. Indramayu. Dengan nada semangat peserta yang lain menanggapi ucapan temannya dalam sebuah obrolan kecil diluar pembelajaran. Proses kreativitas yang dilaluinya dalam menyampaikan ide-ide kreatif ebagai upaya menyebarkan pesan damai ke seluruh penjuru dunia. Yang namanya mimpi harus tinggi, tapi tentu harus dibarengi juga dengan kerja yang gigih.

Metode SerSan (serius tapi santai) dalam pembelajaran memantik antusiasme jiwa muda yang masih berkembang. Delapan sesi pembelajaran dengan materi yang berbeda dan fasilitator yang berbeda tapi memiliki satu tujuan yaitu memahami kebhinekaan Indonesia sebagai identitas diri. Memahami konflik yang sebaiknya diresolusi dengan cara terbaik sebagai pilihan. Memahami sejarah Indonesia yang sejak SD sudah dicekoki dengan materi umumnya, namun belum menjelaskan secara detail siapa yang ada di dalamnya. Peran serta para ulama dan santri dalam memperjuangkan NKRI, peran tokoh agama lain yang seiring berjalan bersama ulama dalam memerangi tangan dingin penjajah.

Bertempat di Pesantren Cadangpinggan Kab. Indramayu, pimpinan KH Syakur Yasin, dengan pesertanya para santri yang pemikirannya bermacam-macam, ada yang masih sempit dan tidak menerima perbedaan dan adapula pemikiran yang telah dibuka dan sangat welcome terhadap perbedaan. Bermain dengan teman yang memiliki agama yang berbeda terkadang menjadi kendala bagi yang memiliki pemikiran sempit, sehingga SETAMAN dengan metodenya menyebarkan hal lain di luar sekolah formal untuk dipelajari secara mendalam pula.

Memahami identitas yang berbeda, contoh yang dihadirkan tidak perlu jauh-jauh yakni dilihat dari perkumpulan dalam satu kelas yang memiliki hobby berbeda dan kesukaan yang berbeda. Namun, dibalik itu jika satu kelas tersebut terdapat pula kesukaan yang sama satu dengan lainnya, begitupun identitas walaupun memiliki wajah yang berbeda identitas yang disandangnya jika di pesantren ialah santri. Berawal dari pemahaman identitas inilah para santri belajar apa pentingnya toleransi dan memahami satu dengan lainnya, untuk menghindari konflik yang dapaat disulut hanya dengan api kecil saja.

Berlanjut pada pembelajaran sejarah yang nyatanya sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia yang sudah numpang lahir dan makan dari tanah subur ini, banyak sekali yang lupa akan sejarah perjuangan orang-orang zaman dulu dengan bercucuran darah. Siapa-siapa saja yang berjuang terkadang dilupakan dan dianggap tidak penting. Maka dari itu, melalui pemahaman sejarah masing-masing individu belajar menghargai sebuah masa lalu yang tidak mesti harus dilupakan. Namun, ada juga yang pembalajaran yang diambil dari sejarah itu yakni toleransi dan saling menghargai dalam sebuah perjuangan demi mencapai satu tujuan bersama.

Toleransi sangat penting bagi kehidupan, baik itu di pesantren maupun di masyarakat ketika telah keluar dari pesantren. Toleransi merupakan sebuah hukum sebab akibat, yang apabila menghina satu saja karya orang lain maka suatu saat dirinya akan mengalami hal yang sama,

*Penulis adalah Fasilitator SETAMAN Kab. Indramayu