Buya Husein: Mendorong Pemuda Untuk Aktif Membaca dan Berdiskusi

0
443
Buya Husein (kiri) sedang menyampaikan isi buku terbarunya Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi di depan para mahasiswa sekaligus Launching Kedai ad Dahil di kawasan Majasem Kota Cirebon, Sabtu (8/4)

Fahmina.or.id, Cirebon. Anak muda hendaknya mengisi waktu tidak hanya sekadar kumpul saja, tetapi harus ada hal posistif lain seperti diskusi. Hal itu diungkapkan KH Husein Muhammad dalam acara bedah buku terbarunya di Café Addakhil di kawasan Majasem Kota Cirebon, Sabtu malam (8/4). Dalam kesempatan itu ia meluangkan waktunya untuk duduk bersama mashasiswa dan ikut mendorong para pemuda terutama mahasiswa agar aktifitasnya diisi dengan membaca dan berdiskusi.

Ia menyampaikan keperihatinannya terhadap minat baca masyarakat yang rendah terutama para mahasiswa. Karena menurutnya pada masa muda inilah yang tepat untuk mengasah kemampuan terutama dalam bidang akademik untuk mempersiapkan kehidupan masa depan yang lebih cemerlang. Untuk memotivasi para mahasiswa yang hadir, Buya Husein tak lupa memberikan contoh salah satunya  guru bangsa Almagfurllah KH Abdurrahmsan Wahid atau Gus Dur yang merupakan teman karibnya semasa hidup. Ia menceritakan bahwa aktifitas Gus Dur selama hidup adalah membaca dan berkarya.

“Indonesia saat ini termasuk salah satu negara terendah dalam hal  minat bacanya dibandingkan dengan negara lain yang maju. Dalam beberapa buku saya yang dicetak  menceritakan tentang sosok Gus Dur di antaranya Sang Zahid dan Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, saya menyampaikan betapa sepanjang hidupnya Gus Dur hidupnya dengan membaca,” kata pengasuh Podok Pesasntren Dar at Tauhid itu.

Buya Husein juga mengatakan salah satu alasan sampai saat ini ia rajin menuliskan idenya. Ia mengatakan dalam hidupnya ingin meninggalkan sesuatu yang dapat hidup selamanya yaitu sebuah karya yang bisa ditransformasikan terhadap khalayak banyak tentang pengetahuannya. “ Saya ingin meninggalkan sesuatu yang dapat hidup selamanya yaitu sebuah karya yang dapat dibaca oleh semua orang salah satunya dengan menulis,” terangnya.

Salah satu buku terbarunya yaitu berjudul Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi Muhammad SAW. Dalam buku ini Buya Husein menyampaikan banyak hal terkait sejarah. Peristiwa dan hal-hal yang unik dan menakjubkan yang dialami oleh nabi dari berbagai sumber otoritatif.

“Di dalam buku ini mengisahkan bagaimana nabi hidup di tengah keluarga yang sederhana, seorang yatim, yang tinggal di negeri yang begitu tandus namun beliau menunjukkan dirinya sebagai seorang yang mampu merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang maju.  Nabi adalah tokoh supra revolusioner. Ketika Nabi dalam waktu yang singkat mampu menyusun deklarasi tentang sistem negara yang merupakan cikal bakal negara bangsa yang memunculkan dasar-dasar kemanusiaan yang disebut dalam piagam madinah,” terangya.

Selain itu menceritakan bagaimana sosok nabi bukan seorang yang pendendam meskipun diperlakukan dengan tidak layak oleh musuh-musuhnya. Beliau juga sangat sayang dan cinta kepada umatnya yang ditunjukkan dalam peristiwa isra dan mikraj yang memilih untuk kembali menyampaikan risalah kepada umatnya meski telah bertemu dengan Sang Kekasihnya. Serta kisah lain yang sering diperingati hari besarnya oleh umat Islam di Indonesia dan dunia dengan penyampaian yang ringan dan mendalam.

Sementara itu selaku pembedah Dr. Abdul Aziz M. Ag, mengatakan buku ini bersuha memunculkan pemikiran yang segar dan bermakna. Ia melihat ada keresahan penulis terhadap perayaan yang dilakukan oleh umat selama ini ada kekosongan cenderung kering dari pemaknaan.

“Perayaan Islam saat ini yang digelar setiap tahunnya hanya pada tataran kulitnya saja. Untuk mengisi kekeringan ini Kiyai Husein tergerak menulis buku ini untuk mengisinya,” ungkap Dekan III Fak. EPS IAIN Senja Cirebon.

Ia juga berharap buku ini dapat menjadi asupan yang baik untuk penguatan pemahaman terhadap sejarah kenabian dan dapat memaknai setiap perayaan-perayaan kaum muslimin di Indonesia lebih mendalam dan dapat diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Keteladan rasul tak dapat difahami jika kita tidak membaca dan memahaminya dari berbagai referensi, salah satunya buku Kyai Husein ini,” pungkasnya.