Ghuraba: Komunitas Para Peneliti Muda

Oleh: Zain Al Abid

0
597
PEGIAT: Para pegiat Ghuraba berswafoto di depan Joglo .

Dalam sepuluh tahun terkahir nyaris tidak muncul pemikir progresif yang mendobrak kemapanan kelas dan ketimpangan  sosial yang menonjol. Begitupun geliat para pemuda atau mahasiswa yang konsen pada isu-isu yang bersifat filosofis, teoritis serta konspetual sangat jarang ditemui, utamanya di Cirebon. hal itu diungkapkan pendiri Komunitas Ghuraba Marzuki Wahid, saat ditemui dikediamannya awal September 2016 lalu.

Ia menilai pergerakan atau aksi  yang dilakukan mahasiswa hari ini, hanya bersifat seremonial dan praktis saja, tanpa adanya refleksi yang dapat ditarik menjadi kajian yang sungguh-sungguh secara akademis.

Hal inilah yang mendorong Bang Jeki, sapaan akrabnya Marzuki Wahid, untuk membentuk wadah yang konsen pada kajian-kajian yang bersifat teoritis, filosofis dan konseptual itu. Ia merangkul kawan-kawan muda dari berbagai latar belakang dan profesi termasuk mahasiswa.  Ia mendirikan komunitas kajian ilmiah Ghuraba tepat  pada tanggal 2 januari 2016 lalu.

Ghuraba sendiri merupakan sebuah komunitas yang dibangun bersama-sama untuk melakukan berbagai kajian teoritis dan penelitian-penelitian tentang masyarakat. Hal itu diilakukan berdasarkan kesadaran bahwa teori murni tanpa landasan realitas adalah kosong belaka. Sementara riset empiris tanpa teori adalah buta. Oleh karenanya segala penelitian harusnya dilakukan dengan tidak memisahkan antara riset empiris dan teoritis.

Memahami Dasar-Dasar Teori Sosial

Sebagai langkah awal dari komunitas yang masih sangat muda ini, saban Sabtu sore di Rumah Joglo KH. Marzuki Wahid, mereka berkumpul dan mendiskusikan teori-teori sosial dari buku Teori Sosiologi, karya George Ritzer. Mereka beralasan, buku ini dipilih karena cukup lengkap dari teroi klasik sampai kontemporer dan ada sajian nuansa hari ini tentang globalisasi, feminisme , radikalisme dan juga isu demokrasi dan HAM.

“Prinsipnya semua disiplin ilmu itu hidup di tengah masyarakat, semestinya kita dapat memahami dan mengerti bagaimana realitas sosial itu terbentuk, berinteraksi, berkemang dari waktu kewaktu. Itu semuanya sudah pernah dibahas oleh para sosiolog. Karena itu teori sosiologi menjadi sangat relevan untuk siapapun,” jelas Bang Jeki.

Sementara itu Abdul Rosyidi, salah satu pegiatnya mengatakan dalam pembacaan buku teori tersebut menggunakan metode pembacaan layaknya tradisi membaca kitab kuning. Yaitu dengan masing-masing orang memegang buku tersebut, lalu membagi per-bab untuk di bahas secara begantian.

“Saat diskusi, kami benar-benar membedah teori dalam buku babon tersebut satu persatu. Tak jarang kami harus mengeja isi dalam buku kalimat perkalimat bahkan dari kata perkata dengan memburu makna dari kamus, dan mencari informasi lain melalui internet serta beradu argumen untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang satu teori,” terangnya.

Diskusi diperuntukkan bagi siapapun yang memiliki konsen yang sama  dengan syarat harus memiliki buku pegangan teori sosiologi teresebut. Karena buku itulah yang menjadi bahan acuan diskusi. Tercatat saat ini sebanyak lima belas pegiat dengan aktif melakukan diskusi secara rutin.

Mengaplikasikan Teori Melalui Penelitian

Bagian dari upaya aplikasi teori itu dengan melakukan berbagai kajian penelitian. Sebagai pemula Komunitas Ghuraba menyadari bahwa penguasaan teori-teori tersebut dan teori lainnya merupakan bagian penting untuk membentuk sebuah landasan pemahaman yang kokoh tentang masyarakat. Akan tetapi  yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa segala teori niscaya membawa serta patron-patron pengetahuan di daerah asalnya yang belum tentu cocok dengan konteks keindonesiaan terlebih Cirebon. Dalam artian tidak memakan mentah-menatah teori tersebut, namun berusaha untuk di kontekstualisasikan dengan realitas.

Saat ini Ghuraba sedang melakukan beberapa penelitian yang bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian lain. Di antaranya meneliti tentang Ahmadiyah di Jawa Barat bekerjasama dengan Setara institute dan Farsaid salah satu lembaga penelitian di Belanda. Kedua, penelitian terkait Kesundaan dan Demokrasi bekerjasma dengan LP3ES. Juga penelitian tentang kapasitas pemeritahan dalam mengelola keberagaman di Jawa Barat bekerjasama dengan Lakpesdam NU.

Selain berdiskusi dan meneliti, setiap satu bulan sekali, Ghuraba menggelar diskusi film dengan berbagai tema dan bahasan. Film yang dipilih tentunya film yang akan memberikan pengetahuan tentang masyarakat di masa lalu atau ia memberikan gambaran tentang bentuk-bentuk realitas yang mungkin terjadi di masa depan.

Seperti yang dilakukan pada Sabtu (20/8) lalu sekaligus perayaan HUT RI ke-71 di halaman Rumah Joglo, mendiskusikan film Agora besutan Alejandro Amenabar. Film yang diproduksi tahun 2009 itu  memberikan pemahaman tentang sebuah sejarah juga dialektika yang rumit agama, filsafat, kemanusiaan, pengetahuan dan kekuasaan.

“Film ini mengajarkan kepada kami bahwa realitas sosial  tidaklah tunggal melainkan dialektis dan resiprokal, sebagaimana Karl Marx dalam teori dialektikanya,”  papar Rosyid.

Setelah menyelesaikan kajian sosiologi, komunitas Ghuraba akan secara paralel melakukan kajian filsafat. Setelah kajian Filsafat rampung akan melakukan penguatan pada aspek metodologi penelitian sebagai modal dan kemampuan untuk mengelola isu dan membahas satu masalah dengan pendekatan ilmiah.

“Ke depan komunitas ghuraba mempunyai harapan dari pegiatnya agar pengetahuan ndonesia terbangun dari hasil penelitian-penelitian yang berpihak kepada masyarakat lemah dan menyatukan antara teori dan praksis,” tukas Rosyid.