JUMUD

Oleh: Buya Husein

0
136

Pikiran, pandangan dan gagasan para ulama, cendekia, ilmuan dan lain-lain sesungguhnya adalah refleksi terhadap apa yang mereka alami dan hadapi dalam ruang dan waktu mereka masing-masing.

Sikap eksklusif (tertutup) dan “jumud”, membeku, enggan mengapresiasi pikiran baru yang baik dan bermanfaat (Ashlah) bagi manusia hanya karena dan demi mempertahankan tradisi, tidak hanya akan melahirkan masyarakat yang kontra produktif dan semakin tertinggal, malahan bisa menciptakan depresi-depresi sosial yang semakin menumpuk, dan menyimpan magma emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Imam Syihab al-Din al-Qarafi (w.1285 M), tokoh besar dalam mazhab Maliki, dalam bukunya yang terkenal “al-Furuq”, mengatakan :

“فمهما تجدد فى العرف اعتبره ومهما سقطت أسقطه ولا تجمد على المسطور فى الكتب طول عمرك بل اذا جاءك رجل من غير إقليمك يستفتيك لا تجره على عرف بلدك واسأله عن عرف بلده وافته به دون عرف بلدك والمقرر فى كتبك. فهدا هو الحق الواضح والجمود على المنقولات أبدا ضلال فى الدين وجهل بمقاصد علماء المسلمين والسلف الماضين” ( الفروق, ج 1 ص 176_ 177).

“Manakala tradisi telah terbarui, ambillah, jika tidak, biarkanlah. Janganlah kamu bersikap kaku terhadap sumber-sumber tertulis dalam buku-bukumu sepanjang hidupmu. Jika ada seseorang datang kepadamu dari negeri lain dengan maksud meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu sampaikan fatwa berdasarkan tradisi negerimu. Bertanyalah lebih dulu tentang tradisinya, dan berikanlah fatwa berdasarkan tradisinya, bukan tradisimu dan bukan pula menurut yang ada di buku-bukumu. Ini adalah cara yang benar dan jelas.”(Al-Qarafi, al-Furuq, I/176-177).

Pikiran, pandangan dan gagasan para ulama, cendekia, ilmuan dan lain-lain sesungguhnya adalah refleksi terhadap apa yang mereka alami dan hadapi dalam ruang dan waktu mereka masing-masing. Sayang, dewasa ini, cara pandang dan gagasan seperti ini tidak/belum bisa diterima semua orang. Banyak orang yang mengklaim diri paling benar. Lalu menuduh pandangan orang lain sebagai salah, sesat, bid’ah, kafir, liberal, sekuler dan sebagainya. Betapa jauh sekali bedanya ia dengan para ulama besar tersebut.