NABI MEMAAFKAN MUSUHNYA

KH. Husein Muhammad

0
539
Suber Gambar: http://www.livehappy.com/

Selama depalan tahun Nabi bermukim di Madinah. Selama di kota ini, beliau berhasil menarik hati ribuan pengikut dan simpatisan. Tak ada pemaksaan untuk itu. Kepribadian beliaulah yang menarik hati penduduk Madinah. Ada yang memperkirakan jumlahnya mencapai 10.000. Tiba-tiba Nabi rindu menengok Makkah, kampung halaman tempatnya di lahirkan dan dibesarkan. Saat hendak meninggalkannya (hijrah), beliau sempat berdoa sambil memandang Ka`bah, memohon bisa kembali. Maka Nabi diikuti para pengikutnya pun berangkat menuju Makkah. Setelah menempuh perjalanan panjang, mengarungi padang pasir di bawah sengatan terik matahari dan mendaki gunung gemunung cadas dan tanpa pepohonan, beliau sampai di perbatasan Makkah.

Sebagian sejarawan memperkirakan itu terjadi pada akhir Desember tahun 630 M. Ini sebuah perjalanan berhari hari yang amat melelahkan tetapi juga penuh harapan indah. Di suatu tempat dekat Bait al-Haram, Nabi bertemu para pemimpin kafir Quraisy, yang dikelilingi para pengikut mereka. Kedua kelompok yang bermusuhan itu kini saling berhadapan langsung, head to head. Kelompok yang dipimpin Nabi kini tampak jauh lebih besar, lebih kuat dan bersatu. Sementara kelompok kafir Quraisy, pimpinan Abu Sufyan, tampak lemah, rapuh dan terpecah-pecah.

Para pembesar kafir Quraisy terhenyak dan terbelalak dengan dada berdegup kencang. Mereka melihat dengan mata kepala, Muhammad bin Abdullah yang tengah duduk di atas untanya itu tampak begitu gagah dan amat berwibawa. Ia diiringi ribuan pasukan yang siap menunggu perintahnya. Perlawanan kafir Quraisy terhadap Muhammad secara logika tentu saja tak mungkin dilakukan, karena mereka sangat lemah dalam banyak hal.

Orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan dan di bawah telapak kaki sang Nabi. Para pengikutnya akan mematuhi apapun yang diperintahkannya. Nyawa kaum kafir Quraisy itu kini tergantung di ujung bibirnya. Ribuan pengikutnya akan dapat dengan mudah memenggal kepala mereka, jika Nabi memerintahkannya. 

Nabi tampak begitu mulia. Matanya menatap satu-satu lawan yang dulu sangat membencinya itu. Kepada mereka, dengan suaranya yang tenang dan sikapnya yang anggun penuh pesona, beliau mengatakan :

مَا تَظُنُّون أِنِّي فَاعِلٌ بِكُمْ؟
فَقَالُوا: «خيرًا أخٌ كريمٌ وابن أخٍ كريم “. 
فقال كما قال يوسف عليه السلام : لاَ تَثْرَيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ. إِذْهَبُوا فَأَنْتُمْ طُلُقَآء. فَمَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِى سُفْيَان فَهُوَ آمِنٌ. وَمَنْ دَخَلَ دَارَه فَهُوَ آمِنٌ. وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُوآمِنٌ

“Menurut kalian , apakah kira-kira yang akan aku lakukan terhadap kalian?”. 
Mereka saling menatap dengan dada bergemuruh. Sebagian yang lain menundukkkan kepalanya dalam diam, tak berkutik. Kaki mereka terasa lunglai. Untuk beberapa saat suasana pertemuan dua musuh bebuyutan itu begitu sepi dan tegang. Tak ada kata-kata yang terlontar. Pikiran mereka melayang-layang, kembali ke masa lalu, ketika Nabi masih bersama mereka. Terbayang di mata mereka, kata-kata kasar, sumpah serapah, penghinaan, cacimaki dan stigmatisasi berhamburan dari mulut mereka sendiri yang diarahkan kepada Muhammad dan para pengikutnya.

Terbayang pula bagaimana kekerasan demi kekerasan setiap hari mereka lakukan terhadap Muhammad dan para pengikutnya. Rencana aksi jahat, politik isolasi, pemiskinan dan upaya pembunuhan terhadap orang yang kini di hadapan mereka, masih tampak sangat jelas di pelupuk matanya. Sesekali mata mereka melihat Nabi, sang “musuh” itu. Oh, Wajahnya masih bening, bercahaya dan tampan, senyumnya masih tetap selalu mengembang manis seperti dulu, beberapa tahun lalu. Muhammad begitu anggun dan penuh kharisma.

Dalam keadaan ketakutan yang mendalam, mereka serentak menjawab : “Engkau orang yang mulia, saudara kami yang mulia, putera saudara kami yang mulia”.

Nabi lalu mengatakan sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf (kepada saudara-saudaranya) : “Hari ini tak ada balas dendam atas kalian. Kalian bebas!. Siapa saja yang ingin masuk ke rumah Abu Sufyan, dijamin aman. Siapa saja yang ingin pulang ke rumah, dijamin aman dan siapa saja yang ingin ke masjid, dijamin aman”.

Aduhai!. Betapa mengagumkan. Betapa indah sikap utusan Tuhan itu. Ketika dalam keadaan kuat di hadapan musuh politik dan kemanusiaan yang rapuh dan tak berdaya itu, beliau justeru memaafkan mereka. Nabi telah mengumumkan amnesti umum dan menyeluruh. Dialah manusia yang tak pernah menyimpan dendam kepada siapapun yang pernah menyakiti hatinya, bahkan tidak kepada musuh-musuhnya yang jahat dan berkali-kali berencana membunuhnya sekalipun. Cukup sudah penderitaan dan kesakitan hanya dialami dirinya, dan tak perlu bagi orang lain. Meskipun begitu beliau tak pernah lupa. Hebatnya lagi, beliau tak hendak memaksa mereka mengikuti agamanya.

Husain Haekal, dalam bukunya yang sangat popular “Hayat Muhammad” (Sejarah Muhammad), mengatakan mengenai peristiwa yang mengagumkan ini:

ما أجمل العفو عند المقدرة. ما أعظم هذه النفس التى سمت كل السمو. فارتفعت فوق الحقد وفوق الانتقام. وأنكرت كل عاطفة دنيا. وبلغت من النبل فوق ما يبلغ الانسان.

“Lihatlah betapa indahnya pengampunan itu ketika ia mampu (mengalahkan). Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampai segala rasa dengki dan dendam di hati. Jiwa yang telah menjauhi segala perasaan duniawi, jiwa yang telah mencapai segala yang di atas kemampuan insani…”.

Selanjutnya Husein Haekal mengatakan dengan memukau:

الرسول ليس بالرجل الذى يعرف العداوة او يريد ان تقوم بين الناس. وليس هو بالجبار ولا المتكبر. لقد امكنه الله من عدوه فقدر فعفا. فضرب بذلك العالم كله والاجيال جميعا مثلا فى البر والوفاء بالعهد, وفى سمو النفس سموا لا يبلغه احد

“Nabi bukanlah manusia yang mengenal permusuhan atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Dia bukan seorang tiran, dan bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberi kepadanya kemampuan mengalahkan musuhnya, tetapi dia justeru memberi mereka pengampunan. Dengan begitu, dia telah memberikan keteladanan yang luar biasa kepada seluruh dunia dan segala generasi manusia tentang kebaikan, kesetiaannya dalam janji dan tentang kebesaran jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun”.