Udar Rasa di Padang Wulanan

0
434
Pegiat seni dan sastra mengikuti acara Padang wulanan

Fahmina.or.id, Majasem. Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) menggelar apresiasi seni dan budaya di acara Padang Wulanan. Siti Asma mengatakan pada acara tersebut dihadiri oleh berbagai komunitas dan pegiat sastra di Cirebon.  Beberapa Kesenian ditampilkan diantaranya; Tari Rampak Gendang asal Cigugur Kuningan, Musik Akustik, Musikalisasi Puisi, Drama Puisi,  Kabaret, Beat Box dan Hadroh tampil semarak dibawah terang rembulan di halaman Kampus ISIF Jl. Swasembada no. 15 Majasem-Karyamulya Kota Cirebon. Senin (23/8)

“Kami senang sekali, selaku mahasiswa bisa menyalurkan minat dan bakat dibidang seni. Para peserta yang hadirpun banyak yang menampilkan kreasi seninya. Walaupun banyak kekurangan dari segi teknis kedepan kami akan menggelarnya lebih terkonsep,” kata Kordinator Padang Wulanan.

Sementara itu Dede Wahyudin selaku Kerua Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarkat  (LP2M) ISIF, pihaknya mendukung penuh kegiatan mahasiswa ini. Menurutnya padang wulanan merupakan ajang bertukar informasi, potensi dan bakat di bidang seni dan budaya.

“Padang wulanan berasal kata dari padang dan wulan. Padang atau terang berarti ada sesuatu yang gelap yang membutuhkan sinar. Yaitu menerangi kegelapan, seperti  kegelapan potensi yang belum muncul, kegelapan informasi yang belum terungkap lalu butuh kita kumpul bersama dengan berbagi informasi dan potensi. Kapan yaitu pada saat bulan purnama, semua yang hadir adalah penampil” terangnya.

Ia menambahkan Padang Wulanan  akan digelar tidak hanya di dalam kampus namun akan diagendakan tampil di ruang publik. Agar dapat menerima dan menyampaikan informasi di masyarakat terkait persoalan publik melalu seni tradisi.

“Ke depan padang wulanan ini tidak hanya di halaman isif, harus di tradisikan pula di luar kampus yaitu di ruang publik mau itu halaman masjid, balai desa. Pada intinya ada informasi yang disampaikan agar semua tahu dan merasa sadar akan kegelapan yang menyelimuti. Hal itu yang akan menjadi bahan kajian baik secara akademik maupun kebijakan pemerintah setempat,” jelasnya.

Rifqil `Asyik salah satu pegiat sastra mengungkakan apreseiainya dengan membawakan sajak kemerdekaan karya Uabay Baequni. Ia mengatakan acara seperi padang wulanan merupakan salah satu cara untuk bela negara yaitu dengan menampilkan berbagai kesenian dan kebudayaan terutama Cirebon sebagai salah satu identitas bangsa.

“Harapannnya kedepan padang wulanan menjadi barometer apa itu sastra, budaya dan seni di Indonesia.  Karena Cirebon termasuk sentral dari pergerakan kebudayaan secara nasional, Jawa khususnya terlebih pejuang-pejuang kita juga banyak tumbuh dan berkembang di tanah Cirebon termasuk di dalamnya walisongo diantaranya syekh sunan gunung jati,” tukasnya. (ZA)