MENGENAL REALITAS KEBHINEKAAN: Peserta SETAMAN Kota Cirebon II mengenal dan berdialog dengan umat Konghucu di Kelenteng Talang Kota Cirebon

Fahmina.or.id, Cirebon. Setaman atau sekolah cinta perdamaian wilayah Kota Cirebon kali ini bekerjasama dengan Dewan Pendidikan Kota Cirebon menggelar lokakarya bagi siswa dan pelajar bertema Merajut Bhineka dalam Bingkai NKRI. Setaman angkatan ke kedua ini  dilaksanakan di gedung Gotrasawala Kampus Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, (27/11).

Nurul Huda Wakil ketua Dewan pendidikan mengapresiasi kegiatan yang menumbuhkan rasa kebangsaan dan toleransi terhadap sesama ini. ia pun ikut bagian dalam acara tersebut dengan mengisi materi memahami dasar-dasar kebhinekaan.

“Kita ini hidup di dalam masyarkat yang sangat beragam, tidak ada cara lain untuk hidup selain saling menghormati dan menghargai orang lain,” ujar Huda saat menyampaikan materi.

Makmuri, salah satu fasilitator Setaman mengatakan, selain memahami dasar-dasar kebhinekaan para siswa yang tergabung dalam lokakarya ini dikenalkan dengan realitas kebhinekaan yang ada di Cirebon. Yaitu dengan mengunjungi rumah ibadah dan berdialog dengan umat agama lain.

“Berbicara tentang sejarah Cirebon pasti tak lepas dari eksistensi orang Tionghoa, oleh karena itu Setaman melakukan kunjungan ke kelenteng Talang dan Vihara Dewi Welas Asih yang berada di wilayah Pecinan Cirebon Kecamatan Lemah wungkuk,”katanya.

Dalam kesempatan itu pula, Setaman mendapat kunjungan dari Jemaat Gereja Protestan indonesia Barat (GPIB) Paulus, Jakarta. Kunjungan tersebut adalah salah satu  dari rangkaian safari mengenal Islam yang ramah terutama di Cirebon

“Kami berkunjung ke Cirebon ingin mempelajari tentang Islam dan upaya deradikalisasi agama. Kami melakukan kunjungan ke pesantren Kebon Jambu Ciwaringin dan komunitas yang mengusung perdamaian seperti Setaman. Hal ini sangat berarti bagi kami,’ kata salah satu perwakilan rombongan.

Sementara itu, Neneng Alfiah,  salah satu peserta Setaman merasa beruntung Setaman angkatan dua Kota Cirebon ini,mendapat pengalaman langsung dengan orang yang berbeda.

“Bahwa perasangka itu akan lenyap ketika kita sudah bertemu dan bercengkrama. Tak kenal maka tak sayang, pepatah itu sangat membekas,” ungkap neneng. (ZA)