KH Husein Muhammad (foto; Zain/Fahmina)

Fahmina.co.id, Cirebon – Dewasa ini mengajak kepada kebaikan seringkali mengabaikan etika yang telah diatur dalam Islam seperti mengejek, mencerca bahkan kerap memaksa. Sendi-sendi kehidupan manusia harus segera diseimbangkan dengan substansi beragama yang mengedepankan toleransi dalam konteks sesama Islam dan antar umat beragama.

Hal itu dikemukakan Ketua Yayasan Fahmina KH Husein Muhammad usai menyelenggarakan pengajian  Kitab Samahatul Islam Fi Muamalati Goiri Muslimin di Aula Fahmina Institute, Jalan Swasembada no.15 Majasem-Karyamulya Kota Cirebon,(8/6/2016).

Pengasuh Ponpes Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon itu menjelaskan, dalam kitab tersebut mengatur toleransi dalam Islam dengan sikap dan hidup berdampingan secara damai bersama non muslim.

“Sesungguhnya Islam merupakan agama yang toleran dan memudahkan dalam akidah. Karena toleransi itu salah satu gambaran keagungan Islam dalam universalitas Islam tersebut. Adalah keputusan Tuhan bahwa manusia di bumi beragam. Pluralitas itu keniscayaan, pluralitas manusia dan berbagai aspeksnya termasuk aspek keyakinan, bukan sekadar kulit, bahasa, tapi juga keberbedaan keyakinan itu adalah keputusan Tuhan,” ungkap Kyai Husein.

Manusia menurut Kyai Husein, diperintahkan untuk mengajak orang kepada kebaikan, serta keharusan menyampaikan ajakan kepada oranglain . “Dakwah itu bukan paksaan tapi ajakan saja, karena agama hadir untuk menawarkan kebaikan, tidak ada kewajiban memaksakan seperti itu yang ada adalah tawaran sebetulnya,” kata dia.

Ia mengaku pernah mengatakan dalam sebuah seminar, perintah itu pada dasarnya bukan wajib, manusianya itu yang mewajibkan sementara Tuhan-nya tidak, karena hanya menawarkan. “Tapi bagaimana ceritanya kita menyimpulkan orang itu baik, buruk kafir dan sejenisnya?,”kata dia.

Ditambahkan, sangat tidak dapat digambarkan jika masyarakat muslim akan memisahkan pada masyarakat dunia. “Kita hidup dalam sebuah dunia yang di situ banyak orang yang berebeda dengan kita dan tidak bisa memisahkan dari kebhinekaan orang itu. Keragaman, pluralitas, adalah keniscayaan,” tandasnya.

Oleh karena itu Islam membuat aturan-aturan bagaimana hubungan muslim dengan non muslim baik individu maupun kelompok. Dan diakui Kyai Husein, Islam membuat batasan-batasan yang lengkap baik untuk relasi internal sesama muslim atau dengan masyarakat yang non muslim.

“Kajian kita beberapa waktu ini, berusaha atau berupaya menjelaskan toleransi Islam di dalam pergaulan dengan non muslim. Dengan berbagai macam golongan, agama, baik ahlul kitab maupun non ahlul kitab,” terangnya.

Banyak yang mengatakan dan menyimpulkan, ahlul kitab hanyalah Yahudi dan Nasrani saja, karena memang di masa Nabi Muhammad SAW dan di tempat yang ditemui saat itu hanya ada dua itu saja. “Pertanyannya kalau Budha, atau Hindu bagaimana? Ini menunjukkan keterbatasan pada tafsir seharusnya disesuaikan dengan realitasnya yang ada, bukan  Yahudi dan Nasrani saja,“ terangnya.

Dalam kitab Samahatul Islam Fi Muamalati Goiri Muslimin ini membahas bagaimana gagasan dan praktik yang dilakukan nabi mengenai toleransi Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan kaum non muslim. “Menurut saya menarik sekali. Biasanya hanya membanggakan diri berwacana kini kita diuji untuk mempraktikannya, kata kuncinya harus mengaji,” terangnya.

 

Laporan: Zain AB

Editor: Mudi El Anshori