Santriwati di Pondok Buntet Pesantren Cirebon, sedang melakukan Bahsul Kitab dengan basis Kitab Kuning. (foto-zen)

Kecerdasan seseorang ternyata tidak ditentukan oleh jenis kelamin tertentu, melainkan oleh ruang dan waktu kebudayaan yang membentuknya.

Kehidupan hari ini tidak mendorong kita untuk melihat dengan jujur bahwa perempuan sejatinya memiliki potensi-potensi besar dan dahsyat sebagaimana potensi-potensi yang dimiliki laki-laki.
Kaum perempuan dalam konteks ini (ketidakjujuran) seakan-akan tidak diciptakan kecuali untuk melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Otak mereka lebih rendah daripada otak laki-laki. Keyakinan seperti ini bukan hanya keliru besar, melainkan juga telah melenyapkan potensi besar yang berguna bagi tugas-tugas besar kemanusiaan. Dalam banyak kenyataan sosial semakin banyak perempuan yang memiliki keunggulan dari laki-laki, baik dari aspek ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan sebagainya.

Kemarin, selama tiga hari, 01-03 Desember 2017, aku menyaksikan “Musabaqoh Qiraatil Kutub” (MQK), atau Lomba baca kitab kuning Nasional, sekaligus menjadi juri/dewan hakim. MQK diselenggarakan di Pondok Pesantren Raudhatul Thalibin, Balekamba, Jepara, Jawa Tengah. Sebuah pesantren besar seluas 30 hektar dan terletak di perkampungan nun jauh dari pusat kota.

MQK di ikuti oleh ratusan peserta laki-laki dan perempuan dari seluruh daerah di Indonesia. Usia mereka paling tinggi 18 tahun.

Aku terkagum-kagum. Betapa para santri itu begitu piawai membaca kitab kuning berbahasa Arab “gundul’ (tanpa tanda baca). Mereka membaca dengan fasih dan benar secara gramatikal (nahwu-sharaf). Mereka juga mampu menjelaskan kandungan yang dibaca. Mereka juga dengan tegar mampu berdebat dengan para juri.

Di ruang lain aku menyaksikan perdebatan dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab, tentang sejumlah isu yang diberikan panitia. Aku benar-benar terpukau. Anak-anak muda putra-putri itu begitu lancar berkata-kata, bercakap-cakap dan berdebat dalam bahasa asing itu, sebagaimana pemilik bahasa itu sendiri. Andai saja aku tidak melihat wajah mereka, dan hanya mendengar, niscaya aku meyakini itu perdebatan itu berlangsung antara orang Inggris atau orang Arab, minus dialek saja. He he.

Lebih dari itu, kekagumanku justeru manakala aku menyaksikan tidak sedikit peserta putri lebih unggul daripada peserta putra. Dengan kata lain nilai dan prestasi peserta perempuan banyak yang lebih tinggi daripada nilai laki-laki. Kenyataan ini telah menggugurkan dan meruntuhkan anggapan atau keyakinan banyak orang bahwa akal dan kecerdasan semua perempuan lebih rendah daripada akal dan kecerdasan semua laki-laki. Akal dan kecerdasan laki-laki dan perempuan ternyata relatif sama. Kecerdasan seseorang ternyata tidak ditentukan oleh jenis kelamin tertentu, melainkan oleh ruang dan waktu kebudayaan yang membentuknya.