Akui kebaikan tanpa menutup mata atas kekurangannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebaikan orang lain. Demikian pula cinta. Hamya karena cinta yang berlebihan menutup keburukan orang yang dicintainya.

Kita harus tetap berlaku adil, sekalipun terhadap mereka yang sangat membenci kita. Ada sebuah kisah pada masa Nabi. Dalam Perang Uhud Sayyidina Hamzah terbunuh dan pembunuhan mereka sangat keji karena dialakukan mutilasi terhadapnya. Seorang sahabat Ansor melihat kenyataan itu berjanji di masa yang akan datang akan membalas melebihi mereka.

Atas pristiwa itu, maka turunlah Ayat al Quran turun dengan memerintahkan “Jika kamu ingin membalas maka balaslah dengan cara yang setimpal. Tetapi jika kamu bersabar, maka bersabar kebih baik.” {Surat An-Nahl ayat 126}.

Ayat ini menawarkan dua metode hukum. Ada hukum Qisas yakni dihukum dengan hal yang sama sesuai perbuatannya. Tawaran kedua etika, moral, tidak usah dibalas (dimaafkan) karena dikatakan bersabar lebih baik.

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maa-idah 8]”

Akui kebaikan tanpa menutup mata atas kekurangannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebaikan orang lain. Demikian pula cinta. Hamya karena cinta yang berlebihan menutup keburukan orang yang dicintainya. Semunya memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu bertindaklah dengan adil.

Inilah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah yang berdasarkan petunjuka dari al quranul karim. Begitulah ajran Islam yang seharusnya diperaktekkan dalam kehidupan bersama.

Don’t forget to Like, Comment, Share and Subscribe

Follow :

Instagram : https://www.instagram.com/yayasanfahm

Twitter: https://twitter.com/YayasanFahmina

FB fanpage : https://www.facebook.com/yayasan.fahm..