Berpandangan Adil Gender

0
85

Oleh: Zaenab Mahmudah*

Mendengarkan diskursus soal Gender, Seksualitas dan Feminisme memang bukan hal baru, tapi mendengarkan paparan Bu Nyai Masruchah dalam DKUP (Daurah Kader Ulama Perempuan) 2021 di hari kedua (selasa, 16 Maret 2021) yang diselenggarakan Fahmina Institut ini bener-bener membuka kembali, merefresh pemahaman dan penyadaran diri soal Gender, Seksualitas dan Feminisme itu sendiri.

Membicarakan tiga poin ini tidak cukup hanya sekali butuh berkali kali. Karena persoalan gender selalu muncul di kalangan masyarakat dimanapun berada, baik diperkotaan maupun di pedesaan.

Saya setuju dengan bu nyai Masruchah, bahwa langkah awal untuk merubah itu di mulai dari kesadaran diri, sadar bahwa gender itu harus di perjuangkan. Terlebih kita yang terpilih mengikuti DKUP Muda ini perlu pengetahuan yang kokoh tentang gender dan perspektif gender untuk membekali diri menghadapi persoalan di kehidupan nyata.

Soal gender, tidak sedikit orang memahami dan mengartikan gender sama dengan seks. Padahal keduanya sangat berbeda. Nyai Masruchah mengemukakan bahwa Seks adalah perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yang secara fisik melekat pada masing-masing jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Perbedaan jenis kelamin itu merupakan kodrat atau ketentuan Tuhan, maka tidak bisa dirubah sehingga sifatnya permanen dan universal.

Sedangkan gender adalah perolehan dari proses belajar dan proses sosialisasi melalui kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Gender itu membedakan manusia laki-laki dan perempuan secara sosial, mengacu pada unsur emosional, kejiwaan dan sosial, maka ini bukan kodrat, bukan ketentuan dari Tuhan, melainkan buatan/konstruksi manusia itu sendiri melalui proses belajar. Gender itu bisa ditukarkan antara laki-laki dan perempuan. Tergantung bagaiman kita memandangnya saja.

Misalnya secara sifat atau karakter, katanya perempuan itu lemah lembut, penurut, emosional, tidak pintar, maunya dipimpin dan pasif. Sedangkan laki-laki kuat, pembangkang, rasional, pintar, pemimpin dan aktif. Keduanya sebenarnya sama-sama mempunyai potensi. Perempuan ada kok yg kuat, rasional, pintar, aktif dan bisa menjadi pemimpin. Begitu juga laki laki, ada kok laki laki yang lemah lembut, emosional, tidak pintar dan maunya dipimpin.

Perbedaan gender inilah yang kemudian memunculkan ketidakadilan. Munculnya marginalisasi bahwa perempuan cukup di belakang, istri cukup di dapur sumur dan kasur. Subordianasi, perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, istri harus nurut suami, kalo mau pergi harus ijin suami. Stereotipe, perempuan itu lemah. Kekerasan dan beban ganda. ketidakadilan ini harus dihapuskan atau setidaknya meminimalisir. Karena jika tidak, maka Persoalan gender akan selalu ada dan berpotensi berkembang seiring dengan perkembangan sosial, budaya dan politik.

Untuk meminimalisir atau menghapus ketidakadilan ini perlu dilakukan secara bersama-sama. Bukan hanya individu, tapi keluarga, masyarakat, sekolah, tokoh agama, media, sistem ekonomi bahkan negara pun mempunyai peranan penting untuk tidak melanggengkan ketidakadilan ini, untuk sama-sama bersinergi mewujudkan adil gender.

Masih banyak hal menarik yang perlu diungkapkan memang. Tapi, untuk menuangkanya masih harus banyak membaca lagi. Membaca tidak hanya dari buku tapi dari kehidupan nyata juga. Apalagi soal gender ini. Terima Kasih bu Nyai Masruchah atas ilmu yg luar biasa ini.

Terima kasih pak kyai Marzuki Wahid, Kang Rosidin, Mba Roziqoh, mba Alifatul Arifiati atas kesempatan ini dan mohon bimbinganya selalu.

Dan di hari kedua ini persoalan sinyal masih menjadi kendala bagi saya, sinyal yg ga stabil membuat sebagian informasi dan diskusi tidak saya dapatkan secara full. Namun semangat belajar kepada para kyai dan Nyai tidak menyurutkan saya, semoga hari ini, sinyal lancar.

*Kader Ulama Perempuan