Kamis, 10 Oktober 2019

Bolehkah Perempuan Haid Memegang Mushaf al-Qur’an?

Baca Juga

Mayoritas ulama fiqh meyatakan bahwa siapapun yang sedang dalam keadaan hadats besar maupun kecil, dan belum bersuci (mandi dan wudhu), dilarang untuk memegang Mushaf al-Qur’an. Mushaf adalah istilah untuk satu buku penuh yang berisi al-Qur’an mulai dari Surat al-Fatihah sampai Surat an-Nas. Haid adalah bagian dari hadats besar, sehingga perempuan yang sedang haid juga dilarang.

Tetapi jika dibaca lebih dalam khazanah fiqh klasik kita, ada pembahasan yang cukup detail dalam hal ini. Misalnya, beberapa kitab fiqh menyatakan: Imam Dawud az-Zahiri, murid dari Imam Syafi’i, yang mendirikan Mazhab fiqh sendiri (yaitu Zahiriyah), membolehkan hal tersebut. Juru bicara Mazhab Zahiriyah yang utama, Imam Ibn Hazm (w. 456 H/1064 M) dengan tegas menyatakan bahwa semua argumentasi ulama yang melarang adalah lemah dan tidak berdasar.

Menurut Ibn Hazm, Hadits mengenai Nabi Saw yang menulis surat, di dalamnya ada ayat al-Qur’an, yang dikirim ke Heraclius, adalah bukti bahwa al-Qur’an, boleh dipegang siapapun, muslim non-muslim, orang sudah bersuci, masih hadats besar atau kecil, termasuk yang sedang haid, atau nifas.

Sementara argumentasi dengan ayat al-Waqi’ah (56: 79) yang dijadikan alasan mayoritas ulama adalah lemah, karena ayat ini bukan perintah tetapi berita, dan mengenai kitab di tempat lain, mungkin di Lauh al-Mahfudz, bukan Mushaf al-Qur’an di bumi.

Beberapa ulama Mazhab Malikiyah juga membolehkan perempuan haid untuk memegang mushaf al-Qur’an, jika tujuannya untuk belajar atau mengajar. Lebih detail lagi, ada pembahasan juga mengenai orang yang sedang hadats kecil, tetapi bekerja dalam penulisan mushaf, pemindahan mushaf, atau sedang dalam keadaan yang dibutuhkan untuk memindahkan mushaf ke tempat yang lebih layak.

Perdebatan juga mengenai Mushaf yang tercerai berai, tidak terkumpul utuh, seperti juz-juz Mushaf kita sekarang, atau kertas-kertasnya per halaman, atau memegang sampulnya saja, atau memegang ujungnya saja, atau memegang tas yang di dalamnya ada Mushaf, atau memegangnya dengan cara memakai kain, dan banyak lagi perdebatan ulama mengenai hal ini.

Jika dicermati perdebatan tersebut, menurut hemat kami, dalam kondisi umum, orang-orang yang sedang hadats kecil (habis kencing misalnya) atau hadats besar (junub atau haid), dan mereka dapat dengan leluasa untuk bersuci terlebih dahulu (dengan cara mandi dan wudu), maka mereka diwajibkan untuk bersuci sebelum memegang Mushaf al-Qur’an.

Tetapi dalam kondisi-kondisi khusus dan ada kebutuhan yang harus dipenuhi, maka memegang Mushaf al-Qur’an dibolehkan sekalipun sedang ada hadats kecil maupun besar. Misalnya, orang-orang yang pekerjaanya sehari-hari adalah membawa dan memindahkan di percetakan Mushaf al-Qur’an. Sebaiknya, tentu saja, mereka bersuci dulu, lalu ketika di tengah jalan batal dan belum wuduh, sementara kondisi mendesaknya untuk memegang dan membawa Mushaf, dia boleh melakukannya.

Haid atau menstruasi adalah kondisi yang sangat khusus, karena, berbeda dengan habis kencing dan junub, yang bisa dengan leluasa segera berwudu atau mandi, haid masih harus menunggu darah berhenti terlebih dahulu baru bisa mandi. Artinya, ada waktu panjang bagi perempuan akan terjauhkan dari al-Qur’an, jiak dilarang memegang Mushaf.

Pelajaran lain, yang bisa dipetik dari perdebatan para ulama klasik, menurut hemat kami, yang dilarang bagi perempuan haid untuk memegang Mushaf al-Qur’an, adalah yang tujuannya adalah menghormati, mengambil berkah, mencium, mendekap, membawanya tidur atau bepergian. Tetapi jika tujuannya adalah belajar, mengajar, menghafal, mengingatkan hafalan, memindahkan ke tempat yang lebih layak, atau bekerja di dunia percetakan dan penerbitan, maka sebaiknya, perempuan yang sedang haid tidak dilarang. Wallahu a’lam wa huwa al-Musta’an.

Sumber: Mubaadalahnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya