Buya Husein, Dihormati Karena Akhlaknya dan Disegani Karena Ilmunya. (dok. Irfan Amalee)

Oleh: Irfan Amalee


Dari gestur, tatapan matanya, serta tutur katanya, sama sekali tak ada keangkuhan. Beliau mau mendengar pendapat saya yang ilmunya ribuan tingkat di bawahnya.

Cirebon ini mengantarkan saya ketemu salah satu ulama panutan saya: Kyai Husein Muhammad. Di kalangan santri dan kyai, Buya Husein adalah ulama yang dihormati karena akhlaknya dan disegani karena ilmunya. Beliau adalah cucu dari pendiri Ponpes Dar al Tauhid Cirebon. Semasa muda nyantri di Lirboyo Kediri dan melanjutkan studinya di Al-Azhar Kairo.

Di kalangan aktivis, Kyai Husein dikenal sebagai ulama pembela hak-hak perempuan dan juga getol mempromosikan keadilan dan perdamaian. Karena ilmu dan komitmen kerja-kerja kemanusiaannya, Kyai Husein pernah diamanati menjadi komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kyai Husen juga penah diganjar penghargaan “Heroes To End Modern-Day Slavery” dari pemerintah AS 2006. Fahmina Institute yang dia dirikan juga mendapat Opus Prize tahun 2013. Selama 7 thn berturut-turut sejak 2010 Nama Kyai Husein masuk di daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh versi RISC Jordania.

Kyai juga bercerita tentang pengalamannya dituduh aneh-aneh bahkan kantornya sempat disegel kelompok ekstrem. Kyai Husein memang sangat vokal dalam membela hak-hak perempuan dan minoritas. Pemikiran rasionalnya sering kali disalahfahami. Tapi dia tak gentar.

Dengan ilmu yang tinggi dan sederet prestasi, Kyai Husein tetap rendah hati. Saat saya menemuinya, dia langsung menyambut saya, “Ini Irfan Amali, ya?” Ternyata Kyai Husein menonton Talk saya di TEDx, dan sehari sbelumnya menonton saya di ILC. Kyai Husein mengamini pandangan yang saya sampaikan di dua acara tadi.

Dari gestur, tatapan matanya, serta tutur katanya, sama sekali tak ada keangkuhan. Beliau mau mendengar pendapat saya yang ilmunya ribuan tingkat di bawahnya.

Kyai Husein menuturkan kegelisahannya tentang wabah siaran kebencian (hatespeech) di negeri mayoritas muslim ini. Sambil sesekali membacakan beberapa puisi para sufi seperti Rumi dan Tabrizi.

Kyai juga bercerita tentang pengalamannya dituduh aneh-aneh bahkan kantornya sempat disegel kelompok ekstrem. Kyai Husein memang sangat vokal dalam membela hak-hak perempuan dan minoritas. Pemikiran rasionalnya sering kali disalahfahami. Tapi dia tak gentar. Dia mengutip kisah Imam Abu Hanifah yang sangat rasional dan sering dianggap kafir dan bid’ah. Tetapi Abu Hanifah selalu menjawabnya dengan doa “Semoga Allah mengampunimu. Hanya Allah yang tahu bahwa aku tidak seperti itu”.

Saya dihadiahi Kyai Husein dua buku karyanya lengkap dengan tandatangannya.

*Penulis adalah Pegiat Pendidikan Perdamaian, Founder Peace Generation (PeaceGen) Indonesia.