Dari Refleksi & Temu Komunitas 7 Tahun Fahmina-Institute

0
605
7th Fahmina InstituteAgama mempunyai tanggungjawab untuk menegakkan keadilan dan demokrasi. Namun tantangan untuk melakukan itu kian berat seiring meningkatnya ketimpangan sosial dan berbagai kekerasan yang menggagu kebersamaan dan kebhinkaan. “Kebhinekaan Indonesia hari ini sedang terganggu bahkan terancam. Sementara di sudut lain kita menemukan realitas kebalikannya.
Sejumlah kecil manusia Indonesia merampas hak-hak kehidupan berjuta-juta manusia yang lain melalui otoritas-otoritas yang dimilikinya. Ketimpangan begitu nyata dan menganga. Ada segelintir manusia Indonesia yang membelah dan membabat pohon-pohon milik bangsa. Kerakusan sedang dipertontonkan mereka.”

Demikianlah kutipan Khutbah Iftitah yang disampaikan KH. Husein Muhammad dalam acara Refleksi dan Temu Komunitas Tujuh (7) tahun Fahmina pada 19 Januari 2008 di Hotel Prima Jl. Siliwangi Kota Cirebon. Acara yang bertema Mengangakat Tradisi Untuk Keadilan dan Demokrasi. Hadir dalam acara tersebut tidak kurang dari 400 peserta terdiri dari komunitas pesantren, organisasi masyarakat, kepemudaan, kelompok minoritas agama, kelompok perempuan, aktifis, pejabat, ploitisi, akademisi, mahasiswa, pedagang kaki lima, nelayan, pengamen dan kelompok marjinal lainnya, aktivis LSM, baik yang berasal dari Cirebon maupun lembaga tingkat nasional. Datang juga berbagai lembaga internasional seperti Ford Foundation, The Asia Foundation, British Council, para pejabat pusat, polisi, anggota DPR, pejabat pemrintah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, para kiai pesantren jaringan Fahmina Institute.

Hussein Muhammad mengatakan, di depan mata kita terpampang dengan jelas fakta-fakta kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak dengan beragam modus. Belakangan juga muncul kekerasan, caci maki dan penyingkiran terhadap kelompok warga bangsa atas  nama agama dan Tuhan. Padahal Nabi tidak dihadirkan untuk mengutuk, tidak untuk berkata kasar dan tidak untuk mencacimaki siapapun, tetapi untuk menebar cinta dan kelembutan.

“Ada segelintir manusia Indonesia yang membelah dan membabat pohon-pohon milik bangsa. Kerakusan sedang dipertontonkan. Tak terelakkan, tujuh bumi tiba-tiba membelah dan menelan, tujuh lautan bergulung-gulung dan menghempaskan dan tujuh langit menggelegar dan runtuh. Semesta gonjang-ganjing dan menghancurkan segala ada,” ujar kiai Husen.

Setelah khutbah iftitah yang disampaikan Ketua Dewan Kebijakan Fahmina Institute selesai, acara dilanjutkan dengan refleksi dan tanggapan umum. Dalam sesi ini beberapa komunitas yang hadir menyampaikan kritikan, tanggapan, usulan, sikap, permintaan dan juga ucapan terimakasihnya. Semuanya menyatakan selamat ulang tahun Fahmina Institute.

Dari sekian tanggapan, yang paling banyak diungkapkan adalah ungkapan permohonan agar fahmina bisa bekerja lebih dari yang sudah dikerjakan. Ini  diungkapkan PUAN Amal Hayati Indramayu yang memohon agar fahmina lebih giat mensosialisasikan kesetaraan jender di pesantren. Lakpesdam Indaramayu memohon ada pendidikan politik bagi perempuan. Sedangkan komunitas Warga Siaga kab. Cirebon meminta ada kegiatan terkait kesehatan dan keselamatan ibu-ibu yang melahirkan. Sementara itu, komunitas Sopir dan LSM Bannati juga meminta untuk terus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan pengorganisasian dan penguatan rakyat. Dari organisasi kemahasiswaan, PMII Cirebon menyarankan ada pelatihan atau pendidikan khusus mahasiswa, mengenai pentinganya visi keadilan dan pemihakan rakyat.

Beberapa hanya mengungakapkan rasa terimakasih atas kiprah Fahmina. Seperti komunitas Tionghoa dan umat Kritiani kota Cirebon dan Ahmadiyah Kuningan, yang merasa telah mendapatkan manfaat dari advokasi yang dilakukan Fahmina terhadap mereka. Sementara itu peserta dari Bappeda Kota Cirebon menyatakan rasa salutnya akan transparansi keuangan Fahmina selama ini.

Di samping itu tanggapan juga muncul dalam bentuk komentar atau sikap kritis. Ini diantaranya diungkapkan oleh Fatayat NU kab. Cirebon yang menyatakan bahwa Fahmina kurang dikenal di desa-desa. Ini agak berbeda dengan komentar Komnas Perempuan yang menyatakan bahwa Fahmina bukan hanya dikenal dan menjadi milik Cirebon tetapi juga sampai dunia internasional. Kepolisian Indramayu, juga menyatakan bahwa ia banyak mendapatkan manfaat dan informasi dari Fahmina, dalam upaya pencegahan dan penanganan korban trafiking.

Ada pula tanggapan yang berupa penjelasan. Ini muncul dan diungkapkan perwakilan Suku Dayak Dermayu yang hadir, mereka menjelaskan ajaran moral mereka selama ini yang dianggap ‘sesat’ oleh MUI setempat. Selain itu semua, harapan besar muncul dan diungkapkan oleh perwakilan LBH. Ia menyatakan bahwa Fahmina ke depan harus menjadi pelopor keadilan di negeri ini.

Memang sejak kelahirannya th. 2001 sampai sekarang, Fahmina institute sebagai lembaga kajian kritis dan pemberdayan masyarakat telah lama bergumul dengan kelompok-kelompok marjinal di atas. Banyak yang telah dilakukan, tetapi masih banyak pula yang belum tergarap. Karena itu di usianya yang ke 7 th inilah Fahmina menyelenggarakan pertemuan dengan mereka semua. “Ini demi perbaikan Fahmina ke depan”, kata Faqihuddin Abd Kodir, selaku Sekjen Fahmina. Selamat Ulang Tahun Fahmina. (AM)