Dianggap Banyak Uang, TKI Rentan Korban Pemerasan di Bandara

0
596

nuryatisolaparidokbbcSampai saat ini, TKI masih menjadi sasaran pemerasan di Bandara. Hal tersebut diungkapkan Nuryati Solapari, salah satu mantan TKW yang pernah bekerja di Arab Saudi, kini ia telah menjadi Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sutan Ageng Tirtayasa, Banten. Melalui wawancara langsung seperti dilansir detikcom Senin (28/1/2013), Nuryati mengungkap isu ramai pendatan TKI secara paksa di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, diduga sebagai ajang pungutan liar menyeruak. Tak perlu ada pemaksaan pada TKI. Biarkan TKI sendiri yang memilih apakah akan pulang sendiri atau pulang dikoordinir Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI).

 

Menurutnya benar bahwa oknum-oknum di bandara menganggap TKI banyak uang. Seperti pengalamannya saat mengambil troli dan meminta tolong diangkatin barang-barangnya, dia dimintai uang Rp 20 ribu. Anehnya ketika dia menolak memberikan uang tersebut, dia malah dimarahin dan disebut pelit, “TKI pelit amat cuma Rp 20 ribu’,” jelas mantan TKI Nuryati Solapari.

“Ada keinginan beberapa TKI, mereka itu diberlakukan layaknya penumpang lain, tidak ada perbedaan. Berikan kebebasan bila TKI bisa berdikari sendiri,” imbu dia.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Nuryati Solapari, yang pernah bekerja sebagai TKW di Arab Saudi dan kini menjadi dosen Fakultas Hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Senin (28/1/2013): 

Isu pemerasan TKI di bandara dalam proses pemulangan kembali menyeruak. Nah bagaimana pengalaman Ibu saat pada 2001 pulang dari Arab Saudi, apakah menemui pemerasan oleh oknum di bandara?

Sempat, pada saat TKI di bandara banyak sekali oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan pemerasan pada kita. Sebelum berangkat kan sudah ada informasi, sudah ada cerita-cerita di bandara itu begini-begini. Itu dijadikan sebuah antisipasi buat kita, karena kita pasti kembali ke Indonesia.

Kalau khawatir apa yang harus kita lakukan, pada saat saya ke Arab Saudi, saya sisakan uang rupiah, sengaja saya mengisikan Rp 125 ribu. Sebelum berangkat sudah tahu kalau TKI yang pulang ke Indonesia itu selalu bawa uang.

Saya nggak bawa uang dalam bentuk riyal, dollar. Sebelum pulang, saya kirim ke rekening saya dulu. Saya hanya pegang uang rupiah saat berangkat. Dipersiapkan. Nah Rp 125 ribu itu saya 2 tahun di sana saat saya pulang pun masih ada.

Ternyata betul, oknum-oknum di bandara itu menganggap TKI itu banyak uang. Saat ambil troli saya minta angkatin barang, saya dimintain uang Rp 20 ribu, eh dia marah-marah dan bilang ‘TKI pelit amat cuma Rp 20 ribu’.

Harus antisipasi dari awal, membaca masalah yang timbul kalau pulang seperti itu. Kadang banyak teman-teman merasa nggak enak kalau nggak ngasih uang. Jangan terlalu royal, harus dipikirkan kembali kita kerja di sana bagaimana, sehingga orang lain tidak menganggap gampang.

Jangan karena kebebasan luar biasa, dengan uang seperti itu, tanpa proses, tanpa rencana kasih-kasih saja. Jangan-jangan dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.

Dulu waktu Ibu pulang ke Indonesia masih ada Terminal 3 kan? Nah bila ada pungutan, berapa saat itu?

Iya, dulu masih di Terminal 3. Berapanya saya lupa ya. Kalau kita masuk bandara, kalau sudah mau keluar ada semacam pendataan khusus TKI, dipisahkan ‘Yang TKI, yang TKI’ begitu. Berarti saya dipisah, ya sudahlah, ikutlah.

Saya lupa, saya pernah masuk tempat khusus didata, dicek, bayar Rp 11 ribu atau Rp 110 ribu ya. Kemudian saya ketemu keluarga saya. Keluarga saya menjemput.

Sekarang sudah ada Permenakertrans Nomor No 16/2012 tentang Tata Cara Pemulangan TKI secara mandiri, tidak lagi melalui BNP2TKI kecuali bagi yang sakit dan bermasalah?

Kalau menurut saya sebetulnya ada positif dan negatifnya. Sebetulnya, baik juga diantar ke rumah masing-masing. Yang disayangkan atau yang perlu dipertegas lagi adalah sopir atau pengantar TKI-nya sendiri yang perlu dikontrol atau pengawasan. Kalau perlu mobilnya dikasih CCTV.

Kalau pulang sendiri malah banyak sekali kerawanan, bisa dihipnotis, hilang uang, diperkosa. Atau naik taksi pun saya khawatir ngelacaknya susah.

Kalau dengan media cover seperti ini, harus ada pertanggungjawaban dari pemerintah, pengawasannya, harus dikontrol supaya tidak dijadikan lahan pemerasan. Dijemput itu sebenarnya aman lho, benar aman. Mungkin biaya yang dikenakan ya, tarifnya sekian harus jelas.

Mengenai pemerasan TKI saat proses pemulangan, apakah Ibu masih menerima keluhan dari rekan-rekan TKI?

Kalau secara langsung ke saya, khususnya di daerah saya, tidak ada. Ada beberapa teman di daerah lain seperti itu saya dengar. Di daerah saya tidak ada. Kami merasa lebih aman masuk mobil rombongan, atau mungkin jaraknya tidak terlalu ya ke Banten saja. Saya bukan memihak BNP2TKI ya, yang bermasalah itu ada persaingan usaha. Hendaknya persaingan usaha yang sehat supaya memberikan pelayanan maksimal pada TKI.

Bersaing yang bagaimana menurut Ibu? Bisa diperjelas?

Ya ini kan dikelola BNP2TKI kan. Ya saya tidak bisa mengungkapkan ya, tetapi persaingan-persaingan itu ada. Nah intinya bahwa perlindungan ini mekanisme dan sistem yang betul-betul memang dijemput TKI-nya, fasilitasnya harus oke, terjamin, harga terjangkau, tidak memberatkan TKI. Kalau perlu gratis pemulangan TKI, dan dimasukkan APBN.

Masih ada manfaat mendata TKI di bandara dan mengkoordinasikan proses pulangnya?

Di satu sisi, kalau skill dan wawasannya oke nggak masalah pulang sendiri. Kalau seandainya dia traumatik, banyak masalah, kalau dipulangkan sendiri menambah masalah juga. Kalau tidak bermasalah bisa langsung pulang ke kampung halamannya, kalau bingung, depresi bagaimana bisa mengetahui hal seperti itu (pulang mandiri).

Ada keinginan beberapa TKI mereka itu diberlakukan layaknya penumpang lain, tidak ada perbedaan perlakuan. Berikan kebebasan pada TKI yang bisa berdikari sendiri, nggak usah ada pengelompokan TKI harus begini begini, bagus juga itu.

Namun kalau pulang sendiri juga rawan. Berarti tetap saja BNP2TKI ini. Kalau TKI nggak bermasalah ya pulang saja. Berikan TKI haknya, yang penting kontrol. Berikan pilihan saja, kan TKI bisa mengukur diri sendiri. Kalau merasa nggak bisa ya sudah, inilah jalannya (pulang dengan dikoordinasi BNP2TKI).

Ada imbauan lain pada rekan-rekan TKI bila pulang ke Indonesia, selain tidak membawa uang rupiah terlalu banyak?

Yang penting kita harus waspada. Kita kalau naik kendaraan lihat ciri-ciri fisik pengemudi, jangan berpenampilan berlebihan, biasa-biasa saja. Sebelum pulang, kita kontak keluarga, saya pulang jam kapan, mendarat jam sekian, estimasi sampai rumah jam sekian, harus dikroscek.

Ada imbauan pada pemerintah mengenai proses pemulangan TKI?

Sepertinya pemerintah itu sudah tahu masalah TKI seperti apa, belum alternatifnya saja. Maksud saya berikanlah hak perlindungan yang maksimal pada TKI, mereka harus punya pemikiran bahwa TKI ini anak bangsa perlalukan dia secara manusiawi. Wujudkan pelayanan yang prima pada TKI, bangsa kita sendiri.

Selama ini, yang berhadapan dengan TKI, mohon maaf ya, orang selalu membuat penilaian TKI dari fisiknya saja, memandang sebelah mata seperti itu. Berilah kebebasan itu pada TKI, kebebasan bukan sebebas-bebasnya. Mengontrol, pengawasan seberapa besar pelayanan itu pada TKI, pembekalan bagaimana menghadapi situasi, sebelum, sedang dan purna dan memastikan TKI sampai di daerahnya masing-masing.

(nwk/nrl)

(sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/28/191609/2154544/158/nuryati-solapari-tki-rawan-pemerasan-di-bandara-karena-dianggap-banyak-uang)