Gerakan Transnasional Menguat Karena NU Melemah

0
600

Terjadinya suatu pergolakan adalah karena adanya suatu penyebab. Dalam sejarah, reaksi muncul karena ada aksi. Fenomena mnculnya aliran Islam garis keras yang sekarang dikenal dengan berorentasi transnasional itu aksi ataukah reaksi? Yang menarik justru kita gamang atau gelagapan menghadapi kenyataan menguatnya gerakan Islam transnasional itu. Kita tidak menduga ini akan muncul, karena selama ini kita seakan merasa sudah mewakili umat Islam Indonesia. Tapi kenyatanya malah sebaliknya. Mengapa yang demikian itu terjadi?

Ini karena banyak hal. Pertama dan utamanya adalah karena banyak sekali lembaga di NU sekarang ini kurang berfungsi efektif. Kedua, kita sebagai warga atau penggiat NU biasanya terlalu enjoy dengan pemikiran-penmikira besar, seperti HAM, pluralisme, demokrasi dan lain sebagainya. Sehingga kita lupa kenyataan-kenyataan riil  yang terjadi di masyarakat. Bahkan terkadang akhir-akhir ini kita juga  mengecam kyai. Pada akhirnya masyarakat pesantren takut untuk masuk dan aktif di NU.

Sekarang ini, kita melihat ideologi transnasional itu terus berkembang, santri-santri banyak masuk di dalamnya. Karena itu jangan marah kalau justru teman-teman kita sendiri yang memukuli dan bersebrangan dengan kita. Inilah persoalan yang harus kita koreksi bersama. Jadi hendaklah kita koreksi diri sendiri, kita benahi di dalam, jangan hanya marah-marah pada pihak luar tapi tanpa melihat kelemahan yang nyata ada pada diri-sendiri.
Kita ini seperti orang yang tidak mengerti. Katanya kita ini negara demokrasi yang membebaskan pemikirian-pemikiran dan aspirasi apa pun, tapi nyatanya kita justru mengatakan bahwa mari waspadai gerakan transnasional. Memang gerakan transnasional mengancam Pancasila dan NKRI, tetapi kita tidak usah kebakaran jenggot. 

Jadi saya berharap kita menjadi NU yang berani, dan jangan jadi warga NU yang cengeng dan hanya bisa marah. Saya kira hampir semua kita maklum bahwa sekarang ini terjadi penurunan kharisma dan pengaruh kyai di masyarakat. Apalagi jika kyai hanya menyibukkan diri melakukan akrobatik politik paraktis dan pragmatis, maka tentu tidak akan dianggap lagi oleh masyarakat. Karena itu, marilah kita hargai kyai-kyai yang di desa. Mereka selama ini secara bijaksana mendampingi dan melayani masyarakat.

Demikian diungkapkan KH. Syarief Utsman Yahya (Abah Ayip) sebagai narasumber dalam acara bedah buku “Mewaspadai Gerakan Transnsional” yang diselenggarakan Lakpesdam Cirebon di pesantren Kempek pada 16 Oktober 2007 yang lalu. Acara yang dihadiri oleh pengurus Lakpesdam wilayah Jabar (DR. Tatang) dan Lakpesdam Pusat (Ala’i Najib) ini dimaksudkan juga sebagai ajang silaturrahmi generasi muda Cirebon yang tersebar di kota-kota besar. Selain itu, hadir pula kyai-kyai pesantren dan pengurus PCNU Cirebon.

Selain Abah Ayip, KH. Husein Muhammad (dewan kebijakan Fahmina) dan Ny. Hj. Mariah Ulfah (PP Fatyat NU) juga hadir sebagai narasumber pembanding. Menurut KH. Husein, munculnya fundamentalisme merupakan reaksi dari pihak yang tidak puas dan terpinggirkan. Problemnya terletak kemiskinan dan kebodohan. Karena itu penyelesaiannya mesti terkait dengan pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan pendidikan. Sementara Hj. Mariah Ulfah tetap berusaha meningatkan bahwa gerakan transnasional itu nyata adanya, jelas ancamanya. Ini sesuai pengalaman beberapa fatayat di daerah, seperti fatayat di Bau-Bau. “Di Bau-Bau, MUI setempat bahkan memfatwakan haramnya melakukan acara mauled Nabi” tutur Mariah.

Buku Mewaspadai Gerakan Transnsional sendiri diterbitkan atas kerjasama Lakpesdam dan PP Fatayat NU. Penerbitan buku ini hanya satu langkah dari kegiatan-kegiatan lain yang berorientasi pada penguatan tradisi NU. Kegiatan lainnya adalah penerbitan Buletin Aswaja yang diterbitkan bulanan dan disebar ke masyarakat nahdhiyin. Isi tulisan buletin ini adalah info dalil-dalil seputar tradisi peribadatan warga NU yang dalam beberapa hal mulai disalah-salahkan oleh kelompok ‘transnasional’.  Selain itu direncanakan pula bahtsul kutub di pesantren-pesantren dan bahtsul masail waqi’iyah di beberapa mushola di Cirebon. Demikian dijelaksan Ali Mursyid, ketua Lakpesdam Cirebon. “Bedah buku ini dimaksudkan sebagai langkah awal dari bahtsul kutub di pesantren-pesantren tersebut, katanya lebih lanjut. (AM)