Hentikan Kebiadaban Israel, Dukung Kemerdekaan dan Kedaulatan Palestina

0
603
Photo by DHONI SETIAWAN/KompasSampai saat ini Israel terus mendapat kecaman keras dari masyarakat internasional, terutama terkait penyerangan militer Israel atau misi bantuan masyarakat internasional ke Gazza. Israel juga menahan 682 aktivis dari 35 negara, saat penyerangan yang menelan korban jiwa.

Sebagai salah satu lembaga yang ikut mendorong terciptanya masyarakat demokratis dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan etnis, ideologis, gender dan agama, Fahmina-institute Cirebon mengutuk kekejaman yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina dan relawan kemanusiaan.

Direktur Fahmina-institute Cirebon, Marzuki Wahid mengungkapkan, apa yang dilakukan Israel tidak saja telah melanggar prinsip-prinsip dan hak-hak asasi manusia yang semestinya ditaati oleh semua bangsa di dunia, tetapi juga telah melawan perjanjian dan hukum internasional.

“Ini bukan soal agama atau etnik, tapi soal kemanusiaan dan keadilan yang diinjak-injak secara biadab oleh suatu bangsa yang arogan. Fahmina mendukung penuh kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Adalah hak penuh Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan mengatur segala kepemerintahannya sendiri secara otonom, tanpa intervensi dari pihak manapun, apalagi Israel. Mari kita berdoa dan tunjukan solidaritas kita untuk perdamaian Timur Tengah dan perdamaian dunia,” ungkapnya

Hal serupa diungkapkan Ketua Pengurus Yayasan Fahmina, Faqihuddin Abdul Kodir terkait kekejaman Israel terhadap warga Palestina. “Fahmina mengecam dan mengutuk kebiadaban Israel. Sudah cukup, sebagaimana kata Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan, Israel harus dihukum, dan semua harus kembali ke meja perdamaian. Karena ini soal kemanusiaan, bukan soal Yahudi atau yang lain,” tandas Faqihuddin.

Bagi Faqihuddin, bahkan tindakan Israel memblokade akses sebuah misi kemanusiaan yang datang ke Gazza Palestina, itu sudah merupakan tindakan yang sangat kejam. Karena akses tersebut diblokade dari apapun, termasuk dari luar negeri demi keberlangsuangan hidup warga Palestina.

“Ternyata misi damai pun diserang oleh Israel dan dibantai, padahal mereka berada di dalam kapal tanpa senjata sama sekali. Wujud Israel saja yang wilayahnya terus bertambah, sementara Palestina terus berkurang dan menghilang. Ini sudah merupakan bentuk kecurangan tatanan dunia modern, di samping perpecahan umat Islam yang direpresentasikan negara-negara Arab sebagai kesalahan tersendiri,” paparnya.

PBB Harus Ambil Langkah Tegas

Seharusnya PBB segera mengambil langkah tegas terhadap Israel, agar menghentikan segala arogansi dan kebiadabannya terhadap Palestina dan bangsa lain. Selain itu juga menyelesaikan seluruh persoalan konflik Israel-Palestina hingga tuntas menyentuh akar-akarnya. Menjadi aneh, menurut Marzuki, jika dalam konteks ini PBB tampak gamang dan ragu untuk menghukum Israel. Indonesia juga seharusnya pro-aktif terlibat dalam perdamaian ini, jangan berhenti pada tataran wacana, tetapi harus mengirimkan misi kemanusiaan dan memberikan solidaritas penuh kepada negara dan bangsa Palestina yang terus didholimi.

Faqihuddin menambahkan, tanpa melihat persoalan internal Arab dan persoalan pelik politik dunia, Israel, dan Palestina, penembakan misi kemanusiaan adalah kejahatan kemanusiaan dan kebiadaban. Padahal misi tersebut sudah diikuti oleh berbagai NGO internasional, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam apalagi Hamas; dari Spanyol, Itali, Jerman, Yunani, Siprus dan Inggris.

“Memang dimotori oleh Turki, tetapi, Turki hanya menggunakan label kemanusiaan dan tidak membawa apapun yang terkait dengan politik internal Israel-Palestina. Palestina telah lama ditutup aksesnya dari luar negeri, baik darat, laut, maupun udara, untuk urusan apapun. Termasuk untuk menerima bantuan kemanusiaan. Dalih Isreal bahwa akses itu dimanfaatkan Hamas untuk menerima bantuan senjata, tetapi alasan yang sama tidak berlaku untuk Israel”. (a5)