Hidup Ini Untuk Apa dan Mau Kemana?

Oleh: KH Husein Muhammad

0
764
Sumber Gambar: Internet

Seorang teman karib menemuiku di tempat aku menginap untuk dua malam. “Aku kangen ngobrol dengan “njenengan”, seperti dulu kala yang indah”, katanya. Kata “seperti dulu kala” menunjuk hari-hari saat aku masih kos di Menteng, antara tahun 2007-2014.

Aku menyambutnya dengan riang. Aku lalu mengajaknya menyusuri jalan kenangan di seputar kawasan Menteng yang mengesankan dan menyimpan keindahan melankolis. Bila tiba di TIM, kami berhenti dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol. Dia pesan kopi, aku pesan teh tawar. Dia mengambil sebatang rokok dan mengisapnya. Aku tak lagi merokok dan ngopi. Dilarang dokter. Lalu perbincangan berlangsung hangat.

Banyak hal diperbincangkan antar aku dan dia. Kami bercerita dan berceloteh ngalor ngidul tentang pengalaman hidup di ibu kota dengan seluruh suasana hiruk-pikuknya. Kami bicara tentang manusia berikut problematika, ambiguitas dan paradoks-paradoks kehidupan. Mengasyikkan. Aku bertanya sendiri: “hidup ini untuk apa dan mau kemana?. Tampaknya kita hidup hanya untuk mempertahankan hidup. Semua orang ingin dan sangat berambisi untuk mencari kenikmatan hidup selama-lamanya di sini, meski tahu tak mungkin. Setiap yang hidup pasti akan mati. Semuanya akan berhenti dan tak akan kembali selama-lamanya”. Kataku

Aku segera ingat Ibnu Athaillah al-Sakandari, sufi “master”, mengatakan dalam karya Magnum opusnya “Hikam” :

َما مِنْ نَفَسٍ تُبْدْيهِ إلّا وَلَهُ قَدَرٌ فيكَ يُمْضِيهِ

“Nafas yang kau hembuskan selalu memiliki batas berhenti atas keputusan Dia”.

Temanku menyahut: “Hidup bagai kisah Sisifus”. Temanku ini sering menulis cerpen di majalah sastra Horison dan menulis Novel.

“Ya seperti dalam Novel Sisifus karya Albert Camus, yang terkenal itu”, jawabku.

Akhirnya aku bilang begini :

Setiap kita adalah pengelana yang menyusuri jalan di bumi. Di sini masing-masing mencari dirinya sendiri dan membawa dirinya sendiri.

Kita datang atas kehendak-Nya, bukan atas kehendak kita,
dan akan meninggalkannya atas kehendak-Nya pula,
bukan atas kehendak kita.

Nabi mengatakan:

ما انا فى الدنيا الا كعابر سبيل استظل تحت شجرة ثم راح وتركها .

“Aku di dunia ini hanyalah bagai pejalan, musafir (pengembara) yang bernaung sejenak di bawah pohon, lalu berangkat lagi dan meninggalkannya”.

Abdurrahman Badawi, filsuf Eksistensialis dari Mesir mengatakan :

بالصدفة اتيت الى هذاالعالم وبالصدفة ساغادر هذاالعالم. (عبدالرحمن بدوى).

“Tiba-tiba saja aku datang ke dunia ini, dan tiba-tiba pula aku akan meninggalkannya”.

Kita akan kembali ke asal,
sendiri-sendiri, sebagaimana kita datang
Lalu kita pulang untuk menghadap-Nya
sendiri-sendiri, membawa diri sendiri
tak ada seorang pun yang menemani perjalanan pulang itu, tak ada lagi para kekasih
Tak ada apapun yang dibawa serta kecuali “diri” dan pengalamannya selama hidup.

Tubuh kasar, berikut selyruh keindahannya akan menjadi mayat, bangkai dan akan segera hancur lebur, menyisakan tulang belulang.