Ihya: Lebih Arif Jika SKB Ditunda

0
699

GEBANG-Satu-satunya solusi terbaik bagi pemerintah dalam mengatasi pro-kontra keberadaan jemaat Ahmadiyah adalah membatalkan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Jaksa Agung, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri. Seperti diungkapkan Dosen Sosiologi Universitas Indonesia (UI) H Muhammad Ihya. 

 

Menurutnya, penundaan dikeluarkannya SKB tentang Ahmadiyah tersebut menunjukkan kearifan pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut. “Harapan saya pemerintah tidak mengeluarkan SKB tersebut. Sebab bagaimanapun juga resikonya jauh lebih kecil dibanding pemerintah tetap mengeluarkan SKB. Persoalan Ahmadiyah tidak sesederhana seperti yang dipikirkan selama ini. Sebab didalamnya berkaitan dengan isme atau faham. Meskipun institusinya dibubarkan, tapi isme ajaran Ahmadiyah akan tetap eksis,” katanya kepada wartawan koran ini, kemarin (6/5).

Munculnya penolakan terhadap jemaat Ahmadiyah yang menimbulkan gejolak di masyarakat juga membuktikan fundamentalisme agama sudah menggeliat di tanah air ini.“Mereka kelompok fundamentalisme ini merasa dirinya paling benar, sehingga tidak mau menerima perbedaan faham. Mereka mengkaji Islam tidak secara kontekstual tapi hanya sebatas normatif saja. Sehingga ketika muncul perbedaan penafsiran, yang terjadi justru tindakan anarkis. Padahal Islam sangat menentang kekerasan. Fundamentalisme ini bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan persaudaraan umat Islam di Indonesia,” sindirnya. Masih menurut dia, sebagai masyarakat beragama, jemaat Ahmadiyah masih menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Islam Sunni pada umumnya seperti salat, dan mengakui kitab Alquran. “Hanya saja Ahmadiyah punya penafsiran lain soal Nabi itu sendiri. Lalu siapa yang boleh melarang. Sama halnya seperti kita punya penafsiran berbeda kepada mereka. Lalu apa hak kita untuk melarang Ahmadiyah. Semuanya adalah otoritas Allah SWT. Dalam Islam dijelaskan bahwa hukum itu senantiasa berputar sesuai adanya sebab atau tidak adanya sebab. Jadi tidak ujug-ujug. Islam harus membumi tidak hanya melangit,” tukas tokoh ulama dari Gebang Kulon ini.

Meski secara prinsip kalangan Sunni (Nahdliyin) tidak pernah sepakat dengan Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi, namun jemaat Ahmadiyah tidak pernah merusak ideologi masyarakat Sunni. Ini menandakan bahwa perbedaan dalam Islam benar-benar menjadi sebuah rahmah tanpa menimbulkan permusuhan atau pengrusakan.

“Kita harus berani melakukan perluasan dakwah. Kalau di Indonesia dimasuki ajaran Islam yang fundamentalisme ini, tidak mungkin pulau Jawa akan menjadi pusat Islam di dunia. Mari belajar Islam secara utuh dan tidak hanya tekstual tapi kontekstual sehingga tidak mudah “angkat senjata” untuk menghabisi orang lain yang tidak sefaham. Tidak mudah mengkafirkan dan membid’ahkan orang lain lantaran berbeda faham,” tandasnya. (dik)


sumber: Radar Cirebon, Rabu, 7 Mei 2008