Jumat, 11 Oktober 2019

Inilah Cara Pelita Perdamaian ikut Pulihkan Banjir Cibingbin

Baca Juga

Fahmina.or.id, Kuningan – Organisasi kepemudaan Pelita Perdamaian Cirebon menunjukkan kepedulian tinggi pada masa depan lingkungan, hal itu dibuktikannya dengan pemberian bantuan ratusan bibit pohon untuk korban bencana bajir bandang di Desa Ciangir Kecamatan Cibingbin, Rabu (8/2).

Kordinator Bidang Sosial Pelita Perdamaian Cirebon Ahmad Hadid menyatakan, bantuan tersebut lahir dari rasa empati terhadap bencana yang dipastikan membutuhkan tanaman yang bisa membantu serapan air.

“Tujuannya untuk menanggulangi panca bencana, karena sebab utama bencana tersebut minimnya resapan air dari pepohonan di sekitar wilayah banjir,” ungkapnya.

Dikatakan, ratusan bibit pohon itu diserahkan kepada kepala Desa Ciangir yang kemudian dalam waktu dekat ditanam disekitar lokasi banjir. Menurutnya, hasil penelitian dan tinjauan di lapangan, selain gundulnya lahan perhutani menjadi yang fakor utama banjir, apalagi kawasan Cibingbin terutama Desa Ciangir tidak punya hutan.

“Menururt pemdes disana hutannya habis ditanami padi dan kopi oleh tetangga desa yang lintas propinsi,” tuturnya.

Hadid menambahkan, di lahan perhutani juga diisi tanaman perkebunan termasuk pada lahan yang merupakan wilayah Cibingbin. “Warga disana pernah mengadakan diskusi perbatasan, tapi berbenturan dengan Dinas Perhutanan yang menganggap itu adalah program pemerintah terkait ketahanan pangan,” bebernya.

Disamping itu, menurut Hadid, bukit-bukit di sekliling lokasi banjir juga mulai ditebangi beralih fungsi menjadi tempat pariwisata. Berkenaan dengan itu ada beberapa hal yang menjadi prioritas utama untuk pemulihan dan penanggulangan bencana tersebut.

“Diantaranya ya dengan penanaman hutan kembali, selain memberikan bantuan bahan bangunan untuk penduduk yang rumahnya terkena dampak banjir serta bantuan bibit unggul padi.“katanya

“Kegiatan dan bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bukan hanya untuk masa sekarang, tapi juga dimasa yang akan dating,” imbuhnya.

Lanjut Hadid, agenda sosial tersebut adalah hasil kerjasama dengan beberapa pihak yang peduli akan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Cibingbin. “Kerjasama kami bangun dengan pihak GKI Rahmani Cirebon dan pihak yang lainnya,” pungkasnya. (zain.ab)

1 KOMENTAR

  1. […] Lanjut Hadid, agenda sosial tersebut adalah hasil kerjasama dengan beberapa pihak yang peduli akan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Cibingbin. “Kerjasama kami bangun dengan pihak GKI Rahmani Cirebon dan pihak yang lainnya,” pungkasnya. (zain.ab/sumber berita di sini) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya