Inisiasi Blog Jaringan Radio Komunitas

0
742

Pertemuan JarikUntuk memperkuat jalinan ikatan emosional antarpenggiat radio komunitas yang ada di wilayah III Cirebon, Jaringan Radio Komunitas (JARiK) Wilayah III Cirebon kembali adakan pertemuan jaringan (26/4). Pertemuan diselenggarakan di bumi perkemahan Sidomba Kuningan. Hadir pada kesempatan itu, 40 penggiat rakom dari Cirebon, Kuningan dan Majalengka seperti: AJ FM, Caraka FM, Baina FM, Bhuana FM, BBC FM, Best FM, Palem FM, AIN FM, dan Q-Lan FM.

Menurut Ketua JARiK Ahmad Rovahan, acara ini merupakan pertemuan rutin dua bulanan sebagai forum berbagi informasi terkait perkembangan pengelolaan radio dan isu-isu komunitas. “Selain konsen dalam penyiaran, para penggiat radio komunitas yang tergabung dalam JARiK juga ikut aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, seperti penyuluhan AIDS dan Narkoba. Termasuk mereka giat pula melakukan advokasi terhadap korban-korban trafiking, KDRT, dan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan lainnya”, terang Rovahan.

Pada pertemuan kali ini, JARiK menghadirkan konsultan website Fahmina-institute, Joane Ellisabeth McMillan dan Sarwono dari Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta untuk membahas  pengelolaan dan pemberdayaan media komunitas. Disebutkan oleh Rovahan, JARiK sebenarnya sudah bergabung dengan Website Suara Komunitas (SK) yang difasilitasi oleh CRI Yogyakarta. Dalam website tersebut, rakom di seluruh Indonesia bisa mengekspose seluruh berita yang terjadi pada setiap komunitasnya. Namun, karena JARiK juga memiliki anggota yang cukup banyak, sehingga pihaknya berinisiatif membuat media komunitas sendiri untuk bisa dimanfaatkan oleh anggota jaringannya tanpa meninggalkan SK. Nantinya setiap rakom dan komunitasnya bisa menyuarakan segala informasi seputar komunitas mereka melalui media yang akan digagas tersebut. Konten berita dan informasi mungkin lebih bersifat lokal. Sedangkan dari sisi penulisan dan penyampaian konten akan dibuat selonggar mungkin agar siapapun bisa berkontribusi informasi. Tidak terbatas kepada mereka yang memiliki latar belakang jurnalistik saja. melainkan warga biasa pun didororng agar berani dan mampu menyuarakan keluh kesahnya. Yang penting pesan tersampaikan, dan suara warga terekspos. “disini suara masyarakat yang sebelumnya tidak bisa didengar akan kita suarakan secara jelas apa adanya, harapannya agar diperhatikan dan didengar oleh para pengambil kebijakan” Jelas Rovahan.

Di tambahkan Rovahan, untuk tahap awal setiap rakom membuat blog sendiri-sendiri. Adapun JARiK akan menginisiasi Blog khusus untuk jaringan yang didalamnya akan men-link-kan blog-blog rakom tersebut. “Media komunitas kita dalam bentuk blog dulu, tidak menutup kemungkinan selanjutnya kita akan kembangkan dalam bentuk website” terang Rovahan.

Menurut Sarwono, keberadaan media komunitas atau warga yang dikelola sendiri oleh warga saat ini sangat penting. Apalagi manakala media-media mainstream kurang sekali menyuarakan informasi-informasi seputar warga atau komunitas. “Prinsipnya media komunitas dalam berbagai bentuk baik itu radio, website, blog, atau media-media lain didorong agar bisa berfungsi sebagai corong bagi warga atau komunitas untuk menyuarakan suara-suara mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah tersuarakan” pungkas Sarwono. ()