Penulis H. Mun`im DZ (kiri) sedang menjelaskan isi buku Benturan NU-PKI 1948-1965 di hadapan ratusan pelajar IPNU dan IPPNU Kabupaten Cirebon. di Gedung Serbaguna IAI BBC, rabu (28/9).

Fahmina.or.id, Cirebon. Ratusan pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdatul Ulama (IPPNU) mengikuti diskusi dan bedah buku putih Benturan NU-PKI 1948-1965 di Ruang Serbaguna Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC), Jl. Tuparev Cirebon, Rabu (28/9).

Dalam kesempatan tersebut penulis H. Abdul Mu`im DZ menyampaikan, selama lebih dari lima puluh tahun silam tragedi 65 menyisakan luka dan trauma. Terutama tuduhan yang ditujukkan kepada NU sebagai pelaku utama kerusuhan tersebut. Menurutnya dengan alasan itulah NU merasa perlu menerbitkan buku ini sebagai respon terkait pristiwa itu dari kacamata NU.

“Ada pihak yang memojokkan NU sebagai pihak yang tertuduh membantai PKI, para kiai meminta NU untuk membuat buku sejarah kerusuhan 65 versi NU untuk meluruskan pandangan sebelumnya,” terang Wakasekjen PBNU itu seusai acara.

Mun`im mengatakan, saat ini ada pihak yang ingin memecah hubungan yang sudah dibangun pasca kerusuhan 65, yang menurutnya sudah terjadi rekonsiliasi secara alamiah. Ia menegaskan lewat buku itu tidak sedang mengungkap kebencian, namun ingin mengubah persepsi terhadap NU yang buruk. Pasca peritiwa itu semuanya kembali diterima dengan baik diperlakukan dengan baik.

“Ada pihak ketiga ingin kita tidak rukun lagi, harus ada pengadilan, NU harus diadili, tentara diadili. Yang sudah kita bangun mencoba diruntuhkan. Kita (NU) tidak anti PKI. Kita selesaikan konflik sejarah, dengan saling memaafkan dan mengisi kemerdekaan bangsa tanpa menyudutkan satu sama lain.” sambungnya.

Sementara itu Rosidin, selaku pembanding dalam diskusi tersebut, mengungkapkan apresiasinya terhadap penerbitan buku ini. Menurutnya hal ini merupakan bentuk reaksi dari tuduhan NU sebagai pelaku kerusuhan 65. Ia berharap agar terbit pula respon atas sejarah kerusuhan itu dari berbagai sudut pandang lainnya agar kita terhindar dari pristiwa yang sama.

“Jika ingin menyandingkan perspektif lain sngat setuju ini pandangan NU, harapnnya ada pandangan lain dari  Muhamadiyah dan kelompok terlibat lain atas pristiwa itu. Bukan untuk dendam tapi untuk belajar agar pristiwa itu tidak terulang kembali,” ungkap Direktur Fahmina itu.

Dari kegiatan ini Aida Nurfajrianti selaku ketua IPPNU berharap memberikan wawasan baru terkait sejarah kelam bangsa ini secara proporsional dan dapat menjadi pelajaran yang baik agar pristiwa tidak terulang kembali.

“Diskusi ini diharapkan memberi wawasan baru kepada rekan dan rekanita IPNU dan IPPNU, ketika ada pertanyaan bagaimana benturan NU danpki bisa menjawabnya,” tukasnya.(ZA)