Jaga Pelita, Wadah Perempuan Lintas Agama

0
11

Oleh: Ida Ad`hiah

Jaga Pelita merupakan singkatan dari Jaringan Gerakan Perempuan Lintas Agama yang terbentuk pada tanggal 25 Oktober 2019 dan di pelopori oleh perempuan-perempuan dari berbagai agama, GKP, GKI, Katolik, muslim Nahdatul Ulama, ada pula muslim Jaringan Ahmadiyan Indonesia (JAI). Awal terbentuknya Jaga Pelita adalah karena seringnya perempuan-perempuan dari berbagai agama ini melakukan kopdar  sembari ngobrol ringan dan melakukan pertemuan-pertemuan yang di inisiasi oleh Fahmina Institute.

Sebelum Jaga Pelita dibertuk tercetus nama “Srikandi Lintas Iman” untuk menamai komunitas para perempuan ini. Nama Srikandi lintas iman ini terinspirasi dari Srikandi Yogyakarta yang awalnya di ceritakan oleh Alifatul Arifiati saat perkumpulan tersebut, serta ketua Srikandi Yogyakarta ini juga pernah menjadi salah satu narasumber di pendidikan publik yang diadakan di Kuningan.

Sri Rezeki, salah satu pencetus komunitas ini menyarankan untuk mengganti nama Srikandi Lintas Iman menjadi Jaga Pelita (Jaringan Gerakan Perempuan Lintas Agama), dimana nama Jaga Pelita ini juga atas  usulan dari pendeta Yayan, yang kemudian disepakati oleh semua anggota komunitas. Dengan adanya komunitas ini, banyak sedikitnya bisa membawa perubahan baik bagi personal anggota Jaga Pelita ataupun masyarakat lebih luasnya, seperti yang dikatankan oleh ibu Intan “dengan adanya Jaga Pelita ini saya lebih banyak teman dari lintas agama, bisa belajar untuk bertoleransi antar umat beragama,  kegiatan yang dilakukan oleh Jaga Pelita juga menurut saya sudah bisa menjalankan visi misinya untuk menjadi sahabat dalam kemanusiaan. Paling penting di Jaga Pelita kita tidak membawa bendera masing-masing ya, kalau istilah saya seperti es campus menyatu dalam satu wadah tapi tetap punya ciri dan rasa tersendiri”. Seperti yang dikatan bu Intan Jaga Pelita juga mempunyai hastag tersendiri yaitu “#sahabatdalamkemanusiaan” yang diinisiasi oleh Ibu Setiowati salah satu anggota komunitas.

Komunitas ini juga sudah melakukan berbagai macam kegiatan, terlebih di masa pandemi ini, seperti melakukan pelatihan pengelolaan sampah, pelatihan pembuatan pupuk organik, melakukan kunjungan ke komunitas/kelompok agama lain, sampai terjun bersama masyarakat untuk membersihkan sungai-sungai yang terdapat banyak sampah dan jalan raya, melakukan baksos di beberapa desa dan kecamatan di saat pandemi covid 19 ini dan lain-lain. Seiring berjalannya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini, makin banyak pula yang ikut bergabung bersama Jaga Pelita.

Kata penutup dari ketua pelita ibu Sri Rezeki “ Semoga dengan terbentuknya Jaga Pelita bisa menjadi wadah para perempuan untuk saling peduli satu dengan yang lain tanpa ada perbedaan apapun, baik suku, agama, ras, bahasa dan lainnya”