Jembatan Itu Bernama Dr. Opan

0
88
Dr. R. Achmad Opan S. Hasyim

Oleh: Abdul Rosyidi

Budayawan Cirebon, Dr. R. Achmad Opan S. Hasyim (Dr. Opan) meninggal dunia tepat pada Hari Raya Idul Fitri, Kamis 13 Mei 2021. Kepergian yang mengagetkan masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Sesiapa yang pernah berinteraksi dengan beliau tentu mempunyai kesan yang berbeda tentangnya. Bukankah manusia itu seperti bawang? Mempunyai banyak lapisan. Orang mengenal sosok tertentu pada lapisan-lapisan yang berbeda. Maka tulisan ini hanyalah satu lapis saja dari seorang murid perindu yang mencoba mengingat kembali saat-saat perjumpaan dengan gurunya.

***

Sejak dulu bacaan sejarah saya di sekolah tak pernah menarik, cenderung membosankan. Sejarah hanya serentetan catatan prestasi atau malapetaka elit penguasa. Begitupun, sejarah Nusantara tak lepas dari muncul, berkembang, dan hancurnya sebuah kerajaan. Sekali lagi, bagi saya, ini sungguh membosankan.

Semuanya berubah sejak saya membaca Nusa Jawa: Silang Budaya. Buku berjudul asli Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale ini sangat istimewa karena menawarkan perspektif berbeda dalam mengungkapkan masa lalu. Penulisnya, Denys Lombard, disebut Sartono Kartodirdjo sebagai sejarawan madzhab Annales. Sebuah madzhab yang menekankan “mentalitas”.

Ketertarikan yang sama saya dapatkan dari sosok guru yang ahli tentang Cirebon, Dr. Opan. Saya katakan “ahli tentang” karena pengetahuannya tentang Cirebon melewati batas-batas disiplin keilmuan. Beliau sering dikenal sebagai sejarawan. Tapi orang juga mengenalnya sebagai filolog, ahli naskah kuno. Secara akademik, Dr. Opan memang menyelesaikan S2 dan S3 nya di jurusan filologi Universitas Padjadjaran (Unpad). Tapi orang juga mengenalnya sebagai budayawan bahkan seniman lukis kaca. Sanggar Nurjati yang dia dirikan menghasilkan banyak karya. Murid-muridnya menjelma menjadi seniman lukis kaca yang disegani. Diantara mereka adalah teman dekat saya, Doddie dan Sukanda.

Lebih dari itu, bagi saya, Dr. Opan merupakan perwujudan “mentalitas” Cirebon. Beliau mengawali karirnya sebagai pelukis kaca. Lukisan kaca yang dia tekuni ternyata mempunyai banyak motif dan salah satu motif utama lukis kaca Cirebon adalah wayang adegan. Wayang adegan yang ditelusurinya ternyata merupakan tiruan dari gambar dalam naskah-naskah cerita wayang yang biasa digunakan para dalang. Kebetulan beliau juga penggemar berat wayang.

Dr. Opan pun menekuni dan terus menelusuri naskah-naskah wayang tersebut. Akhirnya beliau menceburkan diri menggeluti dunia penaskahan. Di luar itu, dari modal kecintaannya kepada wayang, beliau merambah pengetahuan tentang kesenian-kesenian lain di Cirebon. Untuk memaknai kesenian-kesenian itu, seringkali Dr. Opan mengutip perspektif Suluk Pesisiran (Suluk, The Mystical Poetry of Javanese Muslims) karya Prof. Simuh.

Menurutnya, seni Cirebon sangat simbolik. Pesan yang terkandung di dalamnya sangat spriritual, utamanya pengaruh dari ajaran-ajaran tarekat. Semua seni Cirebon mengajarkan pada kemenyatuan antara yang manusiawi dengan yang ilahi. Orang mengenalnya dengan jargon manunggaling kawula gusti.

Dalam Kalangwan, sebagaimana yang ditulis P. Swantoro, P.J. Zoetmulder mengatakan bahwa kemanunggalan tidak bisa dicapai seketika. Ia memerlukan proses, seni, laku, konsentrasi, jerih-payah, dan pengorbanan. Seni bagi orang Cirebon adalah salah satu sarana untuk manunggal. Kesenian Cirebon, diyakini Dr. Opan, seperti yang juga diyakini banyak seniman di Cirebon adalah perwujudan dari aji diri manusia Cirebon. Maka tak heran kesenian apapun di Cirebon selalu disandarkan pada seorang yang memiliki simbol puncak spritualitas: Wali. Dalam hal ini, Sunan Kalijaga.

Dr. Opan memiliki pembawaan yang cepat akrab dengan orang lain. Beliau sangat mahir bercerita dan karenanya dia mendapatkan pengetahuan baru dari para koleganya, pemilik naskah, seniman, hingga peneliti yang wara-wiri ke Cirebon. Jaringan keilmuan inilah yang membawanya ke Hebrew University of Jerusalem pada 2019 atas undangan dari peneliti sejarah dan budaya Indonesia, Prof. Ronit Ricci. Dalam pertemuan tersebut, Dr. Opan menjelaskan tentang disertasinya yang mengangkat Naskah Bramakawi Perangjaya (NBPJ) sebagai manuskrip yang menjadi inspirasi seni lukis kaca.

Meskipun mengangkat epos Mahabarata, NBPJ sangat kontekstual, mengambil semangat dan kondisi Cirebon. NBPJ adalah contoh di mana sebuah teks sangat akomodatif terhadap realitas. NBPJ dibuat saat kondisi masyarakat Cirebon sedang melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Perangjaya sebagaimana Mahabarata adalah alegori bagi terjadinya peristiwa Perang Saudara di Cirebon. Perang antara orang-orang yang mengakomodasi kepentingan Kolonial dan orang-orang yang kukuh melawannya.

Saya tak pernah menyangka, kecintaan Dr. Opan pada wayang dan lukis kaca ternyata membawanya pada sebuah naskah yang di dalamnya terdapat banyak simbol. Simbol-simbol inilah yang semakin meneguhkan sikapnya dan sekaligus menjejaki ramalan dari gurunya. Ramalan yang sudah didengar banyak orang ini bercerita tentang perubahan besar saat tiba masa “keturunan kesembilan”.

Dalam setiap tulisan dan ucapan Dr. Opan seringkali muncul pengetahuan yang tidak hanya kuat sisi tekstualitasnya tapi juga makna-makna yang tersirat di dalamnya. Makna itu beliau pungut dari pengalaman dan pengamatan terhadap laku hidup orang Cirebon. Baik dari karakteristik masyarakat, tradisi, kesenian, mata pencaharian, folklor, ramalan, bahkan mitos paling irasional sekalipun. Semua itu adalah bagian dari upayanya untuk mengungkap makna simbol dan menjelaskan masa lalu dengan lebih total.

Karena paradigma pengetahuannya itu, meski mengambil jalan akademik sebagai filolog, Dr. Opan tak pernah ragu mengais-ngais cerita-cerita kecil dari Cirebon, Indramayu, bahkan Majalengka. Saya pernah diajaknya keliling seharian Cirebon-Indramayu, dari Mertasinga, Krangkeng, Tugu, Sleman, hingga Bulak untuk menelusuri cerita-cerita dan bukti-bukti fisik perjalanan pelarian P. Suryanegara. Dr. Opan saya bonceng dengan motor, turun di tempat-tempat tertentu, mengamati, mewawancarai tokoh lokal, memotret, dan berupaya merasakan perjalanan Sang Pangeran.

Seharian itu, kami mendapat banyak sekali informasi-informasi baru. Ternyata sepanjang hidupnya, beliau sering melakukan perjalanan seperti itu. Mungkin inilah yang membuat Dr. Opan kaya sekaligus dermawan pengetahuan. Dia tak pernah merasa benar-benar memiliki pengetahuan-pengetahuan itu.

Tentu saja tidak semua orang cocok dengan jalan pengetahuannya. Katanya karena beliau tidak menyaring lagi informasi dari lapangan. Apakah itu rumor, mitos, atau benar-benar fakta sejarah. Pikirku, kadang kita perlu memahami sosok ini dengan perspektif yang berbeda.

Bagi saya, Dr. Opan adalah seorang pemakna. Kalaupun ingin menulis sejarah Cirebon (saat-saat terakhir dia sering mengatakan ini), beliau pasti akan menulis sejarah yang warna-warni. Dia akan berupaya untuk mengetahui “mentalitas” wong Cirebon, yang diasumsikannya tidak lekang dimakan zaman.

Cirebon bukanlah sebuah identitas tunggal dan final. Kalaupun identitas itu ada maka karakter yang muncul adalah kebudayaan dari suku dan bangsa lain. Tentu saja pengaruh yang terkuat adalah Jawa dan Sunda. Tapi di dalam Cirebon juga ada Arab, China, India, dan sebagainya.

Koleganya, Nurdin M. Noer, dalam Menusa Cerbon menyebut Cirebon seumpama purnama, cahayanya yang terang merupakan pantulan dari kebudayaan lainnya. Menurutnya, kebudayaan Cirebon adalah kebudayaan hybrid. Pendapat Nurdin ini sangat terpengaruh pemikiran P. Arya Carbon sebagaimana tertulis dalam Purwaka Caruban Nagari.

Untuk melihatnya lebih jelas, mari kita lihat lagi tawaran dari Lombard tentang tiga kelompok sosial-budaya besar di Jawa: pertama, Tanah Pasundan; kedua, tanah Jawa; dan ketiga, tanah Pesisir.

Cirebon berada pada kelompok tanah Pesisir yang secara kultural sangat berbeda dibandingkan Jawa dan Sunda. Kata Lombard lagi, sepanjang tanah pesisir itu, identitas Sunda atau Jawa cenderung melemah atau bahkan menghilang dan digantikan oleh sebuah kebudayaan yang jauh lebih kosmopolit.

Watak pesisiran yang terbuka dengan perbedaan inilah yang menjadi karakter paling kuat dari Cirebon. Ini juga yang menjadi watak dasar Nusantara: penerimaan terhadap orang-orang yang berbeda.

Sejauh pengetahuan saya yang terbatas, belum banyak tulisan tentang sejarah maupun seni Cirebon yang menggunakan perspektif mentalitas Cirebon yang kosmopolit ini. Saya lihat Dr. Opan sudah membukakan jalan serta rela menjadi jembatan bagi orang Cirebon dari berbagai kalangan untuk kembali menjadi manusia kosmopolit.

Beliau mempertemukan banyak orang dari berbagai kalangan untuk berjumpa. Perjumpaan adalah awal dari sebuah penerimaan terhadap perbedaan.

Meskipun demikian, perspektif kosmopolit itu tidak membuat Dr. Opan menjadi seorang kompromis ataupun pragmatis. Pada hal-hal tertentu dia tegas mengambil sikap, teguh pendirian, dan kadangkala terlalu idealis. Dia sangat keras melakukan pembelaan terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat riskan untuk karir dan profesinya sebagai akademisi.

Saya sering mendengar ungkapan hatinya bahwa dalam “suasana tidak baik”, seringkali ucapan dan pebuataannya disalahpahami, dipelintir, dan dimanfaatkan.

Apapun, jembatan itu telah membawa kita untuk menginsyafi mentalitas paling purba dari tanah Caruban. Jembatan itu membuat kita untuk melihat lebih jeli dan mendengar lebih peka terhadap setiap laku tradisi. Sehingga masa lalu tidak lagi menjadi sebuah monumen belaka. Bukan juga romantisme yang terus menerus diperah demi legitimasi kekuasaan elit tertentu.

Dr. Opan sudah melakukan tugasnya membawa kita menuju zaman baru yang lebih terbuka, kosmopolit, dan mawas diri. Tugas berikutnya masih menunggu untuk diselesaikan. Kehidupan masih akan terus berjalan. Selamat jalan Dr. Opan! Terima kasih. []

Pernah diterbitkan di HU Radar Cirebon (21 Mei 2021)