Kampung Toleran Rehobot: Meski Keyakinan Sulit Disatukan Namun Tali Saudara Yang Menyatukannya

0
1016

Oleh: Zaenal Abidin

Kampung Toleran Rehobot, sebuah wilayah di pedalaman Indramayu yang menyuguhkan potret harmoni ini patut diilhami bersama. Kampung toleran Rehobot terletak di sebuah Desa yang dikelilingi persawahan dan kebun yang ditanami Pohon Mangga, tepatnya di Desa Jaya Mulya Blok Rehobot Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

Kami rombongan pemuda penggerak moderasi beragama dari Cirebon bermaksud belajar hidup bersama dalam perbedaan di kampung toleran Rehobot pada hari Sabtu, 23 April 2022. Penyebutan Kampung Toleran Rehobot bukan tanpa sebab, sudah puluhan tahun mereka hidup harmonis terutama antara umat Islam dan umat Kristen. Mereka tak segan saling bekerjasama dan bahu membahu baik kegiatan sosial, budaya dan keagamaan.

Asal Mula Kampung Rehobot 

Rehobot berasal dari bahasa Ibrani (Rehovot) yang berarti sumur. Disebutkan dalam buku Sumber-Sumber Zending Tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963. Dahulu kampung ini didirikan sebagai desa Kristen yang disebut juga Tamiyang atau Haurgelis pada tahun 1913. Umat keristen semakin berkemban berdirilah Gereja Kristen Pasundan di wilayah ini bernama GKP Tamiyang Rehobot sekitar tahun 1942.

Menurut Parman tokoh rehobot, seiring berkembangnya waktu warga desa semakin banyak. tidak hanya penganut agama Kristen, namun pemeluk Islam juga mendiami desa ini. Terjadi interaksi kedua pemeluk ini, persaudaraan dipupuk melalui perkawinan antar pemeluk agama

yang berbeda disana. Di zaman reformasi ini kampung Rehobot salah satu dari Desa Jadi Mulya Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu.

Parman mengatakan asal muasal masyarakat Rehobot, pertama umat Kristen berasal dari keturunan Desa Juntikebon, Juntinyuat sementara masyarakat muslim berasal dari Desa Sudimampir, Balongan. Mereka tidak mempermasalahkan adanya perbedaan keyakinan dalam tubuh keluarganya, hubungan mereka juga diikat dengan tali pernikahan. 

Keharmonisan ini bukan tanpa rintangan. Pada tahun 1951 saat pemberontakan DI/TII, jemaat GKP Tamiyang tak luput dari serangan. Mereka mengalami penyerangan dimana Pdt. Usman Sarin ditembak mati dalam kerusuhan itu. Seakan tak mau berlama-lama dalam kesedihan dan kegetiran, lambat laun masyarakat Rehobot kembali melakukan aktivitasnya. Meskipun sampai saat ini masih ada ketersinggungan tapi masih dalam batas wajar.

Pihak gereja dengan legawa membolehkan pembangunan Masjid Nurul Huda di tanah zending yang berdampingan langsung dengan Gereja GKP Tamiyang sekira 50 meter saja. Masyarakatnya hidup berdampingan pemeluk Kristen dan Islam Gereja dan Masjid beriringan. Mereka saling bekerjasama dalam kegiatan sosial maupun budaya. Seperti Mapag Sri, Sedekah Bumi dan peringatan hari besar keagamaan misal kebaktian Natal maupun shalat Idul Fitri/Idul Adha. Tak segan di momen besar keagamaan itu mereka secara bergantian menjaga keamanan parkiran dan saling mengucapkan selamat hari raya sekaligus bersilaturahmi keliling rumah.

Tali Saudara Menjadi Kunci Kerukunan

Dalam satu atap hidup bersama dalam perbedaan keyakinan agama. Namun mereka tetap rukun karena tali saudara. Persaudaraan itu terjalin dari rahim hingga akhir hayat, kita bisa lihat dari areal pemakaman keduanya (Islam-Kristen) berdampingan.

Muhammad Amin, tokoh agama Islam mengatakan bagi masyarakat Rehobot untuk memisahkan rasa persaudaraan sulit dipisahkan, meskipun ia sadari bahwa keyakinan agama sulit untuk disatukan. PLT Kepala Desa Jadi Mulya 2017 itu menjelaskan dirinya memiliki 10 saudara dan 2 diantaranya non muslim.

“Kita sudah dewasa ketika berbicara keyakinan sulit disatukan, tapi untuk dipisahkan hubungan darah sulit. Makanya kita tetap rukun,” katanya. 

“Kita idul fitri yang Kristen kumpul ke kita. Begitupun hari Natal saya ucapkan selamat Natal. Termasuk kejadian duka. Saling mengunjungi. Tanpa Diundang saling membantu,” sambung DKM Mushola Abdul Isa itu. 

Sementara itu Darma Tokoh Agama Kristen menjelaskan toleransi antar umat beragama di Rehobot sudah ditanamkan sejak kecil. Namun ia menyenangkan ada beberapa oknum yang hendak merecoki keharmonisan warga dengan ceramah keagamaan yang kurang ramah dan konflik antar warga. Namun hal itu langsung bisa dibentengi dengan komunikasi yang baik antar warga bahkan ia menolak adanya pernyataan sikap untuk kerukunan yang menurutnya mereka sudah rukun sejak dulu.

“Ditanamkan toleransi dan rasa persatuan di Rehobot. Kami merasa aman dan dilindungi, Kristen mendapat berkah karena berdampingan dengan muslim,” terang Darma. 

Selain para tokoh agama, para pemudanya juga memiliki spirit yang sama. Misalnya Dea salah satu pemudi gereja yang sangat senang dengan kedatangan kami. Menurutnya bukan kali ini saja tamu datang ke Rehobot untuk berbincang seputar kerukunan di sini bisa saling belajar satu sama lain. Dea dan kawan-kawan mewakili pemuda desa untuk menjelaskan persahabatan mereka dengan pemuda lainnya di Rehobot.

Namun, ia masih menyayangkan di luar rehobot masih banyak yang belum terbuka soal perbedaan ini. Terkadang masalah kecil langsung menjadi pusat perhatian karena keyakinannya. Ia berharap kerukunan ini bisa terus terjaga dan memberikan inspirasi untuk yang lainnya.

“Mari saling menghargai, karena perbedaan itu pasti ada, pendapat mereka dan apa yang dilakukan harus toleransi. Tak lupa juga sling belajar dari perbedaan itu. Saya bangga karena bisa hidup rukun, dan memberi inspirasi kepada yang lain,” katanya.

Dari Kampung toleran Rehobot kita bisa belajar, betapapun kita hidup dalam satu wilayah dan satu atap yang sama perbedaan itu akan selalu ada. Namun yang dapat merajut perbedaan itu adalah tali persaudaraan, penghargaan satu sama lain dan saling belajar untuk tetap menghormati keyakinan. []