KETIDAKMENGERTIAN

Oleh: KH Husein Muhammad

0
4368
Potret Ibu Hj. Sinta Nuriah saat menghadiri undangan buka puasa bersama umat Konghucu di Jambi tahun 2013 silam. (Sumber:www.beritasatu.com)

“Mereka sedang merindukan kasih sayang seorang ibu, itu saja, tidak ada apa-apa,” demikian ujar Bu Sinta Nuriyah mengenai orang-orang yang memprotes acaranya di Semarang tempo hari. Aku mengatakan : “Betapa indahnya kata-kata ibu Sinta itu”.

“Ketidakmengertianlah yang membuat seseorang mudah menyalahkan, menuduh, mencacimaki dan menyakiti orang lain. Orang yang mengerti tidak akan melakukan itu semua. Maka ajarilah mereka agar mengerti”.

Aku mengingat lagi kisah di bawah ini:

Nabi merasa sunyi, sepi dan sendiri. Ia seakan-akan tidak lagi punya harapan untuk hidup aman dari ancaman dan penganiayaan kaum kafir Quraisy. Nabi merasa keadaan akan semakin kritis dan mengancam. Hatinya menjadi sangat sensitif. Tetapi beliau tetap tak hendak menghentikan langkahnya untuk mengajak masyarakatnya kepada agama Tauhid. Ia telah melihat Kebenaran yang dicari-carinya berbulan dengan kebeningan mata hatinya. Maka diputuskanlah untuk pergi ke Thaif dengan penuh harap di sana akan ada orang-orang yang akan melindungi dan menerima risalahnya.

Tetapi harapan itu sia-sia belaka. Nabi malah dikejar dan dilempari batu oleh anak-anak muda berandalan sampai bagian tubuhnya berlumuran darah. Untuk menghindari pengejaran mereka lebih lanjut, Nabi berlindung di sebuah kebun milik orang Yahudi, Utbah bin Rabi’ah. Mungkin sulit diterima akal sehat, jika orang kafir, pemilik kebun itu tidak menangkap Muhammad SAW untuk kemudian menyerahkannya kepada pemimpin kafir Quraisy di Makkah. Ia malah menyuruh Adas, pelayannya, seorang hamba-sahaya, untuk memberinya minum dan anggur serta memberinya perlindungan untuk sesaat. Ini tentu karena semata-mata pertolongan Allah belaka.

Sebuah kisah yang populer kemudian menyebutkan bahwa Malaikat Jibril melihat kejadian penganiayaan para pemuda tadi. Melihat kekasih Allah itu diperlakukan sedemikian rupa menghinakan, ia menawarkan bantuannya. “Jika engkau berkenan, O, Muhammad, kekasih Allah, aku akan jungkirbalikkan bumi ini dan menimpakan dua gunung ini ke atas punggung mereka yang terus melukaimu”, kata Jibril.

Dengan tenang Nabi SAW yang mulia itu menjawab tawaran Malaikat itu : “Oh, Tidak, Jangan lakukan itu, Jibril!. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang belum mengerti saja. Semoga Tuhan, memberi mereka petunjuk dan semoga kelak dari mereka akan lahir orang-orang yang meng-Esa-kan-Nya”.