Ketika Persoalan Perempuan Dibaca dari Perspektif Nurani

0
690

Nonton Bareng Film Pertaruhan

Pengantar Redaksi:

Fahmina-institute bekerja sama dengan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation pada 27-30 April 2009 mempersembahkan film dokumenter berjudul Pertaruhan. Film yang diputar di Grage 21 Cirebon ini pada launching hari pertama  (27/4) dilanjutkan dengan diskusi bersama Nia Dinata (produser), Ani Ema Susanti, Ucuk Agustin, Lucky Kuswandi (penulis dan sutradara) dan KH. Husein Muhammad, dengan moderator Alifatul Arifiati dari Fahmina-institute. Bincang-bincang dengan Nia Dinata dkk juga berlanjut dalam diskusi terbatas bersama mahasiswa, dosen ISIF dan staf Fahmina-institute di teras terbuka Fahmina.  Berikut catatan Alimah dan Nurul Huda SA dari acara tersebut. 

PERTARUHAN:

Ketika Persoalan Perempuan

Dibaca dari Perspektif Nurani

Diskusi bersama KH. Husein Muhammad (Ketua Dewan Kabijakan Fahmina Institute) dan Film Maker Film ini mengajak penonton untuk resah di lingkungan sekitarnya. Kian resah, kian peka, kian care, hingga berinisiatif melakukan pergerakan untuk kaum perempuan.

Film yang mengangkat sebuah wacana tentang perempuan dan hak atas tubuhnya adalah sesuatu yang berani dan jujur. Para subyek dalam film ini, juga membagi masalah kepada masyarakat untuk memahami apa yang terjadi pada tubuhnya dan bagaimana masyarakat memandang mereka.

Dalam Pertaruhan, dapat terlihat dan terasa bagaimana sebuah pertaruhan yang sebenarnya. Gambaran Pertaruhan yang biasanya selalu mencoba dibaca dari berbagai perspektif, namun film persembahan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation, ini mencoba mengajak penontonnya dari perspektif nurani. Demikian Nia Dinata, sang Produser, mencoba menjawab beragam tanya dari penonton.

”Kami sebagai movie maker, tentu saja berharap film ini dapat ditonton orang sebanyak-banyaknya, terlepas dari mereka memiliki perspektif atau tidak. Karena dalam hal ini kami berusaha untuk tidak meremehkan penonton. Karena di film ini juga kita memotret berdasarkan perspektif manusiawi saja dan hati nurani,” papar Nia mencoba menjawab pertanyaan sejumlah penonton di Studi 21 Grage Mall Kota Cirebon, pada Senin (27/4).

Nia juga menyebutkan sejumlah reaksi dari mereka yang telah menonton film tersebut. Dia meyaksikan sendiri pengalaman sejumlah penonton di Jakarta, Bandung dan Bogor. Menurutnya, para penonton yang sebagian besar remaja, usai menonton mereka buru-buru ingin menyapa Ibunya via telfon hanya untuk mengungkapkan betapa selama ini dia tidak terlalu memperhatikan pengorbanan ibunya.

”Mereka tidak punya perspektif, baik dari perspektif gender, sosial maupun agama, tapi mereka memberikan komentar. Artinya bahwa, yang mereka pakai adalah perspektif hati nurani, bukan dari perspektif gender dan lainnya, so just use it, ” tandas Nia.

Sementara KH. Husein Muhammad menyatakan bahwa film ini merupakan potret realitas sosial dan realitas seksualitas perempuan yang terdiskriminasi dan tersubordinasi dihadapan laki-laki. Persoalan sunat perempuan misalnya, yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Tetapi kalau kita membaca dengan cermat,  mayoritas madhab Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi  tegas menghukumi sunat perempuan dengan makrumatun (penghormatan).  Dalam film ini kata makrumatun dimaknai oleh Khuzaimah T.  Yango dengan hukum sunah. Tetapi Yusuf Qardhawi memaknai makrumatun dengan   yustahsanu ‘urfan (dianggap baik oleh tradisi), ini berbeda dengan makna sunah dalam hukum fiqh, terangnya.

Pada bulan Juni 2007 ada kejadian yang menghebohkan di Mesir. Seorang perempuan di sunat oleh dokter, lalu meninggal dunia. Mufti Mesir Ali Jum’ah, Syaikh Al-Azhar Thantawi, dan Ikatan Dokter Mesir merespon secara progresif dengan menyatakan bahwa khitan perempuan hukumnya haram. Di Indonesia Ikatan Dokter saat ini juga telah memberikan hukum yang setara dengan Mesir.

Masalah Pekerja Seks Komersial, KH. Husein Muhammad juga menjelaskan bahwa  langkah penetapan hukum secara fiqhiyah bukanlah penyelesaian. Ini adalah potret kemiskinan. Pemberangusan dan pengejaran bukanlah penyelesaian masalah. Karena para perempuan itu memperjuangkan kelangsungan hidup dan pendidikan bagi anak-anaknya. Agamawan mestinya kritis dalam melihat kasus-kasus semacam ini. Wilayah abu-abu tidak bisa dicermati secara hitam-putih.  Fakta seperti ini merupakan tantangan bagi semua agamawan, sekaligus yang paling mendasar adalah kritik dan bukti nyata kegagalan pemerintah dalam memberikan jaminan kesejahteraan bagi warga negaranya. Yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyediakan ruang ekonomi yang menyejahterakan bagi kaum perempuan.  

Perempuan Berbicara tentang Tubuhnya

Nonton Bareng

Film dokumenter di Indonesia masih berada di ranah pinggiran. Meski dari segi jumlah bisa jadi film documenter Indonesia lebih banyak dari film cerita, berbeda dengan film cerita yang telah mulai mendapatkan spot light, film dokumenter masih jauh dari berbagai segi seperti jumlah penonton yang dapat dijangkau, tempat eksebisinya yang sangat terbatas, coverage media dan perhatian publik yang minim.

“Hal ini terjadi karena salah satu alasannya, film dokumenter masih banyak diidentikkan dengan reportase investigatif. Memang kenyataannya banyak film dokumenter di Indonesia yang seperti itu, padahal cerita adalah unsur kekuatan dokumenter yang penting,” ujar Nia.

Melalui workshop film dokumenter Project Change! 2008, 24 pembuat film dokumenter diberikan pelatihan yang mengedepankan isu perempuan dan mengangkatnya dengan cara bercerita yang menarik. Empat pembuat film dokumenter yang terpilih lewat proses pitching dari workshop yang menjadi kerjasama antara Kalyana Shira Foundation, Dewan Kesenian Jakarta, dan The Body Shop itu kemudian difasilitasi untuk merealisasikan film mereka lewat bendera Kalyana Shira Films.

Tentu saja, film dokumenter ini berbeda dengan film dokumenter yang pernah ada. Film ini berusaha memfokuskan pada sisi protogonisnya, bukan seperti berita yang selalu mencoba melihat dari berbagai sisi.

Seperti kisah suram tentang khitan perempuan. Dalam tayangan tersebut, diperlihatkan sebatang silet dan seorang bayi berusia beberapa bulan. Lalu apa yang terjadi? Bayi yang usianya baru beberapa bulan itu terbaring di atas kasur dengan wajah polos. Sebatang silet berkilat tajam itu kemudian melakukan ”pekerjaannya”. Tak lama, bayi itu menjerit kencang. Tak butuh waktu lama untuk melakukan khitan. Namun khitan ini bukan untuk bayi lelaki. Si bayi kecil adalah perempuan.

Kisah suram tentang khitan perempuan ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Sebuah tradisi yang dianggap biasa saja. Sebuah tugas yang dibebankan atas nama agama dan kepercayaan. ”Sunat pada perempuan ada beberapa manfaat, antara lain supaya ia tidak liar dan selingkuh,” ungkap seorang tokoh agama dari sebuah desa di Indramayu, Jawa Barat.

Lalu, apa tujuan dari film tersebut? karya Iwan Setiawan dan M. Ichsan menjadi salah satu bagian dari empat film dokumenter yang tergabung dalam kompilasi berjudul At Stake (pertaruhan). Soal sunat-menyunat perempuan selama ini dianggap hal yang ”biasa”, meski ucapan tokoh agama itu sungguh mengejutkan. Keempat film ini mengutarakan persoalan politik dan wacana tubuh perem­puan di Indonesia. Kisah pertama tentang buruh migran Indonesia di Hong Kong. Di sana ada cerita me­ngenai keperawanan dan lesbianisme. Film ber­tajuk Mengusahakan Cinta ini menampilkan pergulatan masalah Wati dan Ryan.

Kisah kedua adalah permasalahan khitan perempuan. Pendekatan berbeda dilakukan oleh Iwan dan Ichsan. Bagian ini menggunakan beberapa narasumber yang pernah mengalami khitan ataupun para tokoh yang pro dan kontra mengenai tema ini.  Ini juga dibuat dengan menggunakan banyak lapisan.

Kisah ketiga berjudul Nona ­Nyonya karya Lucky Iswandi. Dalam kisah ini, ia menunjukkan bahwa diskriminasi dapat terjadi pada perempuan urban. Mereka yang masih memiliki status nona dan punya uang pun tak selalu mendapat akses untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya. Adapun kisah terakhir adalah tentang mereka yang kalah, perempuan miskin yang harus memecah batu pada siang hari dan melacur pada malam hari demi sedikit rupiah untuk buah hati. Film bertajuk Ragate Anak  ini dibesut oleh Ucu Agustin.

Pertaruhan yang menjadi judul antologi dokumenter ini, bercerita tentang isu perempuan lewat wacana tubuh perempuan. “Lima sutradara yang terpilih ini, lewat tema-tema soal mitos keperawanan, sunat perempuan, pekerja seks komersial dan diskriminasi dalam hak kesehatan reproduksi perempuan tidak menikah, dengan jeli membedah wacana soal tubuh perempuan dan diskriminasi terhadap perempuan lewat pendekatan dokumenter yang bercerita,” ujar Nia.

“Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Iwan Setiawan, M. Ichsan dan Ani Ema Susanti adalah para pembuat dokumenter yang sudah sewajarnya mendapat kesempatan agar karya mereka bisa diakses lebih luas. Oleh karena itu, kami melalui Kalyana Shira Foundation dan Kalyana Shira Films berupaya membawa hasil dokumenter ini ke tingkat yang berbeda dengan melakukan pemutaran perdana di JiFFest pada 8 Desember 2008, memutarkannya di bioskop layar lebar (meski karena keterbatasan dana, rilis film hanya dalam format digital), dan berbagai forum diskusi untuk membicarakan film dan isu film ini,” tambah Nia.

Membawa Pertaruhan ke level yang berbeda adalah sebuah tantangan yang juga dijawab oleh The Body Shop Indonesia. “The Body Shop Indonesia memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah perempuan dan kami melihat semangat dan visi yang sama lewat film Pertaruhan ini. Itu sebabnya kami bekerjasama dengan Kalyana Shira Foundation mensponsori workshop Project Change! 2008 dan juga mendukung promosi film Pertaruhan ini sebagai bagian dari Think Act Change sebagai kegiatan nyata dari kepedulian kami,” jelas Suzy Hutomo selaku CEO The Body Shop Indonesia.

“Antusiasme dan kerjasama berbagai pihak dalam project film dokumenter ini serta adanya jaringan bioskop yang mau memutarkan dokumenter ini menjadi bukti bahwa film dokumenter, dan khususnya kali ini dengan isu perempuan, memiliki kesempatan untuk bisa berkembang dengan baik,” imbuh Nia.

Rozikoh, penanggung jawab acara ini menyatakan, setelah launching hari pertama, pemutaran film masih akan dilanjutkan sampai tanggal 30 April 2009, setiap jam 09.30-11.30 di Grage 21. Karena persediaan tiket terbatas, bagi masyarakat yang ingin menyaksikan film ini bisa  segera menghubungi Fahmina-institute untuk mendapatkan tiket gratis, terang Rozikoh.[]