Kita tidak takut lawan persekusi (is;ustrasi/zen)

Oleh: Zahra Amin

“Orang mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Dan sebaik-baik kamu adalah dia yang berperilaku baik terhadap perempuan”. (Sunan Turmudzi).

Perilaku tak bermoral kembali ditunjukkan sekelompok oknum yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden melakukan persekusi terhadap seorang perempuan bernama Susi Ferawati yang pada saat bersamaan mengikuti Car Free Day di Jakarta, Minggu 29 April 2018, dengan memakai kaos #DiaSibukBekerja.

Massa mengintimidasi Susi beserta anak lelakinya yang masih berusia 5 tahun, dan menakut-nakutinya, mengibas-ngibaskan uang sebagai tanda saweran anggota aksi bayaran hingga dijejali makanan. Anaknya yang masih belia itu, spontan ketakutan dan menangis. Dengan penuh keberanian, Susi melawan dan meneriaki massa yang berjenis kelamin laki-laki semua, sehingga kerumunan massa berangsur-angsur menepi. Sampai hari ini, perbuatan yang tidak menyenangkan itu sudah diproses secara hukum atas laporan dari korban.

Pilihan boleh berbeda, namun tak boleh lagi saling menghujat penuh amarah, menghina dengan caci maki, atau puja puji tanpa bukti.

Dengan fakta yang terjadi beberapa hari yang lalu, seperti ada sesuatu yang mengusik nurani saya sebagai sesama perempuan. Tentu selain solidaritas atas nama perempuan atau yang lebih dikenal dengan istilah sisterhood, juga menimbulkan banyak kegelisahan bagi sebagian besar masyarakat. Akankah kekerasan dan tindakan barbar semacam itu akan terus dipertontonkan kepada publik?. Akar persoalannya apa, sehingga beberapa tahun belakangan ini, satu kelompok begitu massif terus menerus membuat teror dan ancaman, seolah Indonesia sudah bukan lagi negara yang aman untuk ditinggali.

(Baca artikel terkait: Kekerasan Atas Perempuan dan Ketidaksadaran Gender)

Tagar #Kita Tidak Takut pun mulai marak muncul dibeberapa lini media sosial, sebagai bentuk dukungan terhadap Susi Ferawati yang telah berani melakukan perlawanan, melindungi anak serta dirinya sendiri dari tindakan anarkisme. Selain itu juga untuk menyatakan protes terhadap siapapun yang berada dibelakang massa yang melakukan sikap amoral itu, sehingga menimbulkan keresahan yang tak berkesudahan. Akan dibawa kemana bangsa ini, jika masih saja  berhadap-hadapan, bukan untuk membangun peradaban dan memajukan Indonesia, tetapi malah saling sikut sana-sini dengan menghalalkan segala cara, dan mengabaikan sopan santun, etika, moralitas serta adat ketimuran yang selama ini dijunjung tinggi sebagai bagian dari ciri khas karakter watak rakyat nusantara.

Kekecewaan bagi mereka yang merasa kalah, tak lagi punya kesempatan untuk mendapatkan ruang eksistensi dan aktualisasi diri, sehingga dilampiaskan dengan bentuk kemarahan, kebencian hingga dendam yang tak berkesudahan.

Sehari setelah peristiwa intimidasi massa di Jakarta itu, saya berkesempatan bertemu dengan Ketua Yayasan Fahmina Cirebon KH. Husein Muhammad, atau yang akrab kami panggil Buya, untuk berbincang tentang fenomena kekerasan yang kerap terjadi di tanah air. Semakin hari bukan malah berkurang, namun bertambah meski dengan kronologis dan latar kejadian yang berbeda. Sedangkan pemicu dari semua itu adalah kekecewaan bagi mereka yang merasa kalah, tak lagi punya kesempatan untuk mendapatkan ruang eksistensi dan aktualisasi diri, sehingga dilampiaskan dengan bentuk kemarahan, kebencian hingga dendam yang tak berkesudahan.

Lalu pertanyaannya, siapa yang salah?. Disusul pertanyaan lainnya, dengan adanya persekusi dan intimidasi itu mengapa kita yang melihat ikut marah?, dan mengapa kita membalas dengan kemarahan pula. Buya menyimpulkan bahwa akar persoalan yang dihadapi bangsa ini adalah pola pendidikan yang salah sejak dini, karena selalu dijejali dengan metode indoktrinasi, tanpa proses berpikir kritis dengan pertanyaan “mengapa dan untuk apa sebuah pengetahuan atau peristiwa ada?”, itu karena agar bisa dipahami oleh akal budi manusia.

(Baca juga artikel terkait: Teologi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan)

Sehingga menurut penulis, massa yang pemahamannya dangkal akan mudah sekali disulut oleh api amarah, dan kebencian yang terus menerus dihembuskan, atau merasa paling benar sendiri, tanpa berpikir dengan akal sehat. Semisal sepotong informasi tentang mengapa ada #2019GantiPresiden dan #DiaSibukBekerja, lantas apa tujuannya?.

Maka yang patut menjadi renungan kita bersama adalah tentang tahun-tahun politik yang akan menghadang di depan mata, agar jangan sampai mengoyak-ngoyak kembali kebersamaan dan persaudaraan rakyat diseluruh negeri. pilihan boleh berbeda, namun tak boleh lagi saling menghujat penuh amarah, menghina dengan caci maki, atau puja puji tanpa bukti.

Nabi mengingatkan bahwa berbuat baik kepada perempuan menjadi syarat keimanan sekaligus indikator orang-orang yang terpilih. Perempuan ada untuk diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Bukan untuk direndahkan, dilecehkan, dan dipinggirkan, apalagi dijadikan korban kekerasan.

Kalimat “Kita Tidak Takut”, harus terus menerus kita suarakan, agar menjadi peringatan kepada siapa saja yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, biar tak semena-mena membuat kegaduhan dan pernyataan seolah Indonesia akan bubar di tahun  sekian dan sekian. Atau menjadi bentuk dukungan kita terhadap pemimpin yang  tengah dipercaya rakyat saat ini, untuk terus bekerja menyelesaikan semua janji yang telah diikrarkan 4 tahun yang lalu, hingga mampu dipertanggungjawabkan  pada akhir masa jabatan di tahun 2019 nanti.

Melalui hadits ini, Nabi mengingatkan bahwa berbuat baik kepada perempuan menjadi syarat keimanan sekaligus indikator orang-orang yang terpilih. Perempuan ada untuk diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Bukan untuk direndahkan, dilecehkan, dan dipinggirkan, apalagi dijadikan korban kekerasan. Setidaknya pada kejadian yang tidak menyenangkan terhadap Susi Ferawati telah memberi gambaran pada kita tentang apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana karakter dari pelaku kekerasan tersebut. Saya akan berdiri disamping Susi Ferawati dengan tegas mengatakan “Kita Tidak Takut”.

Terkait dengan peristiwa intimidasi massa atau persekusi terhadap seorang perempuan dan anak kecil, saya menutup tulisan dengan hadits Nabi  Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah RA, Rasululah SAW bersabda : “Orang mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Dan sebaik-baik kamu adalah dia yang berperilaku baik terhadap perempuan”. (Sunan Turmudzi).