Krisis Rasa Malu

Oleh: KH Husien Muhammad

0
988

Aku masih ingat dengan baik, meski tak ingat lagi tanggalnya. Suatu hari, sejumlah Kiai pengasuh Pesantren, berkumpul di sebuah pesantren di Yogyakarta untuk mengikuti halaqah (seminar). Temanya adalah “Demokrasi di Pesantren”. Halaqah dibuka oleh seorang Kiai/ulama kharismatik dan berpengaruh sekaligus pemimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia; Nahdlatul Ulama.

Dalam pidatonya ia mengatakan bahwa realitas Indonesia hari ini menunjukkan tingkat keterpurukan moralitas yang luar biasa, kehancuran akhlak yang sangat parah. Kasus-kasus perampasan hak milik orang lain (baca: korupsi) muncul secara masif dan fenomenal dan dilakukan oleh banyak orang dengan beragam indentitas, terutama mereka yang berada dalam jabatan struktural, pemerintahan. Demikian juga perilaku dan tindakan pelanggaran hukum, kekerasan atas nama agama atau moralitas dan sebagainya, hadir dalam keseharian masyarakat kita.

Menurut Kiai tersebut faktor utama dari semua itu adalah rendahnya atau hilangnya moralitas atau akhlaq ‘malu’. Beliau kemudian menyitir ucapan Nabi Muhammad saw:

عن أبي مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستح فاصنع ما شئت ) رواه البخاري .

“Di antara ucapan kenabian yang pertama adalah: jika kamu tidak lagi punya rasa malu, maka kerjakanlah apa saja semaumu” (hadits Sahih Bukhari). Ucapan Nabi dalam kasus ini tidaklah berarti perintah, anjuran atau perkenan Nabi kepada umatnya untuk melakukan apa saja sepanjang tidak malu. Akan tetapi ia adalah ungkapan kritik keras atas perilaku buruk. Dalam tradisi keilmuan di pesantren ia biasa disebut : Amar li al-Tahdid, perintah yang berarti memperingatkan agar jangan dilakukan, meskipun tidak malu.

Senada dengan hadits di atas, sebuah syair Arab menyatakan:

Jika engkau tiada peduli kehormatan diri
Tidak takut pada Tuhan
Tidak takut kepada orang lain
Silakan lakukan semaumu

Suatu hari Nabi pernah menyampaikan kepada para sahabat tentang pentingnya memiliki rasa malu kepada Allah.

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((استحيوا مِن الله حقَّ الحياء. قال: قلنا: يا رسول الله إنَّا لنستحيي، والحمد للَّه. قال: ليس ذاك، ولكنَّ الاستحياء مِن الله حقَّ الحياء: أن تحفظ الرَّأس وما وعى، وتحفظ البطن وما حوى، وتتذكَّر الموت والبِلَى، ومَن أراد الآخرة، ترك زينة الدُّنيا، فمَن فعل ذلك، فقد استحيا مِن الله حقَّ الحياء

“Milikilah rasa malu kepada Allah dengan sesungguhnya. Apakah kalian sudah punya rasa malu kepada Allah?, kata Nabi. Mereka spontan dan serentak menjawab: “kami, Alhamdulillah, sungguh-sungguh merasa malu kepada Allah”. Nabi mengerti apa yang dimaksud mereka. (mungkin seperti malu bicara karena tidak bisa atau malu kepada perempuan, dst.).

Nabi SAW segera menjelaskan apa yang dimaksudkannya: “Bukan begitu. Itu tidak cukup. Merasa malu kepada Allah adalah menjaga kepala (akal) dan pikiranmu (dari kecenderungan-kecenderungan yang buruk dan jahat), menjaga isi perut (dari memakan harta yang bukan hak miliknya), serta mengingat kematian dan kehancuran diri. Siapa yang menghendaki kebahagiaan diakhirat, dia meninggalkan kemegahan duniawi. Orang yang melakukan itu semua, dia benar-benar orang yang malu kepada Allah ”. (HR. Tirmizî dan Thabrânî).

Hadits yang lain menyebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: قال رسول الله: «الْحَيَاءُ وَالْإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ». رواه الحاكم وقال صحيح على شرط الشيخين، ووافقه الذهبي.

“Malu dan iman senantiasa bersama-sama. Apabila salah satunya hilang, maka hilanglah yang lainnya.

Maka, kata Kiyai, mengakhiri, upaya kita untuk mengatasi kerusakan sosial adalah menumbuh-kembangkan kembali akhlaq (moral dan budaya) ‘malu’ tersebut di tengah-tengah masyarakat. Ini adalah tugas utama para ulama.