Lintas Agama Peringati 1000 Hari Wafatnya Gus Dur

0
569

 

Bukan hanya di Jakarta, tapi peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur juga dirayakan masyarakat Cirebon yang tergabung dalam komunitas lintas agama dan Paguyuban Sholawat Akar Jati, Minggu (30/9).

Ketua Paguyuban Sholawat Akar Jati, KH Maman Imanulhaq Faqih, mengaku kagum terhadap sosok Gus Dur. Oleh karena itu, segala kebaikan dan dan pemikiran yang ada pada diri Gus Dur harus dicontoh oleh masyarakat Indonesia.

“dari peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur ini, ada beberapa hikmah yang perlu kita petik, terutama kaitannya dengan pluralism,” katanya.

Menurutnya, masalah pluralisme sudah semestinya dijunjung tinggi untuk menciptakan kedamaian antar umat beragama di Indonesia. Sehingga, tercipta Negara yang rukun dan tentram. “Indonesia ini berbeda tapi tetap satu,” sambungnya.

Selain pluralism, pria yang biasa disapa Kang Maman ini menyoroti soal pendidikan. Menurutnya, pendidikan bukan hanya sebatas pintar dalam intelektual. Namun, bagaimana pendidikan tersebut mampu berkarakter.

“jadi tidak hanya sebatas pintar dalam intelektual, tapi bisa berkarakter.” Ujarnya usai mengisi acara Peringatan 1000 Hari Wafatnya Gus Dur, Minggu (309)

Senada, disampaikan Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR RI Komisi IX ini mengatakan perlu adanya keadilan untuk masyarakat. Terutama bicara soal pendidikan, yang pada zaman Gus Dur sudah dianggarkan sebesar 20 persen.

“Negara sudah semestinya membebaskan pendidikan untuk warga. Sebab, Negara yang maju adalah Negara yang rakyatnya tanpa beban. Termasuk beban pendidikan yang semakin hari semakin melambung tinggi,” katanya.

Disamping itu, dia juga menanggapi sosok Gus Dur karena beberapa hal. Secara emosional, kata dia, Gus Dur adalah pembimbing politik baginya. Mengajarkan bagaimana patuh terhadap partai, santun dalam keberanian, dan jangan pernah takut memperjuangkan kebenaran.

Dikenal sebagai sosok yang fenomenal, Gus Dur patut dikenang. Rieke sendiri memandang sosok Gus Dur sebagai orang yang mampu mempertahankan Pancasila dalam arti sesungguhnya. Dalam praktik sehari-hari yang harus dijalankan. (sumber: Radar Cirebon edisi 1 Oktober 20120/ 15 Dzulqaidah 1433 H)