Sumber foto: nativepakistan.com

Di kota ini tiga belas tahun lamanya sang Nabi membangun fondasi sistem kemanusiaan universal. Dan Madinah adalah tempat peristirahatan beliau. Di sini selama 10 tahun beliau di atas fondasi tersebut berhasil mendirikan rumah/kota kemanusiaan yang dicita-citakannya.

Bulan Dzul Hijjah telah tiba. Kaum muslimin di seluruh dunia menyambutnya dengan suka cita. Bulan ini merupakan moment bersejarah di mana mereka akan melaksanakan kunjungan atau ziarah spiritual ke kota suci Makkah dan Madinah. Mengenang perjalanan spiritual bapak para Nabi, Ibrahim dan putranya : Ismail. Makkah adalah tempat kelahiran Nabi Muhammad saw, pembawa risalah Tuhan yang terakhir.

Di kota ini tiga belas tahun lamanya sang Nabi membangun fondasi sistem kemanusiaan universal. Dan Madinah adalah tempat peristirahatan beliau. Di sini selama 10 tahun beliau di atas fondasi tersebut berhasil mendirikan rumah/kota kemanusiaan yang dicita-citakannya. Ia menamai rumah itu al-Madinah al-Munawwaroh, yang bermakna kota yang bercahaya. Dari kota ini cahaya kemanusiaan menebar ke seluruh penjuru dunia dan menyelamatkan umat manusia dari sistem penindasan manusia atas manusia.

Sejak beberapa hari, Makkah, kota kelahiran Nabi itu menjadi kota paling sibuk di dunia. Lebih dari 2 juta manusia dari berbagai penjuru dunia, datang ke tempat ini. Mereka hadir memenuhi undangan Tuhan, menjadi tamu-Nya yang terhormat. Wajah mereka berbinar-binar, hati mereka diliputi cahaya Tuhan, di bawah taburan beribu cahaya lampu yang mengepung masjid yang dimuliakan Tuhan itu.

Mereka hadir sebagai hamba-hamba-Nya. Mereka sama di hadapan-Nya. Identitas-identitas sosial, budaya, politik, aliran-aliran, warna mata, kulit, gender, asal usul atau apapun yang dibanggakan, hilang, lenyap, sirna, sama sekali tak berguna. Menonjolkan diri dengan identitas-identitas itu adalah kesombongan dan menantang Tuhan, bagai Iblis. Mereka akan berjalan serentak menuju Kakbah, sebuah bangunan kubus. Tuhan menyebutnya rumah pertama yang dibangun di atas bumi. Ia disebut “al-Bait al-‘Atiq”, rumah kuno. Ia adalah “Bait Allah”, rumah Allah. Yakni rumah yang dimuliakan-Nya.

Ia sengaja dibangun sebagai symbol titik pusat rotasi kehidupan semesta. Ka’bah bagai matahari yang menjadi pusat tata surya yang dikelilingi oleh jutaan planet. Seluruh planet ini memeroleh pantulah dari cahaya mentari itu. Ini sesungguhnya hendak menggambarkan bahwa seluruh alam semesta, tak hanya manusia, tapi juga para Malaikat, berputar tak pernah berhenti mengitarinya, sambil menyenandungkan pujian dan memahasucikan Allah, Penciptanya. Seluruh alam semesta digerakkan oleh “Tangan” Tuhan dan memeroleh sinar dari Nur (Cahaya) Tuhan. Dialah “Nur ‘ala Nur”, Cahaya di atas cahaya.

Mereka akan thawaf, mengelilingi atau mengitari rumah Allah itu minimal 7 x. Boleh jadi angka 7 hanyalah simbol dari jumlah yang tak terhitung.
Thawaf adalah simbol perjuangan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, menyatukan pikiran, hati dan langkah dalam nuansa yang sepenuhnya pasrah kepada dan menuju ke satu titik dari mana mereka berasal dan ke mana pula mereka akan kembali. Titik itu tidak lain adalah Allah. Dia adalah Pusat Eksistensi (Wujud), kepada siapa seluruh alam semesta, termasuk manusia harus mengabdi dan menghambakan diri. Karena Dialah Pencipta, Pengatur dan Pemberi anugerah yang tak terbatas kepada ciptaan-Nya.

وَلِلهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً, وَظِلَا لُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Hanya kepada Allah-lah segala yang di langit dan di bumi, bersujud, dengan sukarela ataupun terpaksa. Bayang-bayang cahaya pagi dan petang, juga bersujud kepada-Nya”. (Q.S. al-Ra’d, [13]:15)