Membela Allah dengan Membela Hamba-Nya yang Dizalimi (zen)

Oleh: KH. Husein Muhammad

Masih soal membela Allah. Bagaimana membela Dia? Apanya yang dibela?. Di mana Dia?. Begitu pertanyaan teman bertubi-tubi. Aku menjawab singkat saja. Membela Allah adalah membela hamba-hamba-Nya yang dizalimi, yang menderita, yang sakit, lapar, yangkehausan, dan yang tertimpa musibah. Hal itu juga berlaku terhadap siapapun yang namanya hamba Allah.

Jika kita perhatikan Al Qur-an telah menyampaikan dengan pernyataan yang sangat menarik :

أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ * يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا * أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ * أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ * وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ * وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ * فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ * فَكُّ رَقَبَةٍ * أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ * يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ * أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ * ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ * أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ *

“Apakah manusia mengira bahwa sekali-kali tidak ada yang berkuasa atasnya?.Dia mengatakan : “aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya?. Bukankah Kami (Allah) telah memberikan kepadanya dua bola mata, lidah dan dua buah bibir?. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yang baik dan yang buruk). Maka tidakkah (sebaiknya dengan harta itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?.

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. Itu adalah membebaskan perbudakan, memberi makan kepada mereka yang lapar, kepada anak-anak yatim atau kepada orang miskin dan faqir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan tentang kesabaran dan saling berpesan tentang kasih sayang. Mereka adalah golongan orang-orang yang beruntung di sisi-Nya”.(Q.S. Al Balad, [90]: 5-18).

Pernyataan yang berupa pesan-pesan kemanusiaan yang serupa disampaikan Allah melalui hadits Qudsi yang terkenal. Yakni :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى. قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى. قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى. قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى ».صحيح مسلم

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi saw pernah bersabda; “Allah, pada hari kiamat mengatakan: ‘Wahai anak Adam, Aku sakit. Kamu tidak menjengukk-Ku”. Si hamba bertanya: “Bagaimana aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”. Allah menjawab: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Seandainya kamu menjenguknya pasti kamu temui Aku di sisinya”.

Dia bertanya lagi: “Hak anak Adam, aku lapar. Kamu tidak beri Aku makan”. Si hamba menjawab: “Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi makan Engkau, padahal Engkau adalah Tuhan alam semesta?”. Dia mengatakan: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri makan?. Seandainya kamu beri makan dia, niscaya kamu dapati Aku berada di sisinya”.

Allah bertanya lagi: “Hai anak Adam Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak beri Aku minum”. Si hamba menjawab : “Bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?. Allah mengatakan: “Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu tapi kamu tidak memberinya minum. Seandainya kamu beri dia minum, niscaya kamu akan mendapati dan menemui Aku di sisinya”. (Hadits Qudsi. Riwayat Imam Muslim).

Pada bagian hadits Qudsi yang lain disebutkan :

يا عبادى. انى حرمت الظلم على نفسى وجعلته بينكم محرما. فلا تظالموا

“Wahai hamba-hamba-Ku. Aku telah mengharamkan kezaliman atas Diri-Ku, dan Aku jadikan ia (kezaliman) dilakukan oleh kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi”.

Dari sini jelas Islam mengajarkan agar manusia, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama memberikan perhatian dan pertolongan kepada mereka yang ditimpa kesusahan, penderitaan dan kelaparan.