Mendidik Pemimpin dan Negarawan. (gambar istimewa)

Oleh: KH. Husein Muhammad

Kezaliman dan petaka di dunia ini dimulai dari sesuatu yang kecil. Tetapi orang-orang yang datang kemudian akan mengambil lebih besar dari pendahulunya.

Segenggam Garam

Sa’di Syirazi, penyair dan sastrawan terkemuka dari Persia, bercerita : Raja Anusyirwan yang adil itu, diiringi para pembantunya, suatu hari pergi berburu rusa di sebuah hutan. Ketika rusa diperoleh, ia meminta para punggawa menyembelih dan membuat sate.

Bumbu-bumbu kemudian disiapkan. Tetapi ada satu yang ketinggalan : garam. Raja meminta salah seorang di antara mereka mencari segenggam garam di rumah penduduk desa terdekat.

Sebelum dia berangkat, Raja berkata : “Belilah garam rakyat itu sesuai harganya. Kamu jangan membiasakan diri mengambil milik orang lain di kampungmu, mentang-mentang kamu pejabat kerajaan/negara. ika kamu melakukannya kampung/desa itu akan bangkrut dan miskin”.

Orang zalim memang tak ada yang kekal. Tapi kutukan atas kezaliman akan abadi

Si punggawa seketika heran : “Tuan raja, apakah yang salah bila aku ambil segenggam garam itu, seberapalah harga barang yang remeh temeh itu?”.

Dengan tenang Raja menjawab : “Kezaliman dan petaka di dunia ini dimulai dari sesuatu yang kecil. Tetapi orang-orang yang datang kemudian akan mengambil lebih besar dari pendahulunya. Jika Raja mengambil hanya segenggam garam, maka para pejabat akan merampas tanah sebahu,” tegasnya.

“Jika Raja mengambil sebiji apel dari kebun milik orang/rakyat, para pejabat akan mencabut pohon itu seakar-akarnya. Jika Raja membolehkan mengambil lima butir telor. Maka seribu ekor ayam akan menyusul dipanggang si pejabat. Orang zalim memang tak ada yang kekal. Tapi kutukan atas kezaliman akan abadi”. pungkas sang Raja.

Pemimpin Tuli yang Adil

Suatu hari seorang Darwisy (bijakbestari) menemui “Amir al-Mukminin (pelayan/pemimpin orang-orang beriman) di istananya. Ia sengaja diundang untuk dimintai nasehatnya. Di hadapan sang pemimpin ia mengatakan ; “Wahai Amir al-Mukminin, aku baru saja pulang dari mengembara dan mencari ilmu di negeri Cina, sebagaimana dianjurkan Nabi. Pemimpin negeri itu mengalami sakit pendengaran sehingga tuli. Ia tak bisa mendengar. Suatu hari aku mendengar dia menangis.

Ketika ditanya mengapa dia menangis, ia menjawab : “Demi Tuhan, aku tidak pernah menangisi ketulianku. Aku telah menerima keputusan Tuhan atas diriku ini. Tetapi aku menangis karena melihat di depan pintu istanaku ada rakyatku yang hatinya sakit, karena teraniaya hak-haknya.

Dia tampaknya menjerit meminta tolong, tetapi aku tidak mendengarnya. Meskipun demikian aku bersyukur kepada Tuhan karena mataku masih bisa melihat dengan jelas. Sang Pemimpin Cina itu lalu memanggil pembantunya dan memintanya untuk mengumumkan kepada khalayak rakyat bahwa :

أعلنوا في الناس : أن لا يلبس ثوباً أحمر إلا مظلوماً

“siapa saja di antara rakyatku yang dizalimi agar mengenakan baju merah”.

Sang Pemimpin kemudian naik di atas punggung gajah dan berkeliling menyusuri jalan-jalan di pelosok-pelosok negeri itu (blusukan). Manakala matanya melihat orang berbaju merah dia memanggilnya dan memintanya menceritakan nasib dirinya. Ia kemudian memerintahkan para menterinya untuk segera memperhatikan pengaduannya dan menyelesaikannya sesuai dengan hukum yang adil.

Si Darwis itu mengatakan: ”Lihatlah tuan Amir al-Mukminin, betapa dia yang “kafir” (menurut keyakinanmu. Red.) itu memberikan kasih sayang dan perhatiannya yang luar biasa kepada hamba-hamba Allah. Tuan adalah seorang yang beriman kepada-Nya, bahkan juga termasuk keturunan Nabi. Aku ingin melihat bagaimana tuan bisa bertindak terhadap rakyatmu dengan penuh kasih, (seperti dia)”.

Kisah ini diceritakan oleh Imam al-Ghazali dalam buku “Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk”.