MENELA'AH KAJIAN ISLAM KONTEMPORER

0
685

Sesi dawrah kali ini (10/12/06), diadakan di Gedung Pasca Sarjana STAIN Cirebon. Karena kendala-kendala tekhnis tertentu, kegiatan Dawrah di lingkungan STAIN baru pertama kali dapat diselenggarakan. Sebelumnya, kegiatan dawrah kader ulama lebih banyak difokuskan di pesantren-pesantren, seperti PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun dan PP. Kempek di kediaman KH. Utsman, dan Fahmina institute sendiri, mengingat program ini merupakan kerjasama antara PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun, P3I STAIN Cirebon dan Fahmina institute.

Sesi ini diawali dengan sambutan Dr. H.M. Imron Abdullah, M.Ag selaku Ketua STAIN Cirebon. Dalam sambutan yang cukup singkat itu, Imron mengulas perihal relasi pesantren dengan pengembangan kajian keIslaman kontemporer. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk melakuan pengembangan kajian keIslaman. Karena sebenarnya, sejak dini pesantren telah menanamkan benih-benih untuk kebutuhan tersebut, seperti kajian manthiq (ilmu logika), ushul fiqh, tafsir dan lainnya untuk bidang motodologi yang banyak diajarkan di pesantren. Dengan alasan inilah, wajar jika saat ini, ikon-ikon pembaharu pemikiran keIslaman di indonesia lekat dengan background pesantren, mulai dari Almarhum Cak Nur, Gus Dur, hingga ke generasi Ulil Abshar Abdalla (dkk.).

Selanjutnya, dawrah menghadirkan tiga pembicara dengan materi yang berbeda. Dimulai dengan kajian Syari’ah dan HAM (analisa pemikiran Abdullahi Ahmed an-Na’im tentang Dekonstruksi Syari’ah) oleh Prof. Dr. Adang Djumhur S, M.Ag (Asisten I Direktur Pascasarjana STAIN Cirebon). Adang menguraikan panjang lebar mengenai konsen An’Naim tentang Dekonstruski Syari’ah, terutama terkait konsep nasikh-mansukh yang mendekonstruksi pandangan umum sebelumnya dalam kajian ulum al-Qur’an. Intinya, bagaimana ayat-ayat Makkiyah (priode Mekkah) yang lebih bersifat humanis itu menasakh ayat-ayat Madaniyah (priode Madinah) yang terkesan bertentangan dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Langkah metodologis seperti ini sangat strategis melihat kebutuhan interaksi umat Islam dalam pergaulan dunia global yang mengedepankan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Karena bagaimanapun, Syari’ah (ajaran Islam) dan HAM tidak mungkin saling menegasikan.

Kemudian, diskusi dilanjutkan dengan materi Dakwah Modern, dalam perspektif sosiologis-antropologis disajikan oleh Prof. Dr. H. Abdullah Ali, MA (Guru Besar Sosiologi STAIN Cirebon). Dalam materi ini, Abdullah Ali mengilustrasikan bagaimana Dakwah saat ini tidak cukup terhenti pada seruan verbal saja, tapi harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dengan langkah-langkah terlibat secara langsung dalam pemberdayaan dan penyelesaian problematika masyarakat. Sebab itu, pertimbangan sosiologis-antropologis sangat diperlukan untuk mengenal kondisi masyarakat yang sebenarnya, agar dalam melangkah betul-betul tepat sasaran. Menurut pengelamannya, akhir-akhir ini masayarakat bawah sibuk dengan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan dasar mereka, tidak perlu ditambah lagi dengan provokasi-provokasi tak bermakna bagi mereka.

Pada bagian akhir, diskusi diteruskan dengan kajian Emansipasi Wanita menurut Qasim Amin oleh Dr. Jamali Sahrodi (Ketua Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana STAIN Cirebon). Makalah yang dibuatnya merupakan ringkasan dari desertasi yang pernah ia ajukan untuk keperluan studi doktroral. Menurut Jamali, pada masanya (abad ke 18) Qasim Amin bisa dibilang cukup fenomenal dalam mengusung pemikiran emansipasi perempuan ini. Berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi perempuan di negari-negara Islam yang berbeda dengan apa yang dilihatnya di Barat. Dimana perempuan telah memperoleh apresiasi hak-hak mereka, baik pendidikan, maupun sosial, politik dan budaya. Oleh karena itu, Qasim Amin menyerukan mengambil pelajaran terhadap apa yang terjadi terhadap perempuan-perempuan di Barat untuk diterapkan di negara-negara Islam. Walaupun menuai banyak kritik, diantaranya Qasim Amin pernah dituduh sangat pro-Barat, tapi kemudian pikirannya banyak menjadi inspirasi bagi pejuang maupun peminat kajian emansipasi perempuan di berbagai belahan dunia Islam.

Dalam keseluruan proses dawrah, peserta terlihat cukup aktif, melontarkan tanggapan maupun kritik terhadap para narasumber. Dengan demikian, suasana dinamis tampak sangat mewarnai proses jalannya diskusi dalam Dawrah Kader Ulama Pesantren, yang berakhir hingga pukul 16.30 Wib ini.[].