Meneladani Kepemimpinan Para Nabi

0
730

Warkah al-Basyar Vol. VIII Edisi 18 (05 Juni 2009 M./11 Jumadil Akhir 1430 H)

 

Indonesia adalah negerinya umat beragama dan warga muslimnya terbesar di dunia. Tetapi, entah mengapa, di tangan para pemeluknya, ajaran agama dan teks suci bagai tak punya gema. Dari waktu ke waktu, berbagai problem sosial-politik, kehidupan, dan kemanusiaan yang mendesak berlalu begitu saja. Ormas-ormas keagamaan dan parpol keagamaan yang tergolong besar bagai tak punya gigi.

Mereka tidak melakukan gerakan yang konkret menghadapi kezaliman kekuasaan, penindasan kaum bawah, korupsi, illegal log-ging, dan seterusnya. Alih-alih melakukan gerakan pembebasan, kaum beragama justru menjadi bagian arus besar yang membiarkan atau bahkan mendukung kezaliman kekuasaan.

Bangsa kita telah berada di ambang kebangkrutan dan kehancuran. Kapal kita telah hampir tenggelam karena sang nakoda tidak mampu menjalankan kemudi. Jika utang luar negeri kita yang menggunung tak terbayar, tidak mustahil Indonesia di masa depan akan dicaplok oleh negara lain.

Paradoks nusantara sedemikian me-nganga: kekayaan alam kita melimpah-ruah tetapi utang luar negeri kian menumpuk dan kemiskinan terus meluas. Dari waktu ke waktu, kehidupan rakyat bukan semakin baik dan mudah, melainkan semakin memburuk dan susah. Jangankan untuk biaya kesehatan, pendidikan, pakaian, dan perumahan, untuk makan pun rakyat semakin susah. Kasus gizi buruk dan busung lapar telah terjadi di berbagai pelosok tanah air. Jumlah anak kelaparan semakin banyak dan beberapa di antaranya meregang nyawa.   

Jika kita membuka lembar-lembar sejarah, sudah terlalu banyak contohnya dimana elit agama justru bersekongkol dengan elit politik dan elit ekonomi untuk tujuan-tujuan tertentu yang pragmatis dan profan. Para elit agama memanfaatkan umatnya untuk meraih harta dan jabatan. Hal ini sudah merupakan kenyataan yang lazim, bahkan di era mutakhir seperti sekarang.

Kita agaknya merindukan sosok-sosok seperti para Nabi yang punya kualitas kemanusiaan yang luar biasa yang kita harapkan mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang telah lama terpuruk, terus terpuruk, dan kini semakin terpuruk. Kita memang telah merdeka dari penjajahan Belanda, tetapi kini kita masuk perangkap imperialisme modern yang jauh lebih dahsyat, yakni penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara asing, khususnya Amerika Serikat dan kroni-kroninya. Kita adalah bangsa yang belum merdeka dan belum berdaulat, terutama secara ekonomi dan politik.

Misi Keagamaan Para Nabi

Salah satu misi penting yang diemban seorang Nabi adalah untuk mengguncang tatanan kehidupan yang merusak, tidak manusiawi, dan tidak beradab. Misalnya saja melawan segala bentuk ketimpangan so-sial-politik, entah berupa otoriterisme, tirani, kezaliman, penindasan, ketidakadilan, kekerasan, eksploitasi, perbudakan, pelanggar-an HAM, korupsi, dan sebagainya. Seorang Nabi muncul di tengah masyarakat untuk merespon problema sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Beliau memperjuangkan keadilan, cinta kasih, kesetaraan, kedamaian, kemakmuran, dan kemaslahatan.

Misi keagamaan untuk membuat kehidupan menjadi semakin baik, indah, dan cerah, sangat jelas bila kita simak dari sepak terjang para nabi yang jumlahnya sedemikian banyak, terutama pada diri empat sosok Nabi yang legendaris: Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Mereka berwatak “subversib”, yakni membongkar kemapanan, baik pada wilayah masyarakat maupun pemerintahan (kekuasaan). Mereka menebarkan nilai-nilai, mengajarkan keyakinan, dan memperjuangkan hal-hal yang dirasa lebih baik, lebih indah, dan lebih manusiawi. Mereka melakukan gerakan “pencerahan”. Salah satu bentuk perjuangan yang mereka lakukan adalah melawan para penguasa dan otoritas kekuasaan beserta kaki tangannya yang zalim dan tiranik. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi Musa melawan Raja Firaun, Nabi Isa melawan para penguasa Romawi, dan Nabi Muhammad melawan para penguasa Quraisy Makkah.

Para penguasa yang dilawan empat Nabi itu bertindak zalim kepada masyarakat kebanyakan, khususnya kaum jelata. Para penguasa itu tidak saja tamak dan memono-poli akses ekonomi, melainkan juga meng-eksploitasi, menindas, memperbudak, dan membinasakan rakyat lapis bawah. Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad mencoba menggalang kekuatan bersama rakyat kebanyakan untuk melawan otoritas kekuasaan yang zalim. Mereka bersatu dan berbaur dengan rakyat kebanyakan untuk memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan. Para Nabi tidak sungkan mengidentifikasi diri dan berjuang dengan kaum lapis bawah karena mereka sebenarnya juga berasal dari kelas rakyat kebanyakan

Nabi: Pemimpin Rakyat Jelata

Justru karena berasal dari golongan strata bawah, maka para Nabi tidak berjarak dengan rakyat lapis bawah. Tidak perlu ada “bunuh diri” kelas di sini. Nabi Ibrahim adalah seorang tukang batu, Nabi Musa adalah seorang penggembala, Nabi Isa adalah seorang tukang kayu, dan Nabi Muhammad adalah seorang buruh dan penggembala. Beberapa nabi yang lain juga sama, berasal dari kelas rakyat kebanyakan. Nabi Nuh adalah seorang guru dan tukang kayu, sementara Nabi Hud dan Syuaib adalah guru-guru yang miskin.

Namun, meskipun berasal dari golongan lapis bawah, para Nabi adalah sosok manusia yang punya karakter kuat: pemberani, jujur, bersih, teguh, dan pekerja keras. Lebih dari itu, tak diragukan, mereka adalah sosok-sosok yang progresif dan revolusioner. Mereka berhasil membongkar dan menjungkirbalikkan tatanan lama yang timpang dan menindas. Bersama dengan rakyat jelata, para Nabi mampu menggulingkan para penguasa dan otoritas kekuasaan yang zalim, korup, dan hegemonik.

Tetapi, perjuangan yang mereka lalui bukanlah hal yang sederhana. Para Nabi acapkali mengalami masa-masa yang gawat dan genting, jatuh-bangun, difitnah, diteror, dan berkali-kali terancam jiwanya. Saking beratnya tantangan yang mereka hadapi, beberapa nabi bahkan mengalami situasi keputusasaan sebelum akhirnya bangkit kembali dengan energi baru yang berlipat.

Para Nabi memimpin rakyat jelata, menggulingkan para penguasa zalim, dan membentuk tatanan baru yang adil, demokratis, setara, dan manusiawi. Para Nabi berjuang membela kaum tertindas (mustadh’afin). Dalam Al-Quran, Allah mengutus para nabi untuk melakukan perlawanan yang radikal kepada orang-orang yang kafir dan munafik. Orang kafir yang dimaksudkan di sini bukanlah orang yang secara formal tidak beragama Islam, melainkan orang-orang yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan acapkali bertindak zalim dan korup, meskipun dia beragama Islam sekali pun. Ayat Al-Quran yang dimaksud terdapat dalam surah Al-Taubah, (9) ayat 73, “Wahai para nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik, dan bersikaplah tegas terhadap mereka.”. Semoga kita bisa meniru kepemimpinan para Nabi. Amien.. []

 


Penulis adalah staf pengajar SMA Al-Mizan Majalengka, dan pengurus DKM AL-Mizan.