Mengajarkan Kesabaran

0
689

Ada banyak hal dalam agama (Islam), yang tidak bisa diajarkan dengan sekedar ceramah. Diantaranya adalah kesabaran. Ia tidak tepat hanya untuk diceramahkan. Semakin lama kita ceramah tentang sabar, justru para pendengar semakin habis kesabar-annya. Karena itu kesabaran tidak untuk diceramah-kan tetapi diprak-tikan. Tentu bukan hanya kesabaran, tetapi juga tawakkal, khusyu, amanah dan lain sebagainya.

Kita sangat sering mendengarkan uraian tentang sabar. Ternyata di dalam al-Qur’an, ada lebih dari 90 kali, perihal sabar ini difirmankan oleh Allah SWT. Sabar berkaitan dengan menahan diri, tidak menyerah, mengikuti alur dan ikhtiar. Bahkan surat al-‘Ashr menyejajarkan kesabaran dengan kebenaran sebagai muatan hidup saling asah, asih dan asuh.

Seorang ustadz muda gelisah, ketika ia merencanakan strategi pembelajaran tentang kesabaran. Ia sadar, kesabaran tidak cukup hanya diceramahkan. Penguasaan dalil tentang kesabaran tidak menjamin peserta didik dapat menjadi manusia yang sabar. Kegelisahan ini meningkat setelah ustadz diusulkan oleh yayasan tempatnya bekerja agar ia dikukuhkan sebagai pengelola sebuah pesantren cabang.

Sumber-sumber yang tersedia terasa terbatas, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan langka. Sang ustadz ini merasa sangat gelisah setelah tiga bulan ia bertempat di pesantren cabang yang dipercayakan kepadanya, rumusan yang dibutuhkannya belum juga selesai. Sesepuh pesantren menangkap kegelisahan sang ustadz.

Mulailah sang ustadz melakukan perjalanan ke Jawa. Nama para kiai dan pendidik tercatat rapih dalam agendanya berikut alamat masing-masing. Tidak kurang dari empat puluh orang ditemui dalam perjalanan hampir dua bulan itu. Semua itu dilakukan sebelum ia memutuskan menerima santri mukim di pesantrennya.

Kiai terakhir yang ditemuinya berprofesi sebagai petani. Semula tanah miliknya setengah hektar dan dua puluh tahun tahun berikutnya lebih dari dua hektar. Kiai yang petani ini juga memiliki sembilan kolam pembesaran ikan. Mempertimbangkan reputasi kiai ini, sang ustadz langsung mengajukan pertanyaan pokok tentang cara mengajarkan kesabaran. Pertanyaan sang ustadz tidak dijawabnya secara lisan.

Kiai mengajak sang ustadz ke kebun. Kiai meminta sang ustadz membawa keranjang. Di kebun, kiai memetik cabe, tomat dan kacang panjang. Sang ustadz mengikutinya sampai ia mendapati perbedaan mencolok antara sayuran di satu bedengan, yang tidak subur, dengan yang ditanam di bedengan-bedengan lainnya. Sang ustadz memperhatikan. Ia jongkok dan mengambil beberapa genggam tanah di bedengan yang tidak subur itu. Tidak puas dengan itu, ia mengambil sebilah bambu dan mencoba melihat bagian tanah yang lebih dalam.

Ternyata tempat itu adalah bekas timbunan sampah yang ditimbun lagi dengan tanah. Ustadz itu melihat pembusukan masih berlangsung. Panas dari fermentasi sampah mengganggu pertumbuhan sayuran di situ, pikir sang ustadz. Kiai memberi kesempatan padanya untuk mengamati. Hari berikutnya, sang ustadz diajak ke kolam. Pakan ikan sudah disiapkan. Kiai dan sang Ustadz asyik menjaring. Yang dipilih adalah ikan gurameh berukuran cukup besar. Mereka memasaknya di dapur. Ada yang digoreng dan ada pula yang ditumis.

Makan bersama keluarga kiai menjadi menyenangkan. Pelan-pelan sang ustadz merasakan perubahan dalam dirinya. Kiai tidak menyampaikan satu dalil pun selama beberapa kali kunjungan. Ustadz yang gelisah itu diajaknya melakukan sesuatu yang menyenangkan. Dan, inilah kesimpulan sang ustadz. Mengajarkan kesabaran dapat dilakukan dengan cara melibatkan peserta didik di dalam proses yang dipahami oleh peserta didik. Ia teringat kisah Nabi Musa AS. yang belajar dengan Nabi Khidir AS., karena media belajar yang digumuli tidak mendekatkan jalan pikiran kedua beliau, melainkan justru menjauhkannya.

Kita sering melihat anak-anak tidak sabar. Makanan tidak enak sedikit, langsung dikritik. Demikian pula dengan baju, celana, sepatu, kaos kaki, dan bahkan tata ruang kamar yang tidak sesuai di hati. Tidak jarang anak-anak semakin tidak sabar saat dinasihati. Sang ustadz melakukan eksperimen kecil. Beberapa anak sengaja diajak mencuci pakaian. Banyak sabun dan air terbuang. Sang ustadz menganggap bahwa untuk tahap awal, harga air dan sabun yang terbuang tidak seberapa dibandingkan dengan nilai kemampuan yang dikuasai anak.

Eksperimen dilanjutkan dengan media memasak telur mata sapi. Sembilan butir pecah sia-sia ditangan seorang anak kelas tiga SD. Lantai dapur basah, baru telur kesepuluh bisa masuk penggorengan. Anak itu pun riang sekali. Ia berhasil memasak sendiri lauk kesukaannya. Ia tidak dihukum karena kesalahan memecahkan sembilan telur sia-sia. Dapur pun dibersihkan bersama-sama. Ini tidak saja mengajari anak menggoreng telur, tetapi mendidiknya untuk bersabar.

Berproses bersama menjadi tahap penting dalam mengajarkan kesabaran. Dengan proses itu peserta didik memperoleh pengalaman. Pengalaman saja sesungguhnya tidak cukup, karena banyak orang yang berpengalaman tetapi hidupnya tidak semakin baik dari waktu ke waktu. Yang penting sesungguhnya pemaknaan atas pengalaman itu sendiri. Dengan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Dari proses itu Sang Ustadz memperoleh kesimpulan bahwa, untuk mengajarkan kesabaran dapat dilakukan dengan mengikutkan peserta didik dalam proses yang dipahami dan menambah pengalaman bermakna bagi hidupnya. Ini adalah kesimpulan berharga yang sangat bermanfaat bila dikaitkan dengan pembelajaran di masyarakat luas, yang sekarang ini karena ‘politisasi tertentu’ jadi mudah tidak sabaran dan gampang menyalahkan orang atau pihak lain.[] — Tulisan ini dimuat dalam Buletin Warkah al-Basyar Vol. VII Edisi 04 th 2008.


Penulis adalah Kiai dan Aktifis pemberdayaan masyarakat
yang sekarang mengelola Pesantren Al-Muayyad Windan, cabang Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta.

(Artikel ini dimuat dalam Warkah al-Basyar Vol. VII ed. 04 – tanggal 15 Februari 2008)