Hilyatul Auliya: Menjadi Support System Ulama Perempuan

0
95
Menjadi Support System Ulama Perempuan

Oleh: Hilyatul Auliya (Kader Ulama Permpuan Muda Jawa Barat)

Awalnya, ketika diajukan lalu kemudian mendapat undangan kegiatan Dawrah Kader Ulama Perempuan atau DKUP, jujur saya minder. Saya sama sekali tidak punya cita-cita untuk menjadi seorang ulama. Saya pun tidak memiliki tipikal seorang ulama. Kalau pun kemudian saya mengikuti kegiatan ini, lalu di kemudian hari harus mempertanggungjawabkannya dengan menjadi seorang ulama, bisa jadi saya memilih untuk mundur. Bayangan saya, ulama perempuan harus memiliki ilmu pengetahuan terutama pengetahuan agama, kepeduliaan dan kepekaan terhadap keadaan di sekitarnya, memberikan ceramah, mengisi majelis ta’lim atau majlis dzikir dan lain sebagainya. Sedangkan saya tidak memiliki bakat atau ketertarikan untuk menggeluti bidang tersebut.

Kemudian, pada saat pelaksanaan DKUP Muda 2021 saya menemukan satu kalimat yang membuat saya lebih percaya diri dalam mengikuti kegiatan ini, yaitu “Support System Ulama Perempuan”, artinya peserta DKUP Muda bukan hanya disiapkan untuk menjadi ulama perempuan saja, namun juga menjadi support system ulama perempuan, dengan mendukung dan mengawal setiap fikrah (pemikiran) maupun harakah (gerakan) para ulama perempuan baik yang dilakukan secara personal, kolektif ataupun massal.

Sebagai istilah yang mulai berkembang sejak Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama digelar pada tahun 2017, ulama perempuan tentu membutukan banyak dukungan dari setiap masyarakat yang ada di sekitarnya khususnya dari para perempuan itu sendiri. Bagaimana tidak, jika pemikiran dan gerakan para ulama perempuan justru malah ditentang oleh masyarakat perempuan yang lain, bagaimana pemikiran dan gerakan tersebut akan berhasil? Justru para ulama perempuan itu sedang membela sesama perempuan dan mengangkat hak-hak mereka. Jika sebagain para perempuan itu justru malah melemahkan para ulama perempuan, secara tidak langsung sesungguhnya mereka melemahkan diri mereka sendiri.

Saya juga, sedikit demi sedikit berupaya menjadi support system ulama perempuan. Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantern Babakan Ciwaringin Cirebon yang menjadi tempat saya belajar sejak SMP hingga kini, ada dua sosok ulama perempuan yang mengasuh, mengasih dan mengasah kehidupan kami sebagai santri. Beliau berdua adalah Ibunda Nyai Hj. Masriyah Amva dan Yayunda Nyai Hj. Awanillah Amva, pimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy yang menjadi tuan rumah Kongres Ulama Perempuan (KUPI) pada tahun 2017 lalu. Setelah pesantren ini ditinggal wafat oleh sosok pendiri dan pemimpin besarnya, yaitu KH. Muhammad dan KH. Asror Muhammad yang merupakan suami dari Ibunda Nyai Hj, Masriyah Amva dan Yayunda Nyai Hj. Awanillah Amva, beliau berdualah yang kini menjadi pengemban tongkat estafet kepemimpinan pesantren ini. Hal yang belum banyak terjadi di pesantren lain yang biasanya jika kiyainya wafat otomatis yang meneruskannya adalah kiyai lagi, ulama berjenis kelamin laki-laki, bukan perempuan.

Untuk menjadi support system beliau berduam, dukungan yang amat sangat sederhana adalah dengan melaksanakan perintah dan tidak menentang larangan yang telah para pengasuh buat untuk diberlakukan di pesantren ini. Dalam hubungan guru dan murid hal demikian tentu sudah sangat lumrah bahwa seorang murid harus taat terhadap setiap apa yang diperintahkan oleh gurunya karena itulah jalan dari futuh atau terbukanya ilmu si murid. Akan tetapi, tanpa disadari, dengan patuhnya kami kepada beliau berdua sesungguhnya menjadi support system beliau berdua dalam menjalankan roda kehidupan pesantren ini. Namun untuk menjaga perasaan kami agar selalu tulus dalam melakukan itu semua, para guru disini selalu mengingatkan kami agar jangan merasa memiliki peran atau jasa sekecil apapun dalam keberlangsungan pesantren ini, akan tetapi semua ketaatan kami terhadap perintah dan larangan di pesantren ini adalah wujud dari kasih sayang para pengasuh dalam membentuk mental dan jiwa kami agar menjadi manusia ruhani.

Dalam hal support system ulama perempuan di lingkungan Pondok Pesantren Kebon Jambu, saya memiliki pengalaman tersendiri, dan semoga pengalaman tersebut tidak menjadikan saya merasa memiliki peran di pesantren ini ataupun di mata para pengasuh. Karena sekali lagi, sesungguhnya pengalaman yang didapatkan merupakan wujud dari kasih sayang para pengasuh dalam membentuk pola pikir, mental dan jiwa saya dari yang tadinya tidak tahu apa-apa, sedikit demi sedikit menjadi tahu berbagai hal.

Aktifitas yang amat saya rasakan sebagai gerakan support system ulama perempuan adalah saat menemani Ibunda Nyai Hj. Masriyah Amva menghadiri berbagai webminar dengan berbagai macam tema. Sebetulnya sejak sebelum mengikuti DKUP pun saya sudah sering menemani Ibunda Nyai webminar dalam berbagai acara, menyiapkan berbagai peralatan webminar dan membantu menyiapkan materi yang akan beliau sampaikan. Namun setelah mengikuti DKUP, saya semakin yakin bahwa dengan mendampingi Ibunda Nyai dalam berbagai acara webminar, sesungguhnya saya hanya menjadi support system beliau, namun juga menjadi support system semua ulama perempuan.

Di posisi beliau saat ini yang menjadi pimpinan pesantren dengan jumlah santri yang hampir 2000 jiwa, tentu hal sepele seperti menyiapkan berbagai peralatan webminar bukan menjadi kewajiban beliau lagi. Yang lebih penting untuk beliau siapkan adalah materi webminar yang akan beliau sampaikan. Karena itu, sejak awal diundang menjadi pembicara dalam webmiar, sejak masa pandemi, beliau meminta saya untuk menyiapkan berbagai peralatan, mengingat jadwal acara, membantu menyiapkan materi yang akan disampaikan dan menemani selama webminar berlangsung.

Banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan hanya dari mendampingi Ibunda Nyai mengisi webminar. Pertama, saya yang semula tidak mengerti bagaimana cara menggunakan aplikasi Zoom akhirnya mau tidak mau harus mengerti dan memahami cara menggunakannya. Kemudian pengetahuan tersebut menjadi sangat penting karena sekatang, dimana pun acara seminar dan sejenisnya lebih banyak dilakukan secara online karena lebih praktis dan lebih efisien.

Kedua, saya dapat mendengarkan langsung materi yang Ibunda Nyai sampaikan dan juga yang disampaikan oleh narasumber yang lain. Jika mengikuti webminar tidak sambil mendampingi Ibunda Nyai, pasti ada saja tidak fokusnya. Tapi dengan mendampingi Ibunda Nyai, tentu saja saya harus benar-benar fokus terhadap pelaksanaan webminar. Belum lagi, di tengah-tengah webminar beliau kadang mengajak saya diskusi terkait materi yang beliau sampaikan. Awalnya tentu saya merasa cangung dan enggan. Siapalah saya berani menanggapi apa yang disampaikan oleh Ibunda Nyai. Namun beliau adalah sosok yang open minded kepada siapa saja, termasuk kepada para santrinya. Akhirnya semakin ke sini, saya terbiasa mendiskusikan berbagai hal yang beliau tanyakan langsung kepada saya.

Ketiga, tentu saja saya mendapatkan banyak berkah dari beliau. Berkah yang artinya adalah ziyadah al-khoir (bertambahnya kebaikan) amat saya rasakan selama saya nyantri ke beliau. Sebetulnya bukan hanya ketika menemani beliau webminar saja, tapi setiap ilmu, tugas, perintah dan lain sebagainya yang beliau berikan kepada saya adalah berkah. Kalau dari menemani beliau mengisi webminar, tentu yang paling utama adalah bertambahnya ilmu pengetahuan, baik dari materi yang disampaikan oleh beliau maupun yang disampaikan oleh narasumber yang lain. Berbagai tema yang sebetulnya malas untuk saya pelajari mau tidak mau harus saya ketahui jika Ibunda Nyai mengisi webminar dengan tema-tema tersebut.

Sebetulnya banyak sekali berkah yang saya dapatkan setelah saya sering mendampingi Ibunda Nyai dalam berbagai aktifitas. Selain menemani setiap acara webminar, yang paling besar pengaruhnya lagi bagi saya adalah mendampingi beliau menulis. Alhamdulillah, dua buku antologi puisi yang terakhir beliau terbitkan, sejak awal penulisan dan penyusunannya melibatkan saya sebagai juru ketik beliau.

Sekali lagi, untuk seorang tokoh sebesar beliau sudah banyak urusan lebih besar yang harus beliau selesaikan, sedangkan urusan mengetik naskah buku yang juga bisa dilakukan oleh orang lain, biasa beliau percayakan kepada satu-dua santri beliau, dan amat sangat beruntungnya saya menjadi salah satunya. Biasanya Ibunda Nyai akan menyerahkan naskah buku yang masih berupa tulisan tangan kepada saya untuk kemudian saya ketik. Setelah terkumpul cukup banyak beliau akan meminta saya untuk menemani dalam menyusun dan menyeleksi naskah yang telah saya ketik tersebut.

Berkah besar dalam mendampingi beliau menulis buku bagi saya adalah, saya pun berhasil menerbitkan sebuah buku berjudul “Santriwati Berbicara” pada tahun 2021 lalu. Awalnya saya merasa minder dan tidak percaya sendiri untuk menerbitkan naskah yang sebetulnya sudah saya kumpulkan sejak lama dan hanya saya posting di akun media sosial dan website seperti kebonjambu.org, mubadalah.id dan fahmina.or.id. Namun, atas dukungan dan dorongan dari Ibunda Nyai, saya pun akhirnya menerbitkan buku ini. Setelah buku ini terbit, saya pun tidak serta merta merasa atau menyadari kalau saya adalah seorang penulis hanya karena telah berhasil melahirkan sebuah buku. Saya pikir, penulis sejati adalah orang-orang yang konsisten menulis dan berkarya setiap waktu. Sedangkan saya harus mengumpulkan mood berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk menulis.

Namun lagi-lagi kegiatan DKUP menguatkan saya sebagai penulis. Dalam berbagai kegiatan DKUP selalu disampaikan bahwa pengalaman perempuan adalah pengetahuan yang amat sangat penting untuk diperhitungkan. Jika kemudian pengalaman tersebut dijadikan karya tulis dan dibaca oleh banyak orang, artinya perempuan tersebut sah menjadi sumber pengetahuan bagi mereka yang membaca karya tulisnya. Betapa selama ini ilmu pengetahuan lebih banyak bersumber dari laki-laki. Misalnya saja kitab kuning yang menjadi kajian wajib di pesantren hampir seluruhnya ditulis oleh ulama laki-laki, sehingga di dalamnya jarang sekali melibatkan perspektif perempuan. Karena itulah harus banyak perempuan yang menjadi penulis agar pengalaman, pengetahuan dan perspektif mereka dapat diakses dan diketahui oleh banyak orang.

Dukungan dan dorongan langsung dari Ibunda Nyai agar saya menerbitkan buku menjadi support system terbesar bagi saya. Dan memang, Ibunda Nyai selalu mensupport gerakan-gerakan kemajuan dan kebaikan para santrinya. Beliau senantiasa mendidik para santrinya agar menjadi orang yang bermanfaat dalam berbagai hal.

Menjadi support system ulama perempuan termasuk gerakan woman support woman jika yang mensupportnya juga adalah perempuan. Gerakan ini amat sangar penting, mengingat di luar sana masih banyak para ulama perempuan yang justri ditentang oleh sesama perempuan. Dengan woman support woman, para perempuan akan saling berjuang dan saling menguatkan. []