Menyegarkan Peradaban Islam

0
607

Islam datang bukan hanya membawa akidah dan syariah tetapi juga ilmu pengetahuan dan peradaban. Islam bila hanya didekati secara akidah dan syariah maka akan menjadi keras, tidak adaptif, dan menyalah-nyalahkan. Islam yang keras telah terbukti gagal. Islam berbudaya, berperadaban, berilmu pengetahuan nyata yang dapat diterima di mana-mana. Hal ini  dikemukakan KH. Prof. Dr. Said Aqil Siraj, MA, Ketua Umum Tanfidliyah PBNU saat memberikan kuliah pergerakan dalam rangka Peringatan Emas 50 Tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1960-2010) di Hotel Apita Green Cirebon, Minggu (9/5).

Menurut Said Aqil Siraj, Nabi Muhammad tidak pernah memproklamirkan negara arab, negara Islam, tetapi negara mutamaddin (negara berperadaban). Dalam negara mutamaddin semua orang diberikan kebebasan berekspresi, menyampaikan pendapat, termasuk dalam berkeyakinan. Setiap orang memiliki derajat sama, dan hanya orang dhalim yang yang menjadi musuh bersama. Di dalam teks penutup piagam Madinah tertulis,  Wala ‘udhwana illa ‘aladh dzalimin, Tidak dimusuhi kecuali orang yang dhalim, tidak berperadaban, tegas Kang Said Aqil.

Nabi Muhammad memberikan tauladan luar biasa agar kita semua berperadaban, terang  Kang Said. Setelah menikahi Maria Kibtiyah, kanjeng Nabi memberikan pesan kepada Umar bin Khatab. “Umar”, sabda Nabi Muhamad.  “Nanti Islam akan sampai ke Mesir. Aku berpesan, keluarga dari Maria Kibtiyah yang beragama Kristen Ortodoks jangan di ganggu, tradisinya, agamanya, dan juga peradabannya. Biarkan Mesir menjadi pusat Kristen Ortodoks.” Sampai sekarang Mesir menjadi pusat peradaban Kristen Ortodoks ini.

Kang Said, juga menguraikan tentang pesantren dan kitab kuning. Menurut Kang Said, setelah Islam menjadi kajian sangat serius bagi kaum  orientalis, umat Islam terbelah menjadi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang hanya mengakui bahwa Barat lah yang paling unggul. Pesantren, kitab kuning, kiai, dianggap sudah tidak zamannya, ketinggalan.  Kedua, kelompok yang tetap melakukan ritual keagamaan Islam tetapi alam pikirannya didominasi Barat. Kelompok yang mengaku dirinya reformis ini, alergi bila mendengar istilah taqlid. Ketiga, kelompok ekstrem juga, yang berpandangan segala hal dari Barat adalah salah dan harus dimusuhi. Dari kelompok inilah yang melahirkan berbagai kekerasan dan teroris.

Bagaimana orang NU mesti bersiakap?, tanya Kang Said. “NU tegas dengan jargonnya, almuhafadhatu alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah.” Bila perlu, lanjut Kang Said “wal ijadu bil jadidil ashlah”. Memelihara dari peradaban masa lalu yang baik, dan mengambil atau bahkan menciptakan sesuatu yang bagus di masa sekarang. Umat Islam harus tetap menjalankan prinsip Keislaman, silakan ambil yang baik dari Barat, terutama metodologi dalam studi, dan  tinggalkan yang tidak baik.

Misalnya, dalam kitab kuning yang kita miliki di pesantren, itu sudah sistematis, bagus, dan lengkap pada zamannya. Tetapi untuk konteks zaman sekarang harus diaktualisasikan, direvitalisasi, agar lebih sempurna dan sesuai zaman.  Jadi jangan kita tinggalkan kitab kuning karena kita akan kehilangan peradaban besar, kehilangan mata rantai keilmuwan pesantren. Tetapi kitab kuning jangan diabadikan menjadi jumud, dan mandeg, tutur Kiai asal Kempek Cirebon ini.

Diakhir orasinya, kang Said menegaskan, Pertama, NU menjadi garda depan  mempertahankan keragaman, anti sektarian. Bila ada yang berani menotak-atik, NU berada di garis paling depan untuk mempertahankan keyakinan ini. Kedua, NKRI, Pancasila, UUD 1945,  dan Bhineka Tunggal Ika merupakan Paradigma Original Komunitas NU yang bersifat final, tutup Kang Said, yang disambut tepuk  tangan meriah para peserta kuliah pergerakan ini. (hd)