Gus Mus

Oleh: KH Husein Muhammad

Hari ini saya berbahagia dan bersyukur ke hadirat Allah Swt. Seorang sahabat, Imam Muhtar, mengirimi naskah buku berisi rekaman pikiran-pikiran salah seorang tokoh besar dan penuh kharisma : K.H. Ahmad Mustafa Bisri, atau yang akrab dipanggil Gus Mus. Ia memberinya judul “Mereguk Mata Air Kebijaksanaan Gus Mus”. Pikiran-pikiran atau lebih patut disebut ajakan, saran, pesan, nasihat dan pencerahan Gus Mus tersebut dihimpun oleh penulisnya dari sejumlah ruang “mengaji” beliau di sejumlah “tempat”.

Adalah menarik, “tempat” bagi Gus Mus, bukan hanya ruang terbatas semacam pengajian di rumah, ceramah publik di atas panggung, atau diskusi di ruang-ruang terbatas. Gus Mus adalah seorang Kiyai millenial dengan seluruh maknanya : keren, gaul dan akrab teknologi digital. Beliau mengaji dengan memanfaatkan teknologi masa kini itu : facebook, tweeter, instagram dan lain-lain.

Gus Mus adalah seorang kiyai yang dadanya terbentang menerima pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat dan kebijaksanaan dari siapa pun dan dari manapun. Bagi beliau segala yang baik, bermanfaat dan mencerahkan pikiran dan hati adalah dari Allah. Betapa langkanya kiyai seperti Gus Mus ini. Saya sering menyebut beliau sebagai seorang “Alim Gharib”, alim yang aneh, asing, tak umum dan zuhud, sebagaimana teman karibnya yang telah pulang “Gus Dur”. Allah Yarhamuh.

Saya membaca lembar demi lembar buku itu, meski tidak seluruhnya. Aduhai. Semuanya adalah keindahan dan cahaya pengetahuan kemanusiaan yang dibutuhkan umat manusia dalam segala zaman dan semua ruang kehidupan. Gus Mus bicara tentang etika individu dan etika sosial dan kemanusiaan atau dalam bahasa yang lebih populer dalam masyarakat sebagai “Al-Akhlaq al-Karimah”, atau “Al-Ihsan”.

Kedua terma ini sesungguhnya menjadi inti dan puncak keberagamaan dalam Islam. Beberapa di antaranya tentang : “tawadhu'” (rendah hati), “Muhasabah al-Nafs”(memeriksa dan koreksi diri), “Al-Zuhd”(ugahari, tak berlebihan memikirkan hal-hal duniawi), memaafkan, kasih dan tidak merendahkan “liyan” dan sebagainya.

Hal yang menarik lainnya adalah pitutur-pitutur Gus Mus itu disampaikan dengan bahasa yang cair, akrab, kadang dalam bentuk dialog yang renyah dan kadang dengan gaya bercerita seperti cerpen atau novel, sesuatu yang menjadi keahliannya sebagai budayawan.

Pokoknya asyik. Dalam konteks kehidupan yang tengah berada dalam situasi moral yang menjelang runtuh, kecenderungan hedonistik, kerapuhan spiritual, kesalehan sosial rapuh dan keangkuhan diri yang akut, buku ini menjadi salah satu yang seharusnya dibaca publik luas. Semoga Allah menghadirkan banyak orang yang menulis buku yang mencerahkan akan dan spiritual seperti Gus Mus ini.

 

Tulisan ini merupakan Pengantar Buku berjudul Mereguk Mata Air Kebijaksanaan Gus Mus, Karya Imam Muhtar.