PEREMPUAN PERLU BERPOLITIK

0
607

Jakarta, Kompas – Dalam proses pembangunan bangsa seperti sekarang, perempuan perlu berpolitik. Demikian benang merah diskusi peringatan 10 Tahun Reformasi dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Rabu (21/5) di Jakarta.

Acara tersebut juga diisi peluncuran buku yang berjudul “Perempuan Ayo Berpolitik, Jadilah Pemimpin” karya Shelly Adelina dan “Advokasi Kebijakan Pro-Perempuan”karya Ratna Batara Munti.

Menurut Shelly Adelina, dalam bukunya, perempuan politikus Indonesia adalah kelompok yang kesulitan menyeberangi jurang kesetaraan. Sebab, dunia politik selama ini dianggap sebagai dunia kotor milik pria yang membuat perempuan tidak nyaman menekuni bidang itu.

Konstruksi sosial ini menakutkan dan meminggirkan perempuan sehingga politik lebih banyak diisi kepentingan dan cara pandang sangat maskulin. Yang lebih menyedihkan, rendahnya partisipasi perempuan di daerah selalu jadi alasan para elite parpol yang tidak bisa memenuhi kuota 30 persen keterwakilan politik perempuan.

Latifah Iskandar, anggota Fraksi PAN DPR, dan Ganjar Pranowo, anggota Fraksi PDI-P DPR, mengakui, selama ini proses kaderisasi perempuan di dalam partai politik masih belum berjalan dengan baik. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan dana pelatihan untuk sosialisasi pendidikan politik bagi perempuan yang jadi kader.

Ani Soetjipto, dosen Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia, menyatakan, peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional merupakan momen tepat untuk refleksi dan menjawab tantangan baru gerakan perempuan ke depan. (EVY)