PERMENUNGAN

0
768

Oleh: KH Husein Muhammad

Zaman Yang Gelisah

Aku acap merenung ketika malam larut dan sepi, kadang berkontempelasi dan membaca zaman yang berjalan dan yang pergi. Dalam permenungan itu aku membaca zaman yang gelisah, dunia galau, manusia-manusia yang ditelikung kecemasan, celoteh yang tak jelas dan kata-kata yang tumpang tindih, kemarahan, bising, gegap-gempita, simpang-siur, gemuruh berebut citra diri, dan pelampiasan segala hasrat untuk kenikmatan diri, perampasan hak milik orang lain, pemaksaan kehendak, menggali popularitas, pencitraan diri untuk kekuasaan dan pamer kekuatan. Begitu banyak Sengkuni di istana-istana. Ada orang-orang yang memandang semua orang seakan tak berharga, kecuali dirinya. 

Keseimbangan ruang sosial tampak sedang terganggu dan mencemaskan. Ini adalah realitas-realitas kehidupan yang terus bergerak begitu bebas bahkan liar dalam siklus-siklus kehidupan yang entah sampai kapan akan berakhir. Ia adalah produk zaman yang terserah orang ingin menamainya apa. Dunia manusia di hadapan kita sarat paradox, ambigu, ambivalen. 

Hari ini, paradoks kegelisahan manusia itu begitu nyata, menyeruak di setiap ruang. Pertarungan sedang berlangsung, nyaris bagai pada kisah Perang Baratayuda dalam legenda Mahabarata. Dan dalam kondisi itu Tuhan selalu menjadi senjata paling ampuh untuk mengalahkan yang lain, menjadi sumber kenikmatan dan tempat bersembunyi yang paling aman dan nyaman. Agama, di mana Tuhan selalu disebut di dalamnya, tampak bertambah amat penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan dan menyediakan harapan-harapan keindahan. Nama Tuhan Maha Agung dan Kudus disebut ramai-ramai, dalam hening, dalam lirih dan dalam gempita. Hampir di setiap ruang nama Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa diulang-ulang beratus dan beribu kali ketika malam telah larut, dan dalam gemuruh yang meluluhkan hati dan mengembangkan air mata bahagia dan mengharubiru.

Tetapi, betapa ironi, dalam waktu yang sama, di sudut lain, rumah-rumah tempat Tuhan dipuja dan diagungkan dirusak, para pemuja Tuhan diusir dengan pedang dan parang serta dipaksa mencabut keyakinannya, kadang hanya karena nama dan identitasnya yang tak sama. Perempuan-perempuan direndahkan, dibedakan, disingkirkan dan dihancurkan atas nama-Nya. Anak-anak dijajakan untuk segela kepentingan dan hasrat-hasrat paling rendah. 

Tuhan tak lagi menampakkan Wajah Lembut dan penuh Kasih, malahan menjadi begitu menakutkan, menyeramkan. Di jalan-jalan, hari ini, kata-kata Tuhan diteriakkan dengan garang : “Ini kata Tuhan. Kata-kata-Nya tak boleh ditentang. Siapa menentang kafir dan zalim. Karena itu ia wajib dimampuskan”. Semua orang ingin bicara atas nama Tuhan dan berebut mengaku paling mengerti Tuhan. 

Aku tertegun manakala membaca kata-kata seorang bijakbestari dalam sebuah buku: “Sejak dahulu manusia memanfaatkan agama untuk membantu mereka mencari pemahaman bahwa hidup kita mempunyai arti dan nilai hakiki meski ada bukti-bukti yang kontras yang tidak membesarkan hati”. Sang bijak-bestari itu di tempat lain mengatakan kata yang memukau sekaligus mengentakkan: “Mencari kebahagiaan dalam sesuatu yang fana dan tidak kekal hanyalah merupakan sesuatu yang tidak masuk akal”. 

Syams al-Din Muhammad al-Syahrzuri (w. 1288 M), pada pendahuluan bukunya “Nuzhah al-Arwah wa Raudhah al-Afrah fi Tarikh al-Hukama wa al-Falasifah”, memberi saya pengetahuan ketika ia mengatakan :

“Zaman telah sunyi senyap dari kehadiran para tokoh besar kemanusiaan. Umat manusia diliputi ketidakmengertian, kegalauan dan kebimbangan. Bila engkau seorang pelajar yang rajin dan pemikir yang memperoleh petunjuk Tuhan, seyogyanya mengikuti jejak mereka dan mencari-cari dengan serius kabar mereka”. 

Thabarani, seorang ahli hadits terkenal, menginfomasikan kepada kita pesan Nabi : 

“Hadiah paling indah adalah kata-kata bijakbestari. Seyogyanya orang yang beriman mendengarkannya, mengembuskan ke dalam jiwanya, kemudian membagikannya kepada saudaranya”.

Masa depan adalah harapan-harapan manis. Gus Dur berharap esok akan lahir Parikesit-Parikesit, putra Arjuna. Semoga umat manusia, Keluarga Tuhan, berbahagia. Mengutip Gus Mus : “Tahun 2016 (semoga) Selamat”. 

Mencari Cahaya 

Ada beribu tanya yang selalu menyertai dengan gelisah pada relung hati. Bagaimana sesungguhnya makna dari hidup dan berkehidupan ini? Hendak kemanakah akhir dari perjalanan hidup manusia ini?. Kita sedang di mana?, sedang apa?. Lalu bagaimana kelak?. Mengapa ada banyak penderitaan?. Mengapa tidak sedikit orang yang tak peduli pada pederitaan orang lain. Mengapa ada orang-orang yang menggunakan agama untuk menyakiti atau membuat derita orang lain, seagama maupun “liyan”. Apakah agama diturunkan untuk ini?. Lalu sebaiknya kita harus bagaimana?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengejar dan mengganggu pikiran. 

Aku mencari, menyusuri dan menjemput cahaya dari buku-buku yang ditulis manusia-manusia besar dalam sejarah dunia manusia, para genius spiritual, yang namanya abadi, yang terus disebut-sebut banyak orang di segala zaman, dan di banyak tempat, yang kata-katanya terus diperebutkan, diwiridkan, dikutip, serta dipuja-puji dan didoakan mereka. Mereka disebut banyak orang sebagai lampu-lampu atau lilin-lilin yang menerangi jalan. Beberapa di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib (w. 661 M), Abu al-Harits Al-Muhasibi (w. 875 M), Abu Yazid al-Bisthami (w. 877 M), Husein Manshur al-Hallaj (w. 922 M), Imam Abu Hanifah (w. 150), Imam Malik bin Anas, Imam al-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M), Ibnu Rusyd al-Hafid (w. 1198 M), Muhyi al-Din Ibn Arabi (w. 1240 M), Maulana Jalal al-Din al-Rumi (w. 1273 M), Fakhr al Din al-Razi (w. 1209 M), Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 1023 M), Abu al-Qasim al-Qusyairi ( w. 1073 M), Ibnu Athaillah al-Sakandari (w. 1258 M), Farid al-Din al-Athar (w. 1220 M), Abu Ishaq al-Syathibi (w. 1338 M). 

Sesekali aku membaca pula kisah orang besar lain yang juga mengabdi demi penderitaan orang lain. Mereka diikuti fatwa-fatwa dan nasehat-nasehatnya oleh banyak orang di dunia. Mereka antara lain Budha Sidarta Gautama, Socrates (w. 399 SM), Platon ( w. 347 SM), Aristoteles (3222 SM), untuk sekedar menyebut para bijak-bestari masa lalu. Atau Mahatma Gandhi, Daisaku Ikeda, Martin Luther King Jr, dan lain-lain. Lagi-lagi hanya menyebut beberapa saja. Boleh jadi akan banyak orang, teman-temanku yang mempertanyakan : “mengapa mengagumi orang-orang itu”?. Bukankah mereka bukan muslim ?. Aku memahaminya.

Lalu Naguib Mahfuz (w. 2006 M), Abdurrahman Badawi (w. 2002 M), Abdurrahman Wahid ( w. 2009), Sayyed Hosen Nasr, Annemarie Schimmel, Karen Armstrong, Nasr Hamid Abu Zaid dan Khalid Abou Fadl, untuk menyebut beberapa saja orang-orang besar hari ini. Ini juga mungkin dipersoalkan sejumlah orang. Mereka dianggap tokoh liberal.

Aku ingin mengatakan bahwa mereka semua yang disebut di atas adalah para cendekia sejati, para filusuf, para hukama, ‘Asyiqin” (Perindu) dan Ghuraba, yakni para pengembara di belantara raya manusia yang sanggup menempuh dan menghadang badai gurun pasir, kelaparan dan terkucil, demi cintanya kepada kehidupan manusia. Mereka berusaha mencari jalan bagi kehidupan bersama yang damai dan “menjadi”. Mereka adalah para ksatria yang hadir bagai kandil-kandil dalam gelap malam, yang terus hidup, menghidupi dan memberi makna intelektual dan spiritual kepada umat manusia dan yang selalu merindukan mereka. 

Di atas semuanya adalah Nabi Muhammad saw, kepada siapa manusia-manusia besar yang disebut di atas mengambil pikiran dan jalan hidup penuh cahaya. Dialah : Muhammad Saw, puncak dan pemimpin tertinggi kafilah para bijakbestari dan perindu itu. Dialah manusia Paripurna yang ruhnya telah ditiupkan sebelum Adam, meski tubuhnya hadir paling akhir. Dialah puncak cahaya. Dialah pula yang mengajarkan kepada umat manusia, termasuk aku, kata-kata Tuhan :

 “Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan siapa yang dianugerahi kebijaksanaan, dia berikan banyak sekali kebaikan”. 

Ada informasi bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan :

“Kebijaksanaan adalah sesuatu yang terlepas/hilang dari genggaman tangan orang-orang yang beriman. Mereka seharusnya mengambilnya ketika menemukannya kembali. Tak usah persoalkan dari manapun ia (kebijaksanaan itu) ditemukan”.

Dan Imam Ali bin Thalib, sang pintu ilmu pengetahuan, mengatakan :

“Istirahkan hatimu, dan carilah keindahan-keindahan dalam kata-kata bijak bestari. Hati seperti tubuh sering bosan dan lelah”.

Nah, dari para bijakbestari itulah aku memeroleh sedikit pengetahuan tentang kecerdasan, keindahan, kearifan dan cinta. Lalu aku memilih apa yang menurutku relevan dengan keperluan sesaat yang sedang aku hadapi sehari-hari. Aku bermenung sejenak, menghimpun nafas, untuk kemudian merefleksikannya melalui kata-kataku sendiri atau aku tulis kata-kata mereka yang aku suka. Ia sesungguhnya diniatkan untuk diriku sendiri, sembari menawarkannya kepada orang lain, bilamana mereka suka. Aku tak pernah ingin memaksa mereka menerimanya. Akal tak bisa menerima kebenaran yang dipaksakan. Pemaksaan tidak menghasilkan keyakinan, malahan ambivalensi. Kebenaran seyogyanya diikuti karena penerimaan dengan kesadaran yang tulus. Aku tak ingin menggurui mereka, sebab aku bukan guru. Aku hanya ingin menawarkan saja. Barangkali orang lain mau.

Akhirnya aku ingin hanya menjadi “abdun”, hamba Allah saja, bukan menjadi hamba bagi selain Dia. Dan kepada-Nyalah aku berserah diri. Aku begitu terkesan akan kata-kata filsuf Arab modern : Abd al-Rahman Badawi. Dia mengatakan di awal dan di akhir catatan hidup dan kehidupannya “Sirah Hayati” : “Bi al-Shadfah Ataitu Ila Hadza al-‘Alam wa bi al-Shadfah Sa Ughadir Hadza al-‘Alam. Secara tak aku pikirkan aku datang ke dunia ini, dan secara tak terpikirkan pula aku meninggalkannya”. Maksud dari kata-kata ini mungkin adalah bahwa kita ini diciptakan untuk menjadi ada dan dihadirkan, dan kita juga diciptakan untuk kelak tiada. Kita tak bisa menolak ketiadaan kita meski menghendaki untuk terus menjadi ada. Yang menciptakan ada atau tiada kita adalah Allah. 

Manakala aku merenungkan dan mengambi pelajaran, cahaya dan cinta putih dari para bijakbestari itu sangat terasa, betapa aku sering mengalami kedamaian dan kegembiraan. Jarang lelah.