Puasa momentum menahan diri dari bahaya lisan (zen)

Oleh: Zain Al Abid

Barang siapa banyak bicara dia akan keliru. Barang siapa banyak keliru maka banyak dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya maka neraka tempat yang utama

Fahmina.or.id– Puasa  sebagaimana kita tahu ialah kewajiban seorang muslim yang beriman untuk menahan diri dari lapar dan dahaga serta menahan diri dari nafsu syahwatnya. Dimulai dari terbit fajar, lalu diakhiri saat terbenamnya matahari. Selain tiga perkara tadi yang diwajibkan untuk ditahan ketika menjalani puasa kita juga patut menjaga diri dari bahaya lisan di antaranya banyak bicara.

Loh, ko, berbicara itu ditahan, dilarang? Bukankah berbiara itu diatur sebagai hak asasi masusia?

Tentu saja berbicara merupakan hak dasar manusia pun begitu berbicara itu tidak dilarang. Berbicara seperti apa yang dilarang dan harus ditahan terutama ketika berpuasa?

Seringkali kita tidak menyadari ucapan atau pembicaraan yang kita lontarkan akan merugikan diri atau orang lain. berbicara atau berucap menjadi hal yang serius dibahas oleh ulama besar asal Tus, iran. Imam Al Gazali.

Ya, saking pentingnya sang Imam membuat bahasan tersendiri dalam karyanya Kitab Ihya uUumuddin pada bab Afatullisan (bahaya lisan). Menurut Imam Al Gazali lidah atau lisan  yang mengucapkan kata-kata menjadi faktor utama terjadinya konflik baik pertengkaran ataupun tindakan-tindakan yang buruk melanggar hukum.

Ucapan tidak hanya berbentuk kata-kata yang keluar dari mulut namun hari ini mewujud dalam bentuk literal atau tulisan. Di internet dan media sesial khususnya, kita mendapati berbagai ujaran kebencian serta ungkapan yang merendahkan orang lain yag menyebabkan disitegrasi sosial yang berdampak di dunia nyata. Seperti maraknya berita bohong serta ujaran kebencian.

Baca juga artikel menarik: Menyebarkan Kebaikan atau Diam

Rupanya Imam Al Gazali juga mengalami masa-masa seperti saat ini  pada masanya, sehingga ia tergerak untuk menyusun sebuah kitab sebagai pegangan umat muslim agar terhindar dari Bahaya lidah atau kerugian-kerugian yang dapat menjerat manusia ke dalam lembah kekeliruan itu. slaah satu dari sekian banyak bahya lisan adalah banyak berbicara alias banyak ngomong.

Imam Al Gazali menganjurkan kita untuk menahan diri agar tidak banyak berbicara meskipun pada hal-hal yang mubah (tidak melanggar hukum). Ibnu Masud pernah mengatkan; “Jika kamu ingin berlama-lama di penjara maka berkata-katalah yang banyak.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa orang yang terlalu banyak berbicara berpotensi tergelincir ucapannya lalu akan berdampak pada kerugian dirinya diibaratkan seperti penjara.

Intensitas bicara seseorang juga akan menujukkan kadar keilmuan seseorang juga keimanan seseorang. Hal ini diterangkan oleh Imam Al Gazali yang mengatakan;

“Barang siapa banyak bicara dia akan keliru. Barang siapa banyak keliru maka banyak dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya maka neraka tempat yang utama”

Sebuah ibarat mengatakan, lidah seorang mukmin itu berada di belakang hatinya yang diartikan bahwa apabila seseorang itu ingin berbicara sesuatu, ia akan merenungkan terlebih dahulu. Apakah ucapannya bermanfaat atau tidak, membarikan kebaikan atau keburukan. Tidak asal bicara.

Sedangkan lidah seorang munafik itu berada di depan hatinya. Yang artinya apabila seseornag itu menginginkan sesuatu dia langsung  mengatakannya tapi tidak difikirkan terlebih dahulu efek, baik buruknya.

Maka dari itu memperbanyak bicara, ngobrol ngalor-ngidul, menggosip, ghibah, menggunjing orang, dan  yang lainnya. Meskipun pada hal-hal yang mubah sekalipun karena dapat berpotensi pada kekeliruan yang tidak disadari. Puasa Ramadhan menjadi momentum bagi kaum mukminin untuk bisa menjaga diri dari bahaya lisan.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghindarinya? Imam Al Gazali memberikan solusi terbaik yaitu apabila berkata-kata tidakmanfaat maka diam. Diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa tetapi dia berfikir dan bertafakur serta berdzikir. Bisa belajar, tadarus Al Quran, mengikuti majelis ilmu dan membaca. Karena seyogyanya seorang mukmin diamnya untuk berfikir, merenungkan dan mengambil pelajaran dan ucapannya hanyalah untuk berdzikir kepada Allah. Salamatan insan fi hifdzil lisan, keselamatan seseorang bergantung pada ucapan lisannya.()

.baca artikel menarikL Berbicara Bijak Ala Nabi