Revitalisasi Peran Kyai Kampung

0
23

Oleh: Marzuki Rais

Peran kyai kampung/kyai musholla yang dengan ikhlas mengawal pendidikan keagamaan masyarakat sekitarnya, harus lebih dikuatkan.

Pemerintah harus memperhatikan mereka. Karena merekalah garda depan dalam memberikan pemahaman agama kepada anak-anak dan masyarakat, sehingga memiliki bekal pemahaman agama yang½ toleran.

Minimal generasi Islam bisa mengenal agamanya sejak dini sebagai bekal ketika dia harus keluar daerah karena tuntutan ekonomi.

Dalam beberapa kasus terorisme, banyak diantara mereka yg tidak bisa baca tulis alqur’an. Pada waktu kecil mereka juga tidak pernah belajar agama kepada kyai maupun madrasah.

Namun seiring berjalannya waktu, dan karena kebutuhan ekonomi, mereka terpaksa keluar kampung dan pergi ke kota yang memberi pengharapan ekonomi kepada mereka.

Tanpa disadari disinilah mereka mulai terpapar paham teroris. Karena kebutuhan spiritualnya, di kota tersebut dia mulai ikut kajian di masjid/majlis.

Karena waktu di kampung tidak pernah ngaji kepada kyai, akhirnya dia tidak bisa memfilter pemahaman agama yang dia pelajari belakangan dari seorang ustad. Maka dia ikuti bahkan dianggap sebagai kebenaran agama. Padahal yang dia terima dari kajian yang disampaikan ustad tersebut pada akhirnya membawa dirinya pada kemadharatan.

Namun karena keawamannya, dia tidak paham kenapa dirinya ditangkap Densus 88. Dia hanya berpikir bahwa kajian yang diikutinya merupakan kajian yang benar. Padahal dalam kajian tersebut sang ustadz mendoktrin jamaahnya terkait alwala wal bara, khilafah ala minhajinnubuwah, darul kufri, alhakimiyah, jihad fisabilillah dan lain sebagainya.

Meskipun apa yang disampaikan ustadz tersebut tidak sesuai dengan apa yg pernah dia dengar sayup-sayup dalam ceramah yg disampaikan oleh kyai kampung, namun karena ketidaktahuannya terkait hal-hal tersebut, maka apa yg disampaikan ustadznya dia terima begitu saja. Akhirnya kemudian dia ditangkap Densus 88 karena dianggap sebagai jaringan teroris. Karena kebetulan diantara jamaahnya ada yg terlibat dalam aksi terorisme..

Paling tidak itulah yang dialami beberapa eks napiter atau narapidana teroris di wilayah III Cirebon. Dirinya tidak pernah menduga, kalau keterlibatannya dalam kajian di Kota tersebut akan membawanya pada ruang pengap tanpa cahaya di Lembaga Pemasyarakatan.

Selama 2 tahun dia harus berpisah dengan keluarganya yang dia cintai. Keberangkatannya ke kota juga karena demi keluarga. Namun siapa sangka, kalau keberangkatannya ke kota, justru menjerumuskannya pada jaringan teroris.

Padahal dia berpikir, sebagai muslim selama ini dia tidak mengerti tentang Islam. Karena waktu kecil dia juga tidak pernah ngaji ke kyai di musholla atau madrasah di kampung. Sehingga untuk memenuhi dahaga spiritualnya dia mulai belajar agama dengan mengikuti kajian yg ada di kota.

Namun kajian yang dia ikuti juga salah, yang justru mengantarkannya pada jaringan teroris.

Oleh karena itu, penting kiranya untuk kembali menggaungkan ngaji di mushollah/masjid/madrasah sejak dini. Orang tua juga hendaknya mengarahkan anaknya untuk ngaji kepada kyai di musholla/masjid pada maghrib dan subuh.

Pemerintah daerah (kab/kec/desa) hendaknya memperhatikan kebutuhan pembelajaran agama di musholla juga kesejahteraan kyai kampung. Meskipun kyai kampung ikhlas dalam mendidik tunas bangsa, namun mereka adalah pahlawan yang perlu diperhatikan pemerintah. Karena mereka juga telah membantu kerja-kerja pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan perdamaian dunia.
Wallahu a’lam. []