Seruan Islam Damai Ketua PBNU, KH. Masdar F Mas’udi

0
625
{mosimage}”Sekarang ini kita mesti rajin menyebarkan Islam sebagai agama damai dan rahmatan lil’ alamin. Karena belakangan muncul kecenderungan fundamentalisme dalam beragama, yang rajin mempromosikan kekerasan untuk berbagai kepentingannya. Kita mesti menekankan Islam yang ramah dan beradab di mata peradaban-peradaban yang lain”, demikian dikatakan KH. Masdar F. Mas’udi ketika memulai orasinya dalam acara Temu Akbar Alumni PMII Cirebon pada 28 Juni 2008 di Hotel Prima Jl. Siliwangi Kota Cirebon.

KH. Slamet Firdaus, ketua Ikatan Aluni PMII Cirebon, dalam sambutannya menyatakan ”Acara temu akbar alumni ini dilaksanakan untuk mengaktifkan kembali kegiatan alumni PMII. Sebenarnya alumni PMII itu sudah ada wadahnya, tinggal bagaimana mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat”. Acara ini dihadiri ratusan alumni, dari mulai angkatan 70-an sampai angkatan 2000-an. Dari mulai pendiri sampai pengurus PMII yang sekarang masih aktif.

Selain itu juga nampak hadir alumni-alumni PMII dari cabang-cabang lain. Seperti alumni PMII Yogya hadir Marzuki Wahid dan kawan-kawannya, alumni PMII Lirboyo, KH. Syarif Utsman Yahya, alumni PMII Semarang, Maksum Mochtar, alumni PMII Bandung dan lain-lainnya. Semua hadir dalam acara silaturrahmi yang penuh keakraban. Selain itu juga ada dari kalangan LSM dan Banom NU, seperti kawan-kawan Lakpesdam NU Cirebon dan juga ketua PC GP Anshor, Nuruzaman.  Dalam kesempatan istimewa ini panitia juga nampaknya menghadirkan narasumber istimewa, KH. Masdar F. Mas’udi, salah seorang intelektual dan ketua PBNU dan juga Direktur P3M Jakarta.

Dalam ceramahnya Masdar menyampaikan beberapa pokok pikiran yang terkait perkembangan aktual Islam di Indonesia. Mulai dari pentingnya mensosialisasikan Islam rahmatan lil ’alamin, posisi Islam di tengah peradaban dunia, Islam Indonesia yang berpotensi menjadi titik kebangkitan dunia,  sampai langkah-langkah solusi untuk kebangkitan kembali kaum muslimin moderat, seperti kaum nahdiyyin.

Terkait Islam rahmatan lil ’alamin, Masdar dengan tegas menyatakan bahwa Islam itu berasal dari kata salam yang artinya damai. Dalam hadits sangat jelas sekali, tidak perlu ditafsiri yang macem-macem. Al-muslimu man salima muslimin, min lisanihi wa yadihi. Orang Islam adalah orang yang dapat menjaga mulut dan tangannya untuk rasa damai pihak lain. Kalau sampai orang lain terluka dengan mulut dan tangan kita, berarti kita bukanlah orang muslim. Jadi, perdefinisi Islam adalah anti kekerasan.

Dalam menyikapi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok agama, Masdar berkomentar keras dengan mengutip sebuah hadits Rasul yang menyatakan, ”Abghadul ‘ibad ilallah man kana tsaubuhu khairon min amalihi, tshaubuhu tsaubal anbiya wa’amaluhu amalal jabbarin”. Artinya hamba yang paling dimurkai Allah, adalah jika pakainnya lebih baik dari amalnya, pakaiannya seperti pakaian Nabi tapi perilakunya seperti prilaku preman. Hamba yang demikian disebut abghadul ibad ilallah, hamba yang paling dimurkai Allah.

Masdar juga secara gamblang menjelaskan posisi umat Islam di tengah peradaban dunia. ”Di tengah peradaban dunia, posisi umat Islam paling terbelakang. Dalam posisi seperti ini, yang paling banyak menerima limbahnya adalah umat Islam. Jadi kalau kita melihat berbagai kekerasan tingkat global, yang diderita oleh bangsa-bangsa muslim, mulai dari Palestina, Libanon, Irak, Afganistan, dan sebentar lagi kemungkinan besar Iran, itu 50% sebabnya atau mungkin malah lebih sebabnya adalah kelemahan yang ada pada umat Islam sendiri. Bukan semata-mata karena kerakusan dan keangkaramurkaan dari pihak lain.”  Untuk itu ia menyarankan perlunya usaha keras untuk meningkatkan kwalitas umat, baik secara inidvidu maupun kebersamaan masyarakat Islam.

Dalam hal ini, dengan sedikit nada bombastis Masdar menyatakan bahwa sekarang ini satu-satunya negara yang mampu menjadi superpower dunia Islam, kiranya hanya Indonesia. Ini diantaranya karena Islam yang berkembang di Indonesia pada awalnya adalah Islam yang rendah hati dan mampu melihat ada orang yang berbeda keyakinan. ”Karena itu NKRI harus dipertahankan. Keutuhan NKRI bukan hanya kepentingan umat Islam Indonesia, tetapi juga kepentingan seluruh dunia Islam”, katanya dengan tegas

Untuk itu Masdar kemudian menawarkan beberapa langkah strategis ke depan, diantaranya adalah (1) Membenahi organisasi; (2) Melakuka upaya mengikis oegoisme dan membina kebersamaan; (3) Beragama bukan hanya verbal formalistik, tetapi juga bergama secara substantif dengan segala kearifan kemanusiaan.  

Mengakhiri orasinya, Masdar berpesan agar umat Islam bangkit dari keterpurukannya. Dengan nada meyakinkan ia menyatakan;  ”Saat ini saat yang baik untuk lahir kembali. Ibarat bangunan, umat Islam dan masyarakat Islam Indoneisa khususnya adalah bangunan runtuh. Membangun kembali bangunan yang runtuh, itu bisa menghadapi dua kemungkinan yang berbeda. Apakah keterpurukan menjadi kematian dan dikuburkan. Ataukah keterpurukan itu akan menjadi titik untuk kebangkitan. Tentu pada akhirnya, terserah kita semua”. (AM)