Untuk Pertama Kali, Perempuan Masuk Jajaran PBNU

0
171

JAKARTA, KOMPAS — Untuk pertama kali, perempuan masuk dalam jajaran struktural Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU. Hadirnya perempuan ini merupakan kebutuhan organisasi dalam merespons situasi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang mengumumkan jajaran PBNU itu, Rabu (12/1/2022), di Jakarta, mengatakan, peran dan pemikiran perempuan kian diperlukan di PBNU. Tokoh ulama perempuan senior yang masuk jajaran pengurus, antara lain, Nyai Hajjah Nafisah Sahal Mahfudz, Nyai Hajjah Sinta Nuriyah, dan Nyai Hajjah Mahfudah Ali Ubeid.

Ketiganya duduk di jajaran mustasyar (tokoh alim NU) bersama-sama dengan ulama lainnya, seperti KH Ma’ruf Amin, KH Mustofa Bisri, dan KH Said Aqil Siroj.

Selain itu, ada pula tokoh-tokoh perempuan NU yang mengetuai sejumlah bidang, seperti Alissa Qotrunnada Wahid yang akan memimpin bidang kerja sama internasional dan isu-isu kemanusiaan di PBNU, dan Khofifah Indar Parawansa yang membidangi pemberdayaan perempuan NU.

Munculnya tokoh-tokoh perempuan di dalam struktur kepengurusan PBNU ini, menurut Yahya, hanya soal waktu. Sejak awal, tidak pernah ada pembatasan terhadap pengurus perempuan di jajaran struktural PBNU.

”Ini sekarang kita masukkan karena kebutuhan mendesak, bahwa harus ada perempuan-perempuan yang ikut serta mengelola PBNU, karena ada masalah-masalah besar terkait dengan perempuan. Karena itu, kami mengajak tokoh-tokoh perempuan yang tangguh dan kuat di dalam kiprahnya selama ini,” ucapnya.

Tokoh seperti Khofifah, yang juga merupakan Gubernur Jawa Timur, menurut Yahya, sangat bisa diandalkan oleh PBNU untuk mengelola pemberdayaan perempuan. Adapun Alissa Wahid, yang juga putri pertama KH Abdurrahman Wahid, telah lama berkegiatan dan malang melintang di berbagai forum internasional. Kerja-kerja dan jaringan itu selanjutnya dapat diandalkan untuk mengelola pekerjaan-pekerjaan PBNU yang terkait dengan masalah kerja sama internasionl, serta isu-isu kemanusiaan.

”Terkait dengan masalah-masalah kemanusiaan, di dalamnya juga masalah perempuan sangat menonjol,” kata Yahya.

Terobosan penting

Menanggapi namanya di antara jajaran PBNU, Alissa Wahid mengatakan, hal tersebut merupakan terobosan yang sangat penting dalam perjalanan NU sebagai jamiyah. Sejak lama, perempuan selalu mendapatkan tempat atau ruang yang sangat besar di dalam kegiatan NU.

”Para Nyai itu tidak pernah hanya mengurusi Pak Kiai, tetapi juga mengurusi pondok putri, kegiatan pengajarannya sendiri, dan mengurusi berbagai kegiatan di ruang publik,” ucapnya.

Bergabungnya perempuan untuk pertama kali di dalam jajaran struktural PBNU ini, menurut Alissa, merupakan gerbang awal bagi kaum perempuan untuk memperbesar khidmatnya bagi NU, umat Islam, bangsa dan negara, serta peradaban dunia.

Khofifah yang mengikuti acara secara virtual mengatakan, sayap perempuan di NU sejak lama istikomah dalam melakukan kegiatan-kegiatan di PBNU.

Dalam situasi saat ini, Khofifah menilai semakin perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) perempuan NU. Utamanya di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

”Upaya penguatan ekonomi perempuan diperlukan dengan melakukan berbagai program penguatan perempuan, terutama di pedesaan. Adapun untuk pendidikan, perempuan juga memerlukan peningkatan pendidikan vokasi sebagai bagian pula dari upaya mendukung keberlangsungan ekonomi dan pendapatan mereka,” katanya.

Khofifah juga menggarisbawahi isu kesehatan yang sangat erat terkait dengan perempuan. Utamanya dalam penanganan stunting atau pelambatan pertumbuhan anak karena kekurangan gizi, yang saat ini menjadi salah satu fokus pemerintahan.

Pengurus ”gemuk”

Selain melibatkan perempuan, jajaran baru PBNU kali ini lebih gemuk, dengan sekitar 200 tokoh duduk sebagai pengurus. Menurut Yahya, jumlah pengurus yang gemuk ini dibutuhkan organisasi untuk mengatasi kerja-kerja PBNU yang semakin berat.

Selain itu, susunan pengurus kali ini juga ingin mewadahi realitas multipolar di lingkungan NU, baik dari sisi kedaerahan, jender, maupun orientasi politik.

Dari segi kedaerahan, semua daerah terwakili dalam kepengurusan kali ini. Demikian pula untuk orientasi politik, menurut Yahya, hadirnya Nusron Wahid sebagai salah satu Wakil Ketua Umum PBNU menunjukkan orientasi politiknya yang mewakili Golkar. Selain itu, ada pula tokoh-tokoh yang berasal dari partai politik lain, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

”Sebagaimana berkali-kali saya tegaskan, kami ingin mengambil jarak yang sama atau setara dengan berbagai sudut kepentingan politik. Kami melakukan itu dengan cara mengakomodaasi elemen-elemen kepentingan dari berbagai sudut kepentingan politik. Supaya nanti dalam kepengurusan itu bisa saling mengontorl dan menjaga jarak antara NU dan berbagai kepentingan politik lainnya tetap sama satu dengan yang lain,” kata mantan juru bicara Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.

Adapun posisi Sekretaris Jenderal PBNU kini dijabat oleh Saifullah Yusuf, yang saat ini menjabat Wali Kota Pasuruan, Jatim. Ditanya mengenai apakah dirinya akan mundur dari posisi wali kota setelah menjabat Sekjen PBNU, Saifullah enggan menjawab.

Yahya mengatakan, mengenai masalah rangkap jabatan di antara jajaran PBNU akan dibahas secara khusus di dalam rapat internal.

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengatakan, susunan kepengurusan NU yang besar ini diharapkan bisa merespons situasi umat, bangsa, dan peradaban dunia.

”Semoga NU Online periode ini menjadi sebuah organisasi yang bukan hanya besar secara organisasi, melainkan juga besar produk-produknya, besar pula kemaslahatan yang dibawa untuk kepentingan umat di Indonesia dan dunia,” ucapnya.

Sumber Tulisan :Kompas.id