Sabtu, 20 Juli 2024

Ahmad Komarudin: Toleransi Jalan Hidup Bersama di Tengah Kebhinekaan

Baca Juga

Penulis: Ahmad Komarudin

Editor: Zaenal Abidin

“Semenjak mengikuti program yang diadakan Fahmina Institute diri sendiri merasa lebih berani terbuka. Menyadarkan saya bahwa toleransi harus sepenuhnya dijaga karena kita hidup di negara yang dimana masyarakatnya dibebaskan dalam beragama.”

Perkenalkan nama lengkap saya Ahmad Komarudin, teman-teman akrab menyapa Omay. Saya berasal dari Ciledug Cirebon Timur seorang pemuda anggota Jemaat Ahmadiyah Cirebon. Sebagai seorang Ahmadi tidak mudah untuk bisa terbuka di tengah lingkungan yang tertutup bagi keberadaan kami. Namun pasangan itu tidak seluruhnya benar, banyak orang-orang yang begitu terbuka dengan perbedaan. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang dapat menerima saya dengan senyuman. Saya dikenalkan dengan berbagai komunitas yang berbeda latar belakang agama, ras dan lainnya yang digagas oleh Fahmina Institute.

Salah satunya pada acara peringatan Hari Toleransi Internasional. Pada acara ini kami semua lebih merasakan kedekatan yang lebih erat dengan sesama teman-teman dari kalangan umat beragama, dimana kita semua dapat mengunjungi rumah ibadah masing-masing umat beragama untuk lebih mengetahui bagaimana budaya atau kebiasaan yang dilakukan di masing-masing rumah ibadah umat beragama ini. Acaranya  sangat insightful dan fun. Semoga dari acara ini kita bisa lebih erat lagi sesuai dengan acara nya yaitu hari toleransi, dimana kita sebagai anak muda yang harus mengedepankan toleransi yaitu toleransi antar umat agama agar hidup di dunia rukun dan tentram tanpa melihat perbedaan apapun.

Kemudian saya juga berkesempatan menjadi peserta kegiatan Indonesia Perlu Anak Muda. Dimana acara ini juga very insightful, fun and dynamic. Anak muda dari berbagai kalangan dan komunitas dikumpulkan untuk sharing dan belajar dari banyak hal mulai dari isu-isu Toleransi dan sebagai nya, dimana kita lebih senang untuk sharing dan berpendapat banyak hal dari banyak sudut untuk problem solving bagaimana peran anak muda Indonesia dalam menghadapi kasus intoleran atau kesalahpahaman dalam memandang suatu agama/ras.

Alhamdulillah berkat program yang diadakan oleh Fahmina Institute ini, saya berubah banyak hal yang tadinya membatasi pertemanan karena tau diri saya seorang Ahmadi. Namun teman-teman yang saya temui dapat merangkul dan sangat hangat untuk bertegur sapa dengan saya. Yang tadinya sering dapat perlakuan yang tidak diinginkan, semenjak mengikuti program yang diadakan Fahmina Institute diri sendiri merasa lebih berani bahwa toleransi harus sepenuhnya dijaga karena kita hidup di negara yang dimana masyarakatnya dibebaskan dalam beragama.

Semoga program Fahmina Institute terus sustainable dan suksess. Good job Famina Institute, terus berdedikasi untuk banyak manusia dan masyarakat sekitar, jaya jaya jaya. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Pernyataan Sikap Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Atas Kejahatan Kemanusiaan Israel di Palestina

Bismillahirrahmaanirrahiim Menyikapi tindakan-tindakan genosida dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Zionis Isreal terhadap warga Palestina, yang terus bertubi-tubi dan tiada henti,...

Populer

Artikel Lainnya