Sumber Gambar: Internet

Dalam acara Kokosan (Kongkow-kongkow Kemisan) yang mendiskusikan buku, aku hadir. Pesertanya adalah para mahasiswa-mahasiswi Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) dan komunitas Lintas Keyakinan. Diskusi buku berlangsung di Padepokan Marzuki Wahid, yang berada di kawasan kampus ISIF.

Ketika aku datang, seorang mahasiswa : Devida, sedang mempresentasikan makalah hasil telaahnya atas buku “Etika Global dan Pluralisme” karya Hans Kung. Buku ini sangat popular. Isinya sangat relevan dalam konteks hari ini. Ia bicara soal konflik social. Agama disebut sebagai salah satu pemicunya. Dulu (mungkin masih terjadi sampai sekarang) ada kasus Poso. Sekarang banyak sekali contohnya. Ada banyak pertanyaan : Apakah benar agama menjadi salah satu pemicu konflik?.

Perdebatan begitu seru. Aku menikmati perdebatan anak-anak muda ini. “Ini tradisi Islam masa lalu di pusat-pusat peradaban Islam masa lalu : Baghdad, Damaskus, Cordoba, Granada, Kairo, dan Turki”, kataku dalam hati. Nah, tiba-tiba aku diberi kesempatan terakhir untuk bicara. Aku senang. Pertama-tama aku mengapresiasi Devida, pemakalah. Dia sudah mempresentasikannya dengan baik dan sedikir mengerti inti bukunya. Dan aku berharap dia terus membaca dan belajar bahasa Inggris.

Lalu aku mengatakan : isu ini selalu didiskusikan sepanjang zaman. Pada abad 20 perdebatan tema ini berlangsung antara Muhammad Abduh dan Farah Anton. Kedua tokoh besar dengan latar belakang agama yang berbeda ini bilang : Konflik social atau antar manusia, sejatinya tidak didasarkan atas agama. Dengan kata lain : Agama, semua agama, tidak dihadirkan untuk memusuhi orang, tidak untuk perang. Yang ada adalah orang menggunakan agama, atau mengatasnamakan agama dan atau moralitas. Agama, semua agama, justeru hadir untuk mewujudkan Kasih-Sayang dan Cinta.

Hans Kung mengajukan etika yang dianut agama-agama : “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukakan”. Ini disebut ethic of reciprocity. “Tabadul”, “Kesalingan”. Sekarang Karen Armstrong menggagas dan memimpin gerakan sekaligus mengkampanyekan : “Charter for Compassion”. Aku membacakan salah satu butir Charter ini : “Prinsip Kasih-Sayang yang bersemayam di lubuk hati setiap agama, kepercayaan, etika dan tradisi spiritual mengimbau kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan”.

Lalu jika konflik social /manusia bukan dari Agama, semua Agama, maka dari manakah ia berakar?. Aku menjawab dengan meringkas dialog antara Abduh dan Farah Anton dalam buku “Ibnu Rusyd wa Falsafatuh”.

Akar-akar konflik antar manusia :
1. Perebutan kekuasaan Politik dalam rangka penyeragaman kehendak diri (Al-Masail al-Siyasah li Takwin al-Wahdah). Ini berlangsung sepanjang zaman.
2. Ketakutan terhadap hal-hal baru (al-Khawf min al-Umur al-Jadidah)
3. Kebodohan yang mendominasi pada oknum-oknum penguasa (Istila’ al-jahalah ‘ala al-Hukumah)
4. Keyakinan penguasa yang tidak kokoh, ragu-ragu (‘Adam Tamakkun ‘Aqaid al-Hukkam min Qulubihim)
5. Paham Materialisme-pragmatis yang menyebar luas (Intisyar wa Istila’ al-Mabadi al-Madiyyah). Ini adalah musuh sebenarnya dari agama-agama : Islam, Nasrani, Yahudi, Budha dan lain-lain.
6. Egoisme dan Arogansi (al-Ananiyyah wa al-Takabbur)