Jumat, 11 Oktober 2019

Anak Muda harus Menghargai Perbedaan

Baca Juga

Ketua Pelita Perdamaian, Haryono mengajak anak muda untuk menghargai perbedaan, baik itu perbedaan suku, ras, dan agama sekalipun. Pasalnya, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

“Kuncinya adalah kita harus sering-sering komunikasi atau ngobrol satu sama lain dan Pelita menyediakan hal itu melalui pertemuan bulanan,” kata Haryono saat menyampaikan materi pada Pelatihan Kepemimpinan Anak Muda yang digelar Fahmina Institute di Kuningan.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan bulanan, Pelita mencoba mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang agama untuk saling komunikasi. Jadi Pelita memiliki ruang informal untuk sering bertatap muka dan berdiskusi satu sama lain.

“Nah untuk menghapus rasa curiga satu sama lain. Makanya kami adakan pertemuan bulanan ini,” imbuhnya.

Dalam pertemuan itu juga, lanjut dia, Pelita tidak mendiskusikan masalah teologis agama atau keyakinan. Namun Pelita mencoba mengajak anak muda untuk saling mengenal satu sama lain.

“Kalau mereka sudah saling mengenal, maka tidak ada lagi saling curiga,” tegasnya.

Termotivasi dari kiai

Alasan ia terlibat di Pelita, Haryono mengaku ia termotivasi dari seorang kiai di pesantren ketika mondok dulu. Sebab, ia melihat kiai itu memiliki teman seorang pendeta.

“Oh ternyata penting juga memahami perbedaan, dan masing-masing karakter agama. Jadi motivasinya itu dari pesantren, bahkan kiai saya mempraktikkannya,” ucapnya.

Modal

Sementara itu, Perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Cirebon, Tamim mengapresiasi kepada Fahmina Institute yang telah membuat pelatihan kepemimpinan gotong royong bagi anak muda. Sebab, pelatihan kepemimpinan anak muda ini merupakan modal untuk berkiprah di masyarakat.

“Kalau sudah belajar kepemimpinan, maka pengetahuan ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di desa masing-masing. Berangkat dari masalah itu adik-adik bisa melakukan inovasi-inovasi untuk memecahkan masalah,” harapnya. (WIN)

Sumber: Mubaadalahnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya