Jumat, 11 Oktober 2019

Anak Muda Miliki Potensi Promosikan Perdamaian dan Toleransi

Baca Juga

Fahmina Institute telah sukses mengadakan pelatihan kepemimpinan yang diikuti puluhan anak muda dari Kabupaten Cirebon dan Kuningan di salah satu hotel Kuningan, Jumat-Minggu, 2-4 Agustus 2019.

Direktur Fahmina Institute, Rosidin mengatakan, pelatihan kepemimpinan ini merupakan salah satu upaya Fahmina Institute dalam rangka mengkampanyekan isu-isu perdamaian dan toleransi kepada anak muda.

“Alasan kami memilih anak muda, karena mereka punya potensi untuk mempromosikan isu-isu perdamaian dan toleransi di lingkungannya masing-masing, entah itu di karang taruna atau organisasi kepemudaan,” kata Kang Rosidin.

Ia menjelaskan, pelatihan kepemimpinan ini dalam rangka untuk mengurangi angka kasus-kasus intoleransi di Wilayah 3 Cirebon. Cara dan upaya yang dilakukan tentunnya dengan inisiatif damai, yakni mempromosikan isu damai kepada anak muda.

“Harapan kami adalah elemen-elemen lain, khususnya anak muda bisa berkontribusi dalam isu perdamaian. Misalnya dengan dialog, bukan dengan cara intoleran lagi pendekatannya,” ujar Kang Rosidin.

Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon juga menilai kemungkinan besar 80 persen anak muda dipengaruhi media sosial (medsos). Jika melihat data Kementerian Informasi dan Komunikasi disebutkan bahwa medsos hari ini banyak dipengaruhi narasi negatif.

Pasalnya, lanjut dia, informasi hari ini banyak memuat konten-konten ujaran kebencian dan hoaks. Jadi informasi yang bertebaran itu mengarahkan orang atau kelompok untuk curiga, membenci, bahkan bertindak intoleran.

“Mungkin hal itu bisa mempengaruhi kita, terutama anak muda jika mereka tidak punya pengetahuan memilih dan memilah informasi-informasi mana berita hoaks dan juga ujaran kebencian,” tuturnya.

Kang Rosidin pun berharap pelatihan kepemimpinan ini anak muda tidak mudah terpengaruh, tapi mereka dapat berpikir secara sehat, sehingga tidak mudah membenci kelompok atau siapapun.

“Diharapkan anak muda ini juga dapat membuat dan menyebarkan konten narasi damai di medsos serta menjadi agen-agen perdamaian, baik di desa ataupun komunitasnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pelatihan kepemimpinan anak muda bertajuk “Anak Muda Membangun Kepemimpinan Gotong-royong Untuk Perdamaian dan Toleransi” ini difasilitasi dari perwakilan The Asian Muslim Action Network (AMAN)Indonesia, Ghufron dan Manager Islam dan Demokrasi Fahmina Institute, Alifatul Arifiati.

Selain itu, ada tiga narasumber yang telah mengisi pelatihan anak muda ini, yakni Kang Rosidin, Ketua Pelita Perdamaian, Haryono dan Koordinator Peace Leader Indonesia, Redy Saputro. (WIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya