Bahtsul Kitab : “Kitab Kuning , Pesantren dan Tarekat”

0
971

Sumber,-“Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”, karya Prof. Dr. Martin Van Bruinessen merupakan sebuah buku yang terbit pertama kali tahun 1995, setelah ia melakukan penelitian terhadap dunia pesantren khususnya di indonesia selama 8 tahun ( 19968-1976).

Kemudian sekarang setelah hampir 20 tahun ia bekerja sebagai seorang antropolog, buku ini diterbitkan ulang dengan edisi revisi oleh GadingPublishing. Inilah yang melatar belakangi ISIF, bekerjasama dengan NU. Kota, dan NU Kabupaten, serta yayasan LKiS Yogyakarta menggelar Bahtsul Kitab, Senin (29/04).

Bertempat di PC NU Kabupaten, di Sumber pada jam 1 siang yang dihadiri oleh khalayak umum, mahasiswa, santri, dan para tokoh agama. Diskusi dibuka oleh Ali Murtadho (Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon), dengan narasumber utama sang penulis buku Prof. Dr. Martin Van Bruinessen, serta Prof. Dr. H. A. Chozin Nasuha MA (Rektor ISIF), dan KH. Husein Muhammad (PP Dar Al-Tauhid Arjawinangun).

Menurut Martin, ia menulis buku ini didasari atas pertanyaan kaitan antara agama dan kemiskinan, dan sejauh mana kitab kuning mempengaruhi para ulama dalam kehidupannya, serta hubungan antara Tarekat yang ada di Kurdis (Turki, Iraq, Syria & Iran) dan di Indonesia. “penelitian ini dilakukan berdasarkan ketertarikan saya mempelajari Kitab Kuning, terutama terhadap kitab Tanwirul Qulub yang saya temukan di Bandung” ungkapnya

Kitab Kuning sebagai ciri utama dari pesantren, adalah salah satu khazanah intelektual para kyai dan santrinya, yang dipelajari sejak abad pertengahan hingga sekarang. “kitab kuning merupakan genealogi keilmuan yang dipakai di pesantren, baik kitab klasik ataupun modern, yang dianggap relevan dengan kondisi sekarang” ungkap seorang yang biasa dipanggil Buya Husein.

Penelitian terhadap dunia pesantren, dapat dilihat dari segi teks dan konteks, yang menggunakan studi antropologi budaya. “penelitian semacam ini bisa menggunakan studi antropologi, dengan mempelajari setiap aspek histori, linguistik, serta sosial & budayanya, atas pengetahuan sebagian untuk mengetahui sebagian yang lain” tegas Prof. Chozin.